πŸ“‘ Daftar Isi

Baterai Nusantara Dorong Kemandirian Ekosistem Baterai ASEAN

Baterai Nusantara Dorong Kemandirian Ekosistem Baterai ASEAN

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Indonesia dan Malaysia resmi mengarahkan kerja sama pada pengembangan ekosistem baterai di kawasan Asia Tenggara melalui inisiatif Baterai Nusantara. Langkah ini menjadi fondasi penting untuk membangun kemampuan industri baterai ASEAN secara mandiri dan mengurangi ketergantungan pada negara lain.

Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini mengungkapkan bahwa kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemampuan industri baterai di ASEAN secara mandiri. Pernyataan ini disampaikan dalam kegiatan International Battery Summit (IBS) 2026 yang berlangsung pada 26-28 Agustus 2026 di JIEXPO Convention Centre & Theatre, Jakarta.

Menurut Evvy, Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai. β€œKami lebih senang kalau kita juga bisa membuat sel baterai di sini,” kata Evvy di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Skema Kerja Sama Baterai Nusantara

Pengembangan Baterai Nusantara dilakukan dengan mengirimkan material yang dikembangkan di Indonesia ke Malaysia untuk kemudian diproses menjadi baterai. Produk tersebut bahkan telah diperkenalkan di Malaysia bersama kementerian terkait di negara tersebut.

Evvy menegaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya berkaitan dengan produksi baterai, tetapi juga menjadi langkah awal untuk membangun rantai pasok baterai yang melibatkan negara-negara ASEAN. β€œKita juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri,” ujarnya.

Kerja sama ini didasari oleh fakta bahwa ASEAN memiliki pasar kendaraan listrik yang cukup besar, sehingga dapat menjadi basis pengembangan teknologi baterai regional. Namun, untuk mencapai tahap tersebut, diperlukan penguatan kemampuan riset hingga produksi di masing-masing negara.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah membangun fasilitas pilot plant di Indonesia. Menurut Evvy, fasilitas tersebut dibutuhkan sebagai jembatan antara hasil pengembangan material di laboratorium menuju produksi baterai dalam skala komersial.

β€œPilot itu kita tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kita perlu bridging antara material ini ke sana,” jelasnya. Melalui fasilitas pilot, teknologi yang sudah dikembangkan di laboratorium dapat diuji dalam skala lebih besar sebelum masuk ke tahap industrialisasi.

Indonesia juga dapat mempelajari teknologi komersial yang digunakan mitra, kemudian mengembangkannya kembali melalui riset nasional. Evvy menilai pendekatan tersebut perlu mulai diterapkan Indonesia agar tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga memiliki kemampuan memproduksi sel baterai secara mandiri.

Kolaborasi Indonesia-Malaysia ini sekaligus menjadi bagian dari agenda lebih luas untuk memperkuat kemampuan teknologi baterai ASEAN. Dengan menggabungkan sumber daya, riset, fasilitas produksi, dan pasar regional, ASEAN diharapkan tidak hanya menjadi basis produksi kendaraan listrik, tetapi juga mampu membangun teknologinya sendiri.

Perkembangan industri baterai regional ini sejalan dengan tren pertumbuhan kendaraan listrik di berbagai negara. Pasar baterai yang semakin kompetitif mendorong negara-negara ASEAN untuk memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok global.

Langkah Indonesia membangun fasilitas pilot plant menjadi krusial dalam mempercepat komersialisasi riset baterai nasional. Dengan adanya fasilitas ini, hasil riset laboratorium dapat segera diuji dan dikembangkan menuju skala produksi yang lebih besar.

Inisiatif Baterai Nusantara diharapkan mampu menjadi katalis bagi pengembangan ekosistem baterai yang lebih kuat di kawasan. Pasar ASEAN yang besar menjadi modal utama untuk membangun industri baterai yang mandiri dan berdaya saing.

Ke depan, penguatan kolaborasi riset dan produksi antarnegara ASEAN akan menentukan sejauh mana kawasan ini mampu bersaing dalam industri baterai global yang terus berkembang pesat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.