📑 Daftar Isi

Tentara Norwegia mengemudikan mobil listrik Deepal buatan China

Kamera Mobil Sewaan Rekam Tentara Norwegia, Kode Gerbang Bocor

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Kamera dasbor mobil sewaan tentara Norwegia merekam personel dan kode gerbang
  • Rekaman ditemukan tentara secara kebetulan lalu dihapus
  • Mobil tetap dipakai karena minim kendaraan alternatif
  • Operator sewa First Rent A Car Norway AS bagian dari rantai korporasi berujung di China
  • Hanya dua kendaraan terkonfirmasi Deepal buatan China
  • Tidak ada bukti rekaman keluar dari mobil

Telset.id – Mobil sewaan yang dipakai tentara Norwegia selama latihan militer di Oslo terekam kamera dasbor dan menyimpan rekaman tanpa diketahui siapa pun. Klip itu memperlihatkan personel militer masuk dan keluar dari kendaraan, pergerakan serta lokasi mereka, hingga kode gerbang yang mereka ketik tepat menghadap lensa kamera.

Insiden ini mencuat setelah tentara menemukan rekaman tersebut secara kebetulan saat menjelajahi menu kendaraan karena bosan. Mereka kemudian menghapus rekaman itu. Namun militer tetap memakai mobil tersebut sampai latihan berakhir karena sangat sedikit kendaraan alternatif yang tersedia.

Kamera yang merekam adalah dasbor standar yang keliru dibiarkan menyala oleh tentara. Alhasil, rekaman menumpuk di dalam mobil tanpa ada yang meninjaunya. Kode gerbang sendiri berfungsi melindungi area terbatas, sehingga siapa pun yang bisa mengakses klip itu berpotensi mempelajari cara masuk tanpa izin.

A Norwegian soldier drives a Chinese-made Deepal

Sensitivitas Data dan Rantai Kepemilikan

Isu ini menjadi lebih sensitif setelah diketahui bahwa operator persewaan merupakan bagian dari rantai korporasi yang berujung pada perusahaan berbasis di China. Angkatan bersenjata menyewa dari First Rent A Car Norway AS, operator berlabel Hertz yang memasok kendaraan untuk keperluan harian, latihan, dan misi operasional.

Volvo Cars menguasai penuh First Rent A Car Norway AS, tetapi sekitar 79% Volvo Cars dikendalikan oleh lengan holding Swedia milik Geely. Menariknya, lengan Geely tersebut sepenuhnya dikendalikan oleh Zhejiang Geely Holding Group yang berbasis di China. Meski begitu, hanya dua kendaraan yang terkonfirmasi sebagai Deepal buatan China, sementara merek sisanya tidak disebutkan.

Kepemilikan saja tidak membuktikan adanya niat tertentu. Pertanyaannya kemudian bergeser pada apakah layanan China memiliki kapasitas dan rekam jejak untuk memanfaatkan akses semacam itu di Norwegia. Dinas Keamanan Polisi Norwegia, badan kontraintelijen negara itu, menyatakan bahwa agensi intelijen dan keamanan China kini memiliki kapasitas lebih besar untuk menjalankan operasi di dalam negeri.

Kekhawatiran itu memiliki kasus terbaru di belakangnya. Polisi menahan seorang warga negara China yang diduga membantu spionase, kemungkinan diarahkan ke pelabuhan antariksa Andøya. Kasus ini memperlihatkan bahwa kekhawatiran terhadap aktivitas intelijen di Norwegia bukan sekadar wacana.

Pemerintah lain juga telah bertindak atas risiko serupa. Militer Israel melarang kendaraan buatan China dari pangkalannya dan kemudian menarik kendaraan resmi dari para perwira. Militer Jerman mengambil langkah serupa dengan membatasi ponsel, tablet, dan jam pintar bagi staf yang menangani materi rahasia karena ancaman spionase dari Rusia dan China.

Belum Ada Bukti Rekaman Keluar dari Mobil

Semua kasus tersebut merupakan insiden dan kebijakan lain, dan tidak satu pun menghubungkan Geely atau perusahaan persewaan dengan kamera dasbor yang merekam para tentara. Tidak ada bukti yang muncul bahwa rekaman apa pun keluar dari mobil, sehingga kelalaian pengaturan oleh tentara menjadi penjelasan yang lebih bisa dipertahankan ketimbang tuduhan spionase yang disengaja.

Meski demikian, peristiwa ini tetap menyoroti risiko yang melekat pada kendaraan terhubung yang dipakai dalam konteks operasional. Kamera dasbor yang menyala tanpa pengawasan mampu mengubah kendaraan biasa menjadi perekam pasif yang menyimpan gambar, pergerakan, dan kode akses. Persoalan serupa juga muncul dalam isu akurasi teknologi yang menuntut kewaspadaan terhadap perangkat yang terus merekam.

Dari sisi operasional, militer Norwegia menghadapi dilema antara kebutuhan mobilitas dan kontrol atas perangkat yang mereka pakai. Keterbatasan kendaraan alternatif membuat mereka tetap memakai mobil yang sudah terbukti menyimpan rekaman. Pilihan itu menunjukkan bahwa kesiapan operasional kerap berbenturan dengan prosedur keamanan data.

Bagi pengguna kendaraan terhubung pada umumnya, kasus ini menjadi pengingat bahwa fitur perekaman dan konektivitas perlu diperiksa sebelum kendaraan dipakai untuk keperluan sensitif. Menonaktifkan kamera yang tidak diperlukan dan memeriksa penyimpanan internal secara berkala menjadi langkah sederhana yang bisa mencegah rekaman menumpuk tanpa disadari.

Sampai saat ini, tidak ada indikasi bahwa rekaman tentara Norwegia tersebut berpindah tangan. Namun temuan bahwa kamera dasbor dapat aktif tanpa diketahui memperlihatkan celah yang nyata, terlepas dari siapa pemilik kendaraannya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.