📑 Daftar Isi

BYD Seal U PHEV di Eropa sebagai ilustrasi perdagangan mobil hibrida China dan Uni Eropa

China-EU Sepakati Perdagangan Mobil Hibrida, Tarif PHEV Dihindari

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • China dan Uni Eropa capai kesepahaman dagang mobil hibrida pada 9 Oktober 2026
  • Kesepakatan selaras aturan WTO dan berpotensi menghindari tarif tambahan
  • Ekspor hibrida China ke EU diproyeksi turun lebih dari 50 persen dalam empat tahun
  • Delapan bulan 2026, China ekspor 1,56 juta unit ke EU: 630 ribu EV, 490 ribu PHEV, 270 ribu HEV
  • Merek China kuasai 25 persen pasar PHEV Eropa pada paruh pertama 2026
  • Detail implementasi menunggu laporan ke Presiden European Commission

Telset.id – China dan Uni Eropa mencapai kesepahaman soal perdagangan mobil hibrida setelah negosiasi intensif. Kesepakatan yang diumumkan pada 9 Oktober 2026 melalui pernyataan bersama usai pertemuan pleno kedua mekanisme konsultasi perdagangan dan investasi China-EU ini dirancang selaras dengan aturan World Trade Organisation (WTO) dan berpotensi menghindarkan pengenaan tarif tambahan. Kabar ini pertama kali dilaporkan media China, Caixin, dan menjadi sinyal de-eskalasi dalam sengketa dagang otomotif antara kedua blok ekonomi tersebut.

Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi European Commission, Maroš Šefčovič, menyatakan kesepakatan ini bertujuan mengelola pertumbuhan pesat ekspor kendaraan hibrida China ke Eropa. Ia menyebut dalam empat tahun ke depan volume ekspor mobil hibrida China ke Uni Eropa diperkirakan lebih dari separuh lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya, sebuah pengurangan yang melibatkan jutaan unit.

Šefčovič menegaskan angka pengurangan 50 persen itu berbasis proyeksi internal Komisi dan tidak berarti pemotongan langsung setengah dari level ekspor saat ini. Ia juga menyatakan harus melaporkan hasil negosiasi kepada Presiden European Commission dan para pemimpin negara anggota sebelum memfinalkan dan mempublikasikan detail implementasi. Meski begitu, ia memastikan kedua pihak telah mencapai konsensus jelas soal metodologi eksekusi, menunggu penyelesaian persyaratan prosedural Eropa.

Lonjakan Ekspor Hibrida China Picu Kekhawatiran Industri Eropa

Lonjakan ekspor kendaraan hibrida China menjadi titik fokus industri otomotif Eropa. Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan pada delapan bulan pertama 2026, China mengekspor 1,56 juta kendaraan utuh ke Uni Eropa. Total itu mencakup 630.000 kendaraan listrik (EV), 490.000 plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan 270.000 hybrid electric vehicle (HEV), dengan pertumbuhan year-on-year masing-masing 49 persen, 179 persen, dan 142 persen.

Menurut European Automobile Manufacturers’ Association (ACEA), merek China menguasai 14 persen pangsa pasar hibrida Eropa pada paruh pertama 2026, dengan pangsa di segmen plug-in hybrid mencapai 25 persen. Sebagai konteks, merek China hanya memegang 2 persen pangsa pasar di segmen tersebut pada 2024. Pertumbuhan agresif inilah yang membuat isu tarif PHEV dan hibrida menjadi sensitif bagi produsen Eropa.

BYD Seal U PHEV di Eropa

Dinamika pasar otomotif China yang agresif juga terlihat dari langkah sejumlah merek. BYD Seagull Gen-2 misalnya, resmi dibuka pre-order dengan dimensi yang makin besar di China. Sementara di sisi lain, Hyundai Batal Jual IONIQ 3 di Australia karena kalah saing dengan EV China, menandakan tekanan kompetitif yang makin nyata di pasar global.

Respons Industri dan Harapan Kerangka Kepatuhan

Kelompok industri menyambut positif perkembangan ini. Presiden German Association of the Automotive Industry (VDA), Hildegard Müller, menyebut konsensus tersebut sebagai “positive signal”, menekankan pentingnya dialog dalam menyelesaikan tantangan perdagangan dan menciptakan lingkungan institusional yang stabil bagi pelaku usaha.

Senada, China Chamber of Commerce to the EU (CCCEU) berharap pengaturan ini memberikan kerangka kepatuhan yang jelas dan stabil bagi perusahaan China yang beroperasi di Eropa, sehingga mengurangi ketidakpastian pasar. Harapan itu masuk akal mengingat ketegangan dagang sebelumnya sempat mengancam ekspansi merek-merek China di kawasan tersebut.

Meski detail implementasi belum diumumkan, arah kesepakatan ini memperlihatkan kedua pihak memilih jalur negosiasi ketimbang eskalasi tarif. Bagi industri otomotif global, kepastian regulasi menjadi faktor penentu dalam menyusun strategi ekspor dan produksi di Eropa ke depan.

Ilustrasi perdagangan mobil hibrida China dan Uni Eropa

Tekanan kompetitif dari merek China juga membuat peta persaingan di pasar domestik China terus berubah. Toyota Bantah Isu FAW Toyota hengkang dari China, menepis spekulasi soal mundurnya salah satu pemain besar di pasar Negeri Tirai Bambu tersebut.

Kesepahaman China-Uni Eropa ini pada akhirnya menegaskan bahwa perdagangan kendaraan hibrida kini menjadi medan diplomasi ekonomi yang kompleks. Tanpa detail final dari European Commission, pelaku pasar masih menanti kepastian angka dan mekanisme yang akan menentukan laju ekspor hibrida China ke Eropa dalam beberapa tahun mendatang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.