📑 Daftar Isi

Drone TRT buatan Airbound yang dirancang lebih ringan dari muatan untuk pengiriman barang hemat biaya

Airbound Raih Pendanaan Rp600 Miliar untuk Drone Pengiriman Murah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Airbound, startup drone India, raih pendanaan Seri A US$37 juta dipimpin Greenoaks
  • Total dana terkumpul hampir US$50 juta setelah putaran seed US$8,65 juta
  • Drone TRT berbobot 3,3 pon dengan muatan 2,2 pon, versi baru 6,6 pon untuk muatan 11 pon
  • Target jaringan 10.000 penerbangan harian di tiga kota Andhra Pradesh
  • Perjanjian dengan Narayana Health untuk transportasi sampel diagnostik
  • Tantangan utama: regulasi BVLOS dan status pre-revenue dengan 150+ karyawan

Telset.id – Airbound, startup asal India yang mengembangkan drone otonom, berhasil mengumpulkan dana segar sebesar US$37 juta atau sekitar Rp600 miliar. Pendanaan Seri A ini dipimpin oleh Greenoaks dengan partisipasi dari DoorDash, Lachy Groom, Lightspeed, dan Humba Ventures. Pendanaan ini datang kurang dari setahun setelah Airbound mengumpulkan dana awal senilai US$8,65 juta pada putaran seed.

Dengan pendanaan terbaru ini, total dana yang berhasil dikumpulkan oleh startup yang baru berusia tiga tahun tersebut mencapai hampir US$50 juta. Airbound, bersama startup lain di sektor yang sedang berkembang ini, berargumen bahwa drone dapat memindahkan barang tertentu lebih cepat dan lebih murah dibandingkan kendaraan di jalan raya. Meskipun sudah ada beberapa penerapan yang berhasil, pengiriman drone masih jauh dari skala dan fleksibilitas pengiriman truk.

Misi Menyamakan Biaya dengan Transportasi Darat

Airbound berusaha menutup kesenjangan tersebut dengan mendesain ulang pesawatnya agar lebih kompetitif dengan transportasi darat. Pesawat konvensional menghabiskan banyak energi untuk membawa beratnya sendiri daripada muatan, membuat penerbangan menjadi mahal, terutama untuk mengangkut muatan kecil. Jawaban Airbound adalah membangun drone penerbangan vertikal yang dirancang lebih ringan daripada kargo yang mereka bawa, kata pendiri dan CEO Naman Pushp dalam sebuah wawancara.

Drone Airbound saat ini, yang disebut TRT, memiliki berat sekitar 3,3 pon dan dapat membawa muatan sekitar 2,2 pon. Versi berikutnya yang sedang dikembangkan diharapkan memiliki berat sekitar 6,6 pon dan mampu membawa hingga 11 pon. Pushp mengungkapkan hal ini kepada TechCrunch. Startup ini menggunakan desain roket dengan konfigurasi tail-sitter untuk drone mereka, yang lepas landas dan mendarat secara vertikal dalam posisi tegak sebelum beralih ke penerbangan horizontal.

Pushp mengatakan Airbound bermaksud mempertahankan lepas landas dan pendaratan vertikal bahkan saat mengembangkan pesawat yang lebih besar untuk menghindari ketergantungan pada landasan pacu. “Kami ingin membangun menuju dunia di mana semuanya memiliki paritas biaya dengan pengiriman truk,” ujarnya.

Didirikan pada tahun 2023, Airbound telah menyelesaikan lebih dari 13.000 penerbangan otonom di kota-kota India selatan, Bengaluru dan Guntur. Ini termasuk lebih dari 1.000 penerbangan dengan jaringan rumah sakit India, Narayana Health, di mana drone mereka mengangkut sampel diagnostik antar fasilitas kesehatan.

Startup ini menggunakan satu drone aktif di rute Narayana, menerbangkan sampel diagnostik sekitar 2,5 mil dalam waktu sekitar tujuh menit. Sampel yang sama dapat memakan waktu tiga hingga lima jam untuk diangkut dengan truk jika memperhitungkan waktu yang dihabiskan untuk menunggu cukup banyak sampel dikumpulkan untuk transportasi darat, menurut Pushp.

