πŸ“‘ Daftar Isi

Aismoli: Infrastruktur Motor Listrik Harus Sesuai Pola Mobilitas

Aismoli: Infrastruktur Motor Listrik Harus Sesuai Pola Mobilitas

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pendukung sepeda motor listrik tidak cukup hanya berfokus pada penambahan jumlah Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU). Menurut asosiasi tersebut, pengembangan infrastruktur justru perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan pola mobilitas pengguna agar adopsi kendaraan listrik nasional dapat meningkat secara efektif.

PR & Event Executive Aismoli Riniwaty Sinaga mengungkapkan bahwa kebutuhan infrastruktur setiap pengguna dapat berbeda, tergantung pada jenis kendaraan, pola perjalanan, lokasi, hingga tingkat pemanfaatan infrastrukturnya. Pernyataan ini menjadi sorotan penting di tengah gencarnya pemerintah mendorong elektrifikasi transportasi roda dua di Indonesia.

β€œKecukupan juga tidak bisa hanya dibandingkan antara jumlah motor dan SPBKLU. Kebutuhan ojol (ojek online), pekerja kantoran maupun sektor pariwisata akan berbeda dari sisi lokasi dan jenis infrastrukturnya,” kata Riniwaty ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa.

Dua Pendekatan Utama Anggota Aismoli

Riniwaty menjelaskan, anggota Aismoli saat ini merupakan merek-merek sepeda motor listrik yang menggunakan dua pendekatan utama dalam memasarkan produknya. Pendekatan pertama adalah sistem penukaran baterai atau yang dikenal dengan istilah battery swapping, sementara pendekatan kedua menggunakan baterai terintegrasi atau integrated battery.

Untuk merek dengan sistem penukaran baterai, masing-masing telah memiliki strategi terkait jumlah dan penempatan kabinet penukaran baterai. Sementara untuk sepeda motor dengan baterai terintegrasi, sejumlah merek menyediakan fasilitas pengisian daya melalui grup usaha maupun bekerja sama dengan penyedia infrastruktur.

β€œJadi, indikatornya bukan hanya berapa jumlah SPBKLU, tetapi lokasi, profil pengguna, teknologi kendaraan dan tingkat utilisasinya,” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem motor listrik tidak bisa diseragamkan antarwilayah. Setiap daerah memiliki karakteristik pengguna yang berbeda, sehingga kebutuhan infrastrukturnya pun tidak sama.

Pengisian Daya di Rumah Masih Dominan

Riniwaty menambahkan bahwa sebagian besar kebutuhan pengguna sepeda motor listrik saat ini masih dapat dipenuhi melalui pengisian daya di rumah atau kantor. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem ke depan tidak hanya bergantung pada infrastruktur publik semata.

Menurut dia, communal charging hub atau tempat pengisian daya bersama yang bisa digunakan oleh beberapa pengguna kendaraan listrik juga akan semakin relevan. Fasilitas ini dinilai penting terutama bagi pengguna yang memiliki keterbatasan kapasitas listrik di tempat tinggal maupun membutuhkan pengisian daya darurat ketika berada di perjalanan.

Dengan demikian, pembangunan infrastruktur sepeda motor listrik menuju peningkatan adopsi kendaraan listrik perlu mengombinasikan tiga elemen utama. Pertama, pengisian daya di rumah atau kantor. Kedua, fasilitas pengisian daya bersama dan publik. Ketiga, sistem penukaran baterai sesuai kebutuhan pengguna dan karakteristik wilayah.

Hingga Maret 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sebanyak 4.892 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) telah beroperasi di 3.163 titik. Perlu dicatat, data SPKLU ini bercampur dengan penggunaan roda empat listrik.

Sementara itu, Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) juga terus berkembang untuk mendukung ekosistem motor listrik nasional. Sebanyak 1.907 SPBKLU telah tersebar di Indonesia hingga Maret, dengan rincian 1.480 unit di Jawa, 238 unit di Sumatera, 120 unit di Bali, 48 unit di Sulawesi, 20 unit di Kalimantan, dan 1 unit di Nusa Tenggara.

Data sebaran tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi infrastruktur masih terpusat di Pulau Jawa. Kondisi ini pun menjadi perhatian tersendiri karena pemerataan infrastruktur menjadi kunci adopsi kendaraan listrik di seluruh wilayah Indonesia.

Ke depan, Aismoli menilai pendekatan pembangunan infrastruktur yang berbasis kebutuhan pengguna akan lebih efektif dibandingkan sekadar mengejar target jumlah unit. Dengan memahami pola perjalanan, jenis kendaraan, dan karakteristik wilayah, pengembangan ekosistem motor listrik dapat berjalan lebih efisien dan tepat sasaran.

Adopsi kendaraan listrik memang membutuhkan infrastruktur yang memadai, namun infrastruktur tersebut harus hadir di lokasi yang tepat dan melayani kebutuhan nyata pengguna. Kehadiran SPBKLU di suatu wilayah tanpa memperhatikan profil penggunanya dikhawatirkan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan adopsi motor listrik.

Selain itu, kombinasi antara pengisian daya mandiri di rumah, fasilitas publik, dan sistem penukaran baterai dinilai sebagai solusi paling realistis untuk kondisi geografis Indonesia yang luas dan beragam. Setiap wilayah dapat mengadopsi model infrastruktur yang paling sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Aismoli sendiri sebelumnya juga telah mengusulkan insentif fiskal untuk pembangunan infrastruktur motor listrik di luar Jawa. Usulan tersebut menunjukkan keseriusan asosiasi dalam mendorong pemerataan ekosistem kendaraan listrik di seluruh Indonesia.

Dengan semakin berkembangnya pasar kendaraan listrik global, Indonesia perlu memastikan kesiapan infrastrukturnya sejak dini. Pendekatan yang berbasis data dan kebutuhan pengguna akan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekosistem motor listrik yang berkelanjutan di Tanah Air.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.