Telset.id – Google tengah mengembangkan fitur baru pada aplikasi Google Messages yang mampu mendeteksi dan memberi label pada gambar yang dibuat atau diedit menggunakan kecerdasan buatan (AI). Temuan ini berasal dari analisis kode aplikasi yang dilakukan oleh pakar pembongkaran kode, AssembleDebug, yang menunjukkan bahwa Google Messages bersiap membaca sertifikat C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity), sebuah standar digital yang mencatat riwayat pembuatan dan pengeditan sebuah file gambar.
Fitur ini masih dalam tahap pengembangan dan belum aktif digunakan. Kode tersebut ditemukan dalam build aplikasi messages.android_20260611_04_RC00 dan telah terlihat di beberapa rilis terbaru. Meski demikian, ini merupakan sinyal kuat bahwa Google serius memberantas penyebaran konten hasil rekayasa AI di platform perpesanan instan.
Menurut laporan yang dirilis, fitur pendeteksi ini akan ditempatkan di menu overflow gambar, tepatnya pada opsi View details. Panel informasi yang muncul nantinya tidak hanya memberikan label “ya” atau “tidak” secara sederhana. Google menyiapkan sekitar 18 deskripsi berbeda, mulai dari “Media captured with a camera” hingga “Parts of this media may have been made with AI.” Tingkat detail ini menunjukkan Google ingin memberikan informasi yang lebih bernuansa kepada pengguna.
Baca Juga:
Mengapa Label Gambar Ini Penting?
C2PA adalah standar bersama yang mencatat bagaimana sebuah gambar dibuat dan diedit. Sederhananya, ponsel Anda bisa memberi tahu apakah foto yang dikirimkan kerabat diambil dengan kamera atau dihasilkan dari perintah teks ke generator AI. Ini menjadi krusial di tengah maraknya gambar hiper-realistis buatan AI yang sulit dibedakan dari foto asli.
Kekhawatiran ini sudah disuarakan oleh pengguna di forum Reddit. Seorang pengguna dengan nama manav_yantra di subreddit r/infp berargumen bahwa gambar AI hiper-realistis mulai berbahaya dan bahkan orang yang paham teknologi pun mulai tertipu. Meskipun hanya anekdot, sentimen ini mencerminkan keresahan yang dirasakan banyak orang belakangan ini.
Langkah ini sejalan dengan pola Google yang lebih luas. Perusahaan sudah menyematkan deteksi watermark SynthID di Google Photos dan Gemini. Dengan membaca C2PA di dalam Messages, jaring deteksi itu diperluas ke tempat gambar benar-benar beredar, yaitu di aplikasi chatting.
Pelajaran Pahit dari Meta
Namun, ada tantangan besar yang mengintai. Meta sudah lebih dulu menerapkan ide serupa dengan membaca tag C2PA untuk memberi stempel ‘Made with AI’ di Facebook, Instagram, dan Threads. Sayangnya, sistem tersebut bermasalah. Sebuah laporan mendokumentasikan bahwa fitur itu sering salah mendeteksi foto asli. Seorang mantan fotografer Gedung Putih dan sebuah tim kriket mendapat label yang salah setelah pengeditan Photoshop rutin meninggalkan metadata bergaya AI.
Pengalaman Meta ini menjadi peringatan bagi Google. Jika tidak hati-hati, fitur serupa di Google Messages bisa mewarisi masalah false positive yang sama. Pengguna yang sudah merasakan masalah di Facebook, Instagram, atau WhatsApp tentu akan skeptis terhadap implementasi serupa.
Siapa yang Diuntungkan?
Fitur ini akan sangat membantu orang-orang yang sering meneruskan gambar yang tidak mereka ambil sendiri, seperti meme di grup obrolan, foto dari thread keluarga, atau tangkapan layar dari tangkapan layar. Dengan satu sentuhan pada menu View details, pengguna bisa mengetahui asal-usul gambar tanpa harus menyipitkan mata menebak-nebak.
Ketika fitur ini dirilis nanti, aksesnya akan sangat mudah. Cukup ketuk gambar, buka menu overflow, dan pilih View details, tepat di tempat informasi pesan sudah berada. Tidak ada tombol khusus atau aplikasi terpisah. Ini adalah pendekatan yang tepat untuk memastikan adopsi yang luas.
Yang menarