Mobil-mobil BYD siap diekspor dari pelabuhan di China

Ekspor Mobil China Tembus 1 Juta Unit, NEV Kuasai Pasar

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • Ekspor kendaraan China tembus 1,037 juta unit pada Juni 2026, naik 75,1% YoY
  • NEV mendominasi dengan 523.000 unit atau 50,4% dari total ekspor
  • Semester I 2026 total ekspor China capai 5,096 juta unit, tumbuh 65,3%
  • Pasar utama: ASEAN (Vietnam +35%), Timur Tengah, dan Rusia (+10%)
  • Tantangan ke depan: tarif karbon UE dan investigasi anti-subsidi

Telset.id – China mencatat rekor baru dalam industri otomotif global. Pada Juni 2026, ekspor kendaraan China untuk pertama kalinya menembus angka 1 juta unit, dengan kendaraan energi baru (NEV) menyumbang lebih dari setengah total ekspor.

Menurut data terbaru yang dirilis oleh China Association of Automobile Manufacturers (CAAM) pada 9 Juli, China mengekspor 1,037 juta kendaraan pada Juni 2026. Angka ini menandai peningkatan 11,6% dibanding bulan sebelumnya dan lonjakan 75,1% secara tahunan, seperti dilaporkan oleh surat kabar China, Economy Observer.

Pencapaian ini menunjukkan dominasi China yang semakin kuat di pasar otomotif global. Pada paruh pertama 2026, total ekspor kendaraan China mencapai 5,096 juta unit, tumbuh 65,3% secara tahunan. Kinerja ini jauh melampaui ekspektasi industri yang sebelumnya memproyeksikan total ekspor tahun 2026 hanya 7,4 juta unit.

Mobil BYD siap diekspor dari pelabuhan China

CAAM mencatat bahwa meskipun pasar domestik China menghadapi tekanan signifikan dengan penurunan penjualan dua digit, sektor ekspor telah menjadi pilar stabil bagi industri. Momentum ekspor terus meningkat sejak China menjadi eksportir otomotif terbesar dunia dengan melampaui Jerman dan Jepang.

Volume ekspor tahunan China tumbuh dari 4,91 juta unit pada 2023 menjadi 7,1 juta unit pada 2025. Meskipun sempat melambat, tahun 2026 menunjukkan kebangkitan dengan tingkat pertumbuhan bulanan tahunan yang meningkat dari 45% pada Januari menjadi 75% pada Juni.

NEV Mendominasi Ekspor

Perubahan struktural signifikan terjadi pada Juni 2026. Ekspor kendaraan energi baru (NEV) mencapai 523.000 unit, meningkat 1,6 kali lipat secara tahunan. Untuk pertama kalinya, NEV menyumbang lebih dari 50% total ekspor bulanan, yang berarti setiap kendaraan kedua yang diekspor dari China kini adalah NEV.

Pada paruh pertama tahun ini, total ekspor NEV mencapai 2,355 juta unit, naik 1,2 kali lipat secara tahunan, dengan pangsa 46,2% dari total ekspor kendaraan. Dominasi ini didorong oleh rantai pasokan NEV China yang lengkap dan keunggulan biaya produksi.

Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association (CPCA), mengaitkan kesuksesan ini dengan beberapa faktor. Dari sisi pasokan, rantai pasokan NEV China yang lengkap, ditambah keunggulan biaya pada sistem baterai, motor, dan kontrol elektronik, memungkinkan biaya manufaktur yang sangat kompetitif secara global.

Teknologi canggih seperti pengisian daya 800V, integrated die-casting, dan teknologi baterai proprietary memungkinkan kendaraan China mendapatkan premium sekitar 10% di pasar Eropa. Dari sisi produk, produsen mobil China berhasil mengisi celah pasar yang ditinggalkan oleh transisi elektrifikasi lambat dari raksasa global seperti Volkswagen dan Toyota.

Pertumbuhan utama ekspor China berasal dari kawasan ASEAN, Timur Tengah, dan Rusia. Data dari International Organisation of Motor Vehicle Manufacturers (OICA) menunjukkan bahwa dalam lima bulan pertama 2026, permintaan kendaraan tumbuh 35% di Vietnam, 15% di Thailand, dan 10% di Rusia.

Tantangan ke Depan

Meskipun mencatat rekor, para ahli memperingatkan potensi hambatan. Cui mencatat bahwa faktor seperti tarif karbon UE dan investigasi anti-subsidi, ditambah basis tinggi dari paruh kedua 2025, menunjukkan bahwa pertumbuhan mungkin akan melambat dari laju saat ini menuju lintasan yang lebih stabil untuk sisa tahun ini.

Perkembangan ini menunjukkan bagaimana industri otomotif China terus memperkuat posisinya di pasar global. Dengan dominasi NEV yang semakin kokoh, China tidak hanya menjadi basis manufaktur tetapi juga pusat inovasi kendaraan listrik dunia. Perusahaan AI China juga terus mengejar ketertinggalan dari AS dalam pengembangan teknologi otonom.

Ke depannya, industri otomotif China kemungkinan akan terus menghadapi dinamika geopolitik yang kompleks. Namun, dengan fundamental yang kuat dan rantai pasokan yang terintegrasi, posisi China sebagai eksportir otomotif terbesar dunia tampaknya akan bertahan dalam jangka menengah.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.