Kemitraan itu sedang diperluas untuk mencakup rumah sakit baru Narayana di Banashankari, Bengaluru, yang dirancang tanpa laboratorium diagnostik di lokasi atau bank darah dan akan mengandalkan drone Airbound untuk terhubung dengan fasilitas terpusat.

Jaringan Drone Tiga Kota dan Tantangan Regulasi

Airbound memiliki ambisi yang jauh lebih besar untuk menciptakan jaringan pengiriman drone yang menghubungkan tiga kota di negara bagian Andhra Pradesh. Startup ini telah menandatangani perjanjian dengan pemerintah negara bagian dengan target akhir 10.000 penerbangan per hari untuk pengiriman ritel, e-commerce, dan layanan kesehatan. Target penerbangan harian itu akan membutuhkan antara 250 hingga 1.000 pesawat, tergantung pada panjang rute, meskipun Pushp memperkirakan jumlahnya akan mendekati 250.

Perjanjian tersebut tidak melibatkan kontrak pemerintah atau subsidi, kata Pushp, seraya menambahkan bahwa pemerintah Andhra Pradesh bekerja sama dengan Airbound pada kerangka regulasi yang diperlukan untuk memungkinkan jaringan tersebut. Startup ini berharap dapat menghasilkan bisnis dari perusahaan yang menggunakan layanannya untuk pengiriman.

Startup India lainnya termasuk Skye Air Mobility dan TSAW Drones sudah membangun bisnis logistik udara, sementara pembuat drone India lainnya seperti Garuda Aerospace juga telah mengeksplorasi kasus penggunaan pengiriman. Meskipun demikian, Pushp berargumen bahwa Airbound ingin membangun pesawat yang pada akhirnya bisa digunakan oleh jaringan logistik lain, bukan hanya mencoba menjadi operator pengiriman terbesar. “Itulah peran Boeing — pesawat yang diandalkan semua maskapai di mana-mana, bukan maskapainya itu sendiri,” katanya.

Airbound merancang dan memproduksi pesawatnya di fasilitas seluas 43.000 kaki persegi di Bengaluru, di mana mereka menjaga pekerjaan pada badan pesawat dan sistem inti lainnya secara internal. Meskipun Pushp menolak untuk mengungkapkan kapasitas produksinya atau berapa banyak pesawat yang telah dibangun startup ini sejauh ini, ia mengatakan manufaktur tidak akan menjadi hambatan saat Airbound berkembang.

Hambatan yang lebih besar, menurut Pushp, adalah regulasi, terutama mendapatkan persetujuan untuk operasi beyond visual line of sight (BVLOS), sertifikasi yang memungkinkan drone terbang melampaui pandangan langsung operator dan sangat penting untuk mengoperasikan jaringan pengiriman dalam skala besar. Kendala regulasi tersebut juga telah membatasi kemampuan Airbound untuk mengubah penerbangannya menjadi pendapatan komersial yang berarti.

Terlebih lagi, startup ini masih belum menghasilkan pendapatan secara luas meskipun memiliki tim lebih dari 150 karyawan. “Tujuannya adalah menjadi raksasa dalam beberapa dekade, bukan menghasilkan pendapatan secepat mungkin,” kata Pushp.

Perkembangan di sektor teknologi India memang menarik untuk disimak. Beberapa waktu lalu, OnePlus menyiapkan HP murah khusus untuk pasar India. Sementara itu, Infinix Hot 70 Pro juga segera meluncur di negara tersebut. Industri teknologi India terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan di berbagai sektor.

Keberhasilan Airbound mengumpulkan pendanaan besar menunjukkan keyakinan investor terhadap potensi drone untuk pengiriman barang. Dengan desain yang lebih ringan dari muatannya, Airbound berupaya membuktikan bahwa drone bisa menjadi alternatif ekonomis untuk transportasi darat. Namun, tantangan regulasi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum visi tersebut terwujud sepenuhnya.

Komitmen Airbound untuk membangun pesawat yang bisa digunakan jaringan logistik lain, bukan sekadar menjadi operator pengiriman, menunjukkan strategi jangka panjang yang berbeda dari kompetitornya. Dengan pendanaan segar ini, Airbound memiliki modal untuk terus mengembangkan teknologi dan menunggu regulasi yang lebih mendukung.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.