Telset.id – Ferrari Luce, mobil listrik perdana pabrikan asal Italia, justru ludes terjual di China meskipun menuai kritik pedas dari pengamat dunia. Keberhasilan ini membuktikan bahwa opini publik di Barat tidak selalu sejalan dengan permintaan pasar sesungguhnya.
Mobil listrik anyar Ferrari itu masuk pasar China dengan banderol harga RMB 3.988.000 atau setara €500.700. Alokasi awal sebanyak 88 unit untuk pasar China langsung habis terjual dalam waktu singkat. Meski demikian, laporan dari Beijing Business Today menyebutkan bahwa setidaknya satu diler lokal di Beijing masih menerima pesanan pelanggan, dengan acara peluncuran resmi dijadwalkan pada 3-5 Juli 2026.
Strategi harga yang diterapkan Ferrari di China terbilang unik. Harga jual di China ternyata tujuh persen lebih rendah dibandingkan harga eceran di Eropa yang mencapai €550.000. Sebagai perbandingan, model bensin entry-level seperti Ferrari Amalfi grand tourer dibanderol €227.900 di Inggris, namun setelah ditambah pajak mewah dan pajak mesin, harganya melonjak menjadi RMB 2.598.500 (€326.100) di China.
Namun, alasan di balik harga RMB 3.988.000 untuk Ferrari Luce sangat berbeda dan tidak ada kaitannya dengan faktor ekonomi. Angka tersebut merupakan permainan numerologi homofonik China yang sangat cerdas. Urutan angka 3-9-8-8 berfungsi layaknya berkah keberuntungan bagi para pembeli ultra-kaya yang langsung memburunya.
Berikut rincian makna di balik angka tersebut:
- Angka 3 (shēng): Berarti “hidup”, “kehidupan”, atau “kelahiran”. Melambangkan fondasi kuat, vitalitas seumur hidup, dan pertumbuhan berkelanjutan.
- Angka 9 (jiǔ): Berarti “abadi”, “tahan lama”, atau “keabadian”. Terkait erat dengan kaisar, melambangkan sesuatu yang bertahan sepanjang masa.
- Angka 8 (fā): Angka keberuntungan tertinggi di China karena terdengar seperti kata “kaya” atau “makmur”. Dua angka 8 (88) menggandakan keberuntungan tersebut, menciptakan gema kekayaan yang eksplosif.
Ketika konsumen China membaca urutan 3-9-8-8, secara fonetis terbaca seperti frasa puitis: “Kekayaan dan kemakmuran abadi sepanjang hidup Anda” (生长久发发 – Yīshēng chángjiǔ fāfā). Ini adalah kombinasi simbol status tertinggi yang mengubah banderol harga mahal menjadi jimat keberuntungan abadi.
Baca Juga:
Debut Ferrari Luce di Roma pada Mei lalu memicu gejolak internal yang serius. Mobil sedan empat pintu yang didesain oleh mantan desainer Apple, Jony Ive, dikritik karena bentuknya yang praktis dan gaya yang polos. Para kritikus berpendapat bahwa kendaraan ini kurang memiliki tampilan agresif khas Ferrari. Respons negatif tersebut menyebabkan harga saham perusahaan turun lebih dari enam persen dalam satu hari. Pasca peluncuran yang kurang mulus itu, Ferrari mengganti chief marketing officer lamanya, Enrico Galliera, dengan Massimiliano Di Silvestre yang sebelumnya menangani divisi Italia BMW.
Sebelum hengkang, Galliera sempat membela taktik penjualan merek tersebut di depan publik. Isu yang beredar menyebutkan bahwa diler memaksa pelanggan untuk membeli mobil listrik ini sebagai uji loyalitas. Menurut laporan tersebut, pembeli harus menerima sedan ini untuk mempertahankan posisi mereka di daftar tunggu hypercar edisi terbatas yang langka. Galliera membantah keras klaim ini dalam wawancara media, dengan menyatakan bahwa model baru ini dibuat untuk menarik demografi pembeli yang sama sekali baru, bukan kolektor supercar yang sudah ada.
Kebingungan seputar kendaraan ini juga berasal dari klasifikasinya. Ferrari Luce bukanlah supercar rendah tradisional yang dirancang untuk sirkuit balap. Perusahaan mendesainnya sebagai grand tourer lima kursi yang praktis. Pilihan ini menjadikan model tersebut unik dalam sejarah merek yang secara tradisional fokus pada kendaraan dua pintu berperforma tinggi, kecuali SUV Purosangue.
Posisi mewah ini menempatkan Ferrari Luce dalam kategori yang berbeda jika dibandingkan dengan mobil listrik domestik China. Produsen lokal kini membangun EV canggih dengan harga yang jauh lebih murah. BYD memiliki Yangwang U9, supercar listrik yang harganya setengah dari model Italia namun menawarkan pengisian baterai lebih cepat, akselerasi 0-100 km/jam yang lebih cepat, dan tenaga lebih dari 200 dk lebih besar. Saingan lainnya adalah GAC Hyptec SSR yang dibanderol mulai RMB 1.286.000 (€161.500), artinya Anda bisa membeli tiga unit Hyptec SSR dengan harga satu sedan listrik Italia, dan trim tertinggi SSR mampu mencapai 100 km/jam dalam 1,9 detik.
Terlepas dari perbedaan teknis ini, para pakar industri meragukan bahwa pembeli sedan impor ini akan melirik alternatif lokal seperti Denza Z9 GT atau opsi domestik lainnya. Bagi populasi ultra-kaya, kendaraan semacam ini adalah simbol status. Media lokal menggambarkan model ini sebagai “RMB 4 juta di atas roda,” sebuah barang yang langsung mengidentifikasi pemiliknya sebagai bagian dari satu persen populasi terkaya.
Penjualan Ferrari Luce yang kontroversial mengungkap tren ekonomi yang lebih luas. Pasar tradisional Barat coba menolak transisi ke mobil listrik, namun konsumen China memandang tenaga listrik sebagai langkah maju yang alami untuk kemewahan modern. Adopsi cepat teknologi otomotif baru menunjukkan bahwa pembeli bersedia mengabaikan perdebatan internet jika suatu produk menawarkan perpaduan yang tepat antara prestise merek dan eksklusivitas.
Bagi para penggemar otomotif Tanah Air, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Ferrari Luce membuktikan bahwa strategi pemasaran yang cerdas dan pemahaman mendalam tentang budaya lokal bisa mengalahkan kritik global. Ke depannya, mungkin kita akan melihat lebih banyak produsen mobil mewah yang menerapkan strategi serupa, terutama di pasar-pasar dengan daya beli tinggi seperti China.





Komentar
Belum ada komentar.