📑 Daftar Isi

GIAMM Target Komponen Lokal EV 60 Persen di 2030, TKDN 80 Persen Jadi Pemicu

GIAMM Target Komponen Lokal EV 60 Persen di 2030, TKDN 80 Persen Jadi Pemicu

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menargetkan keterlibatan anggotanya dalam memasok komponen kendaraan listrik (EV) meningkat menjadi 50-60 persen pada 2030. Target ini muncul seiring rencana pemerintah menetapkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 80 persen untuk kendaraan listrik pada tahun yang sama.

Ketua Bidang Promosi dan Public Relations GIAMM Gagat Prijawan mengatakan kewajiban peningkatan TKDN dari pemerintah akan mendorong kebutuhan terhadap komponen lokal, termasuk untuk kendaraan listrik yang saat ini masih menjadi pasar baru bagi sebagian anggota GIAMM. “Keterlibatan kita paling tidak bisa di angka 50-60 persen (pada 2030), untuk EV (kendaraan listrik). Karena sekarang EV ini juga baru bagi kami, jadi anggota GIAMM membuat komponen EV juga belum banyak,” katanya ditemui di Tangerang, Kamis.

Pernyataan itu menegaskan bahwa target TKDN 80 persen bukan sekadar angka regulasi, melainkan pemicu perubahan nyata di rantai pasok otomotif nasional. Bagi anggota GIAMM, kewajiban ini membuka peluang sekaligus menuntut kesiapan produksi yang belum sepenuhnya terbentuk.

Gagat mengatakan peningkatan volume produksi otomotif akan turut meningkatkan tingkat lokalisasi komponen karena biaya produksi dapat ditekan melalui skala ekonomi. “Kalau volumenya naik, TKDN-nya pasti naik. Lokalisasinya pasti naik,” katanya.

Saat ini, Gagat menyebut keterlibatan anggota GIAMM dalam memasok komponen untuk mobil merek China yang dirakit di Indonesia masih sekitar 10-15 persen. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi persaingan harga.

Ia menjelaskan volume produksi yang masih terbatas membuat biaya komponen lokal relatif tinggi karena biaya peralatan harus dibagi dengan jumlah produksi yang kecil. “Kalau volume kita besar, harga kita juga tidak kalah dengan China,” katanya.

Kesenjangan antara posisi saat ini dan target 2030 menunjukkan jarak yang perlu ditempuh industri komponen dalam negeri. Jika keterlibatan anggota GIAMM untuk mobil merek China baru di kisaran 10-15 persen, maka target 50-60 persen pada 2030 menuntut lonjakan kapasitas yang signifikan.

Volume Produksi Jadi Kunci Peningkatan TKDN

Lebih lanjut, Gagat menyebut kemampuan industri komponen dalam negeri untuk mencapai TKDN 80 persen bukan menjadi persoalan, karena saat ini sudah terdapat produk yang mampu mencapai tingkat tersebut. “Karena sekarang pun juga sudah ada yang 80 persen kok. Tinggal butuh volumenya saja. Sepeda motor sudah 90 persen ke atas TKDN. Kalau untuk mobil, ada yang sudah ada 80 persen, ada yang 60 persen,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menempatkan volume sebagai variabel penentu utama. Tanpa skala produksi yang memadai, biaya peralatan tidak dapat terdistribusi efisien dan harga komponen lokal sulit bersaing dengan produk impor.

Gagat juga menekankan perlunya penguatan industri hulu, seperti logam, karet, dan plastik, untuk mendukung peningkatan TKDN. Menurut dia, ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat menjadi tantangan bagi industri komponen lokal.

Ia mencontohkan industri baja yang belum seluruhnya memproduksi material dengan spesifikasi yang dibutuhkan industri otomotif karena volume kebutuhan otomotif masih terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa upaya mencapai TKDN 80 persen tidak hanya bergantung pada perakit komponen, tetapi juga pada kesiapan sektor hulu.

Adapun pemerintah menargetkan TKDN untuk kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) meningkat secara berkala, yakni 40 persen hingga 2026, 60 persen mulai 2027, dan minimal sebesar 80 persen mulai tahun 2030.

Peta jalan tersebut memberi tenggat yang jelas bagi industri komponen nasional. Setiap tahapan TKDN menjadi ujian kesiapan rantai pasok, terutama karena target akhir 80 persen mensyaratkan keterlibatan luas mulai dari komponen inti hingga material dasar.

Bagi anggota GIAMM, target 50-60 persen pada 2030 mencerminkan posisi yang realistis di tengah kondisi pasar EV yang masih baru bagi mereka. Angka tersebut juga menggambarkan bahwa sebagian kebutuhan komponen EV masih berpotensi dipenuhi dari luar, setidaknya hingga akhir dekade ini.

Pemerintah sendiri terus mengupayakan peningkatan nilai minimum tingkat komponen dalam negeri pada kendaraan listrik hingga 80 persen di 2030 agar mendorong perkembangan industri komponen dan memperkuat struktur industri nasional.

Dengan demikian, keberhasilan target TKDN 80 persen pada 2030 akan sangat bergantung pada tiga hal yang disebut GIAMM: kenaikan volume produksi, kesiapan industri hulu, dan daya saing harga komponen lokal terhadap produk impor. Ketiganya saling terkait dan tidak dapat diselesaikan secara terpisah.

Pernyataan GIAMM ini juga menjadi sinyal bahwa kesiapan industri komponen nasional menghadapi era kendaraan listrik masih dalam tahap pembentukan. Target 50-60 persen pada 2030 menjadi tolok ukur yang dapat dievaluasi secara bertahap seiring berjalannya tahapan TKDN 40 persen pada 2026 dan 60 persen pada 2027.

[URL_ARTIKEL_1]: /news/science-tech/qualcomm-rilis-snapdragon-8-elite-gen-6-ai-agen-jalan-lokal/
[URL_ARTIKEL_2]: /autonext/toyota-siap-produksi-erev-pertama-di-china-2027/
[URL_ARTIKEL_3]: /laptop-pc/microsoft-rilis-windows-11-project-zenith-untuk-developer-ai/
[URL_ARTIKEL_4]: /news/ai/microsoft-rilis-project-zenith-windows-bersih-untuk-developer-kaya-raya/
[URL_ARTIKEL_5]: /autonext/toyota-bangun-ev-lexus-di-china-bukan-jepang/

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.