📑 Daftar Isi

CATL Peringatkan Risiko Baterai Gagal di Tengah Banjir Produksi EV China

CATL Peringatkan Risiko Baterai Gagal di Tengah Banjir Produksi EV China

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Produsen baterai asal China, Contemporary Amperex Technology (CATL), mengingatkan para produsen mobil listrik (EV) tentang meningkatnya risiko kegagalan baterai di tengah derasnya laju produksi EV yang didominasi pabrikan China. Pesan ini disampaikan langsung oleh Kepala CATL, Robin Zeng, dalam ajang World Power Battery Conference 2026 di Yibin, Provinsi Sichuan, China.

Kekhawatiran ini muncul dari fakta bahwa sepanjang 2026 sudah ada 600 model mobil listrik yang dirilis ke pasaran. Artinya, dalam sembilan bulan terakhir, rata-rata ada tiga mobil listrik baru yang diluncurkan setiap harinya. Kecepatan peluncuran produk yang luar biasa ini disebut-sebut memangkas siklus pengujian dan validasi kualitas baterai, yang berkontribusi pada meningkatnya temuan baterai yang berfungsi abnormal atau mengalami kegagalan.

Zeng tidak merinci produsen atau merek mana saja yang terdampak masalah ini. Namun, kekhawatiran tersebut berdasar mengingat kondisi banjir produksi EV tidak hanya berdampak pada keselamatan konsumen, tetapi juga membuat kondisi pasar menjadi tidak sehat.

Penurunan Harga dan Kasus Kegagalan Baterai

Data industri yang dikutip dalam laporan terbaru menunjukkan adanya penurunan harga transaksi untuk beberapa kendaraan listrik massal China selama paruh pertama 2026. Sementara itu, harga sel lithium besi fosfat (LFP) yang menjadi bahan baku baterai mobil listrik dilaporkan terus turun dan telah menyentuh angka di bawah 0,35 yuan/Wh (Rp919/Wh).

Kondisi di lapangan memang sudah memperlihatkan beberapa kasus nyata kegagalan baterai dari produsen China. Salah satunya adalah laporan mengenai 213.000 kendaraan GAC Aion pada Juli 2026 yang mengalami masalah pembengkakan baterai hingga baterai yang terus-menerus kehilangan daya akibat sel CALB yang tidak optimal.

Selain itu, ada juga sengketa antara produsen mobil dan pemasok baterai akibat kualitas yang buruk. Di akhir 2025, anak perusahaan Geely, Viridi E-Mobility Technology, menggugat Sunwoda sebagai produsen baterai. Viridi menilai sel baterai yang diterimanya pada periode Juni 2021 hingga Desember 2023 mengalami cacat kualitas yang berasal dari Sunwoda.

Berkaca dari kondisi tersebut, Zeng mengingatkan bahaya produksi massal EV yang harus menjadi perhatian para produsen. Meski ada beragam pengujian untuk membuktikan kualitas baterai, uji-uji tersebut bisa saja tidak akurat. Standar yang ada tidak menetapkan bagaimana kinerja paket baterai lengkap di bawah beban benturan tingkat kendaraan, termasuk deformasi dinamis, kerusakan penutup, atau kerusakan sistem pendingin.

Pertanyaan Dasar tentang Siklus Pengembangan

Pada akhirnya, pernyataan Zeng berpusat pada pertanyaan dasar tentang rekayasa dan manufaktur. Apakah siklus pengembangan kendaraan yang semakin singkat memberikan waktu yang cukup untuk mengidentifikasi cacat baterai sebelum produk mencapai produksi massal? Pertanyaan ini menjadi krusial mengingat konsekuensi dari kegagalan baterai tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan konsumen.

Fenomena ini sejalan dengan upaya berbagai pihak dalam meningkatkan standar keamanan baterai. Sebelumnya, China menerapkan standar keamanan baterai mobil listrik yang paling ketat sebagai respons atas pertumbuhan industri yang pesat. Standar ini diharapkan mampu menjadi filter bagi produk-produk yang beredar di pasaran.

Sementara itu, industri baterai sendiri terus berinovasi untuk menghadirkan produk yang lebih andal. Berbagai riset pengembangan baterai dengan daya tahan lebih lama dan material alternatif terus dilakukan. Bahkan, ada temuan yang menunjukkan potensi baterai mobil listrik dari bahan daur ulang.

Di sisi lain, investasi besar-besaran di sektor ini juga terus mengalir. Sebagai contoh, Indonesia dan LG telah menandatangani nota kesepahaman untuk pengembangan baterai mobil listrik senilai Rp137,6 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa masa depan industri baterai tetap cerah, meski tantangan kualitas di tengah produksi massal harus segera diatasi.

Peringatan dari CATL ini menjadi sinyal penting bagi seluruh pemangku kepentingan industri otomotif listrik. Keseimbangan antara kecepatan peluncuran produk dan jaminan kualitas baterai harus dijaga. Jika tidak, kepercayaan konsumen terhadap mobil listrik secara keseluruhan bisa terancam, dan pasar yang sedang tumbuh pesat ini dapat mengalami kemunduran.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.