Telset.id – Keahlian bermain game seperti Counter-Strike 2 atau StarCraft II ternyata bisa menjadi modal berharga untuk karier di dunia penerbangan. Departemen Perhubungan Amerika Serikat (DOT) telah merekrut para gamer untuk menjadi pengatur lalu lintas udara atau air traffic controller, dan langkah ini menunjukkan hasil yang signifikan.
Menteri Perhubungan AS, Sean Duffy, mengungkapkan bahwa pendekatan yang tidak biasa ini telah membantu Federal Aviation Administration (FAA) mencapai kemajuan besar dalam memenuhi target perekrutannya. Kabar baiknya, strategi rekrutmen yang menyasar komunitas gamer ini dinyatakan berhasil.

Kampanye rekrutmen ini diluncurkan pada bulan April dan secara khusus menargetkan para gamer muda. Alasannya, mereka dinilai sudah memiliki sejumlah “hard skills” yang dibutuhkan untuk menjadi pengatur lalu lintas udara yang sukses. FAA secara spesifik menyebutkan kemampuan multitasking, kesadaran spasial, strategi, dan pemecahan masalah sebagai keahlian yang bisa ditransfer dari dunia gaming ke dunia pengendalian lalu lintas udara.
Upaya ini rupanya membuahkan hasil yang positif. Dalam unggahan terbarunya di platform X, Sean Duffy menyampaikan bahwa FAA telah mencapai 94% dari target perekrutannya. Ini merupakan pencapaian tercepat yang pernah diraih badan tersebut. Lebih dari 2.000 pengatur lalu lintas udara baru telah direkrut, dan lebih dari 2.000 kandidat lainnya saat ini sedang menjalani proses rekrutmen.
Baca Juga:
Dorongan rekrutmen ini datang di tengah upaya FAA untuk mengatasi kekurangan pengatur lalu lintas udara di seluruh Amerika Serikat. Inisiatif ini menjadi salah satu solusi kreatif untuk mengisi kekosongan posisi penting tersebut.
Lantas, apa hubungannya kemampuan bermain game dengan pekerjaan yang sangat vital ini? Siapa pun yang pernah memainkan game strategi real-time (RTS) seperti StarCraft II atau Age of Empires IV pasti familiar dengan tuntutan untuk mengawasi sumber daya, unit, peta, dan lawan secara bersamaan.
Demikian pula dengan game tembak-menembak seperti Counter-Strike 2, Valorant, dan Rainbow Six Siege yang menuntut pemain untuk memperhatikan lingkungan sekitar, memproses isyarat audio dan visual, berkomunikasi dengan rekan satu tim, serta mengambil keputusan dengan cepat. Kemampuan inilah yang dinilai relevan dengan tugas seorang pengatur lalu lintas udara.
Ternyata, ada penelitian yang mendukung manfaat ini. Studi tentang video game aksi menemukan kaitan antara bermain game dengan peningkatan pada area seperti perhatian dan kognisi spasial. Pengalaman bermain game juga telah ditemukan aplikasi praktisnya di bidang lain.
Beberapa studi mengaitkan pengalaman bermain game dengan performa yang lebih baik dalam simulasi bedah laparoskopi tertentu. Selain itu, militer AS juga menemukan bahwa gamer berpengalaman dapat beradaptasi dengan baik dalam menerbangkan drone.
Tentu saja, menjadi jagoan di Valorant tidak berarti bisa langsung masuk ke menara kontrol bandara. Para pelamar tetap harus melewati proses seleksi FAA dan pelatihan di Akademi sebelum melanjutkan ke pengalaman kerja di lapangan selama satu hingga tiga tahun untuk menjadi pengatur lalu lintas udara profesional bersertifikat.
Baca Juga:
Kesuksesan program rekrutmen ini menunjukkan bahwa keterampilan yang diasah melalui hobi bermain game bisa memiliki nilai nyata di dunia profesional. Inisiatif ini tidak hanya menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor penerbangan, tetapi juga membuka peluang karier baru bagi para gamer yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Dengan pendekatan ini, FAA berhasil membuktikan bahwa sumber daya manusia dari kalangan yang tidak biasa pun dapat memberikan kontribusi besar, selama memiliki keterampilan yang relevan. Ke depannya, model rekrutmen seperti ini bisa menjadi contoh bagi sektor-sektor lain yang menghadapi tantangan serupa dalam mencari tenaga kerja berkualitas.





Komentar
Belum ada komentar.