šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi mobil listrik terhubung ke stasiun pengisian bidirectional untuk menjual listrik ke jaringan di Jerman

Jerman Permudah Mobil Listrik Hasilkan Uang dari Grid

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • Jerman adopsi aturan MiSpeL untuk penyimpanan energi dan pengisian bidirectional
  • Pemilik EV bisa jual listrik ke jaringan lewat V2G tanpa kehilangan subsidi surya
  • Wajib mobil berkemampuan V2G, peralatan pengisian kompatibel, metering, dan kontrak khusus
  • Soket V2L saja tidak cukup untuk ikut perdagangan listrik
  • Implementasi nasional hingga 30 September 2027, kecuali ikut lebih awal
  • Keuntungan bergantung biaya peralatan, ketentuan kontrak, dan durasi mobil terhubung

Telset.id – Otoritas jaringan federal Jerman, Bundesnetzagentur, resmi mengadopsi aturan baru bernama MiSpeL yang mempermudah pemilik mobil listrik menjual kembali listrik dari baterai kendaraan mereka ke jaringan listrik. Aturan ini mencakup penyimpanan energi dan titik pengisian bidirectional, dan menjadi kerangka regulasi yang selama ini dinantikan industri kendaraan listrik di negara tersebut.

Selama ini, gagasan vehicle-to-grid (V2G) terdengar sederhana: simpan listrik murah di dalam paket baterai EV, lalu jual saat harga naik. Namun proses administratifnya jauh lebih rumit. Sebelumnya, mencampur listrik dari jaringan dengan energi terbarukan yang dihasilkan secara lokal mempersulit kelayakan subsidi energi terbarukan Jerman. Baterai umumnya hanya boleh menyimpan listrik terbarukan yang diproduksi sendiri agar tetap memenuhi syarat subsidi. Mengisi baterai yang sama dari jaringan justru melanggar ketentuan tersebut.

Kerangka baru ini memberi cara untuk menghitung kedua sumber listrik secara terpisah. Aturan tersebut juga mengurangi sejumlah biaya atas listrik yang dikirim kembali ke jaringan, meski biaya tersebut tetap berlaku untuk listrik yang dipakai mengemudi. Dengan begitu, pemilik bisa menyimpan tenaga surya dan listrik jaringan dalam baterai yang sama tanpa kehilangan subsidi surya yang menjadi hak mereka. Langkah ini sejalan dengan tren adopsi EV yang terus tumbuh, seperti terlihat dari rekor penjualan EV di Jerman pada Juni 2026.

Meski regulasi dilonggarkan, syarat perangkat keras tetap wajib dipenuhi. Untuk ikut serta, sebuah EV harus mendukung pengisian bidirectional yang mampu menjalankan operasi V2G, dipasangkan dengan peralatan pengisian yang kompatibel, sistem metering, serta kontrak listrik khusus. Jenis pengisian bidirectional ini penting dibedakan, karena sekadar memiliki soket vehicle-to-load (V2L) untuk menyalakan pembuat kopi tidak membuat mobil memenuhi syarat untuk memperdagangkan listrik.

Asosiasi industri otomotif Jerman, VDA, menyambut baik aturan yang diperbarui ini. Mereka menilai regulator telah mendengarkan masukan soal bagaimana daya diukur. Kini tujuan utama mereka adalah mengimplementasikan aturan tersebut dengan cepat dan merata di seluruh negeri.

Implementasi Nasional Butuh Waktu Hingga 2027

Penerapan aturan ini tidak akan langsung terjadi. Perusahaan jaringan dan meteran memiliki waktu hingga 30 September 2027 untuk bersiap, kecuali mereka memilih ikut lebih awal. Selain itu, pengaturan yang disederhanakan untuk panel surya rumahan masih memerlukan persetujuan resmi dari regulator Uni Eropa.

Penting dicatat, Jerman tidak menjamin mobil listrik Anda akan membiayai dirinya sendiri. Negara hanya memberi cara yang lebih sederhana untuk memanfaatkan baterai pada EV yang sudah Anda miliki agar bisa mengembalikan sebagian uang. Apakah langkah ini menguntungkan bergantung pada biaya peralatan yang dibutuhkan, ketentuan kontrak, dan seberapa lama mobil tetap terhubung ke pengisi daya.

Upaya Jerman mempermudah V2G merupakan bagian dari tren global yang lebih luas. Di Amerika Serikat, tidak ada satu set aturan untuk seluruh negara. Yang berlaku justru campuran hukum negara bagian dan perusahaan listrik lokal yang menguji skema masing-masing. California mendorong mandat agar semua mobil listrik baru dapat mengirim daya kembali ke jaringan, sementara negara bagian lain menguji ide menggunakan bus sekolah listrik yang terparkir sebagai baterai cadangan raksasa saat lonjakan pemakaian listrik di musim panas.

Di Eropa, negara lain mencoba pendekatan berbeda untuk melibatkan pemilik EV. Belanda, misalnya, memasang pengisi daya berbagi daya langsung di jalan umum agar orang bisa otomatis membeli listrik murah dan menjualnya kembali saat harga melonjak. Di Inggris, perusahaan energi menawarkan paket khusus yang membayar pengemudi dengan kredit pada tagihan listrik karena memberi energi kembali ke jaringan. Sementara di Prancis, produsen mobil mulai membundel pengisi daya rumahan berkemampuan bidirectional bersama pembelian mobil baru.

Yang jelas, kehadiran aturan MiSpeL menandai pergeseran dari sekadar wacana menuju kerangka operasional. Pemilik EV di Jerman kini punya dasar hukum yang lebih jelas untuk memonetisasi baterai kendaraan mereka, meski eksekusinya masih menunggu kesiapan infrastruktur jaringan dan meteran hingga tenggat 2027. Bagi pasar otomotif Eropa yang tengah berlomba mengembangkan teknologi kendaraan, langkah regulasi ini menjadi sinyal bahwa energi dua arah bukan lagi sekadar konsep, melainkan bagian dari perencanaan jaringan listrik masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.