Telset.id – Perang yang dipicu Amerika Serikat di Iran telah memicu krisis minyak terparah dalam sejarah, yang justru mendorong penjualan kendaraan listrik (EV) dan plug-in hybrid (PHEV) global mencatat rekor di 50 negara sepanjang kuartal kedua 2026. Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan bahwa harga bensin yang melonjak akibat perang tersebut menjadi katalis utama percepatan adopsi kendaraan elektrifikasi di berbagai belahan dunia.
Menurut laporan terbaru IEA yang dirilis Kamis lalu, konflik di Timur Tengah yang dimulai pada 28 Februari 2026 dan krisis energi yang menyertainya telah mengubah fokus dunia pada penggunaan minyak di sektor transportasi sebagai masalah keamanan energi utama. “Krisis ini jelas memperkuat argumen bahwa EV adalah cara untuk mengatasi masalah keamanan energi dan biaya bahan bakar,” demikian pernyataan resmi IEA dalam laporannya.
Lonjakan Penjualan EV di Tengah Perang Iran
Data IEA menunjukkan bahwa penjualan mobil listrik dan plug-in hybrid secara global menembus angka 9 juta unit pada paruh pertama tahun ini, dengan lebih dari 5 juta unit terjual hanya dalam kuartal kedua. Pencapaian ini terjadi di tengah penurunan penjualan mobil secara keseluruhan yang mencapai 5% year-over-year pada periode yang sama.
IEA menggambarkan guncangan minyak saat ini sebagai “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah”. Menariknya, alih-alih memperlambat transisi energi, krisis ini justru membuat banyak negara semakin serius menggenjot elektrifikasi kendaraan mereka. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak menjadi pihak yang paling agresif dalam mendorong adopsi EV.
Australia, India, Brasil, Korea Selatan, dan Vietnam mencatatkan lonjakan penjualan kendaraan plug-in hingga dua kali lipat antara Maret dan Juni dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa krisis energi justru mempercepat transformasi industri otomotif global.
Baca Juga:
Kebijakan Pro-EV Negara-Negara Dunia
Berbagai negara merespons krisis ini dengan kebijakan yang semakin pro-EV. Australia memperkuat insentif penjualan kendaraan plug-in dan mempercepat program pengisian daya di tepi jalan pada Mei lalu. Thailand memperkenalkan program pinjaman baru untuk pembelian kendaraan bertenaga baterai pada April, sementara Vietnam memperpanjang tarif pajak yang lebih rendah untuk model plug-in hingga 2030.
Prancis hampir menggandakan pendanaan publiknya untuk elektrifikasi, dan Spanyol memperpanjang pengurangan pajak untuk pembelian EV dan pemasangan pengisi daya. Menurut IEA, puluhan negara di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin telah memperluas insentif yang ada atau memperkenalkan kebijakan baru sejak perang dimulai untuk mendorong elektrifikasi.
Dengan dorongan ini, IEA kini memperkirakan kendaraan plug-in akan menyumbang 29% dari total penjualan mobil baru, naik dari estimasi sebelumnya yang sebesar 28%. Angka ini menunjukkan bahwa target transisi energi di sektor transportasi justru semakin dekat di tengah krisis.
Kontras dengan Pasar AS dan China
Lonjakan ini menjadi semakin mencolok karena terjadi di tengah penurunan penjualan di dua pasar otomotif terbesar dunia. Di China, penjualan kendaraan secara keseluruhan turun 20% pada paruh pertama tahun ini, sementara penjualan kendaraan energi baru (NEV) yang mencakup EV dan PHEV juga menurun meski dengan margin yang lebih kecil akibat pengurangan subsidi.
Sementara itu, Amerika Serikat justru mengalami kemunduran dalam adopsi EV. Setelah pemerintahan Trump menghapus kredit pajak federal untuk EV tahun lalu dan mengurangi penalti terkait standar efisiensi bahan bakar menjadi nol, para pembuat mobil memiliki lebih sedikit insentif untuk memprioritaskan EV dibandingkan mobil bensin. Alhasil, penjualan EV di AS turun signifikan dibandingkan tahun lalu, meskipun penjualan kuartal kedua mencapai level tertinggi sejak kredit pajak berakhir.
Kondisi ini menunjukkan bahwa negara-negara lain justru semakin bergerak maju tanpa AS dalam hal adopsi EV. Ironisnya, krisis minyak yang dipicu oleh AS sendiri justru memperlebar kesenjangan tersebut. Sementara itu, dinamika geopolitik yang kompleks juga memengaruhi berbagai sektor teknologi, termasuk persaingan kecerdasan buatan yang semakin memanas di tingkat global.
Kuartal kedua yang kuat hampir menghapus penurunan penjualan pada kuartal pertama, meninggalkan EV dan PHEV dengan pangsa pasar 24% dari total penjualan kendaraan ringan global dalam enam bulan pertama tahun ini. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa transisi energi di sektor transportasi tidak bisa dihentikan, bahkan oleh krisis sekalipun.
Dampak kebijakan energi terhadap industri teknologi juga menarik untuk dicermati. Seperti halnya roadmap CPU terbaru yang diungkapkan AMD, berbagai sektor terus berinovasi di tengah ketidakpastian global. Bahkan temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa krisis tidak menghentikan kemajuan manusia.
Laporan IEA ini menjadi bukti bahwa krisis energi justru menjadi akselerator transisi energi. Meskipun pasar AS dan China mengalami penurunan, negara-negara lain justru menunjukkan komitmen yang lebih kuat terhadap elektrifikasi. Dengan 50 negara mencatatkan rekor penjualan, masa depan kendaraan listrik global tampaknya semakin cerah—justru di tengah gejolak geopolitik yang terjadi.





Komentar
Belum ada komentar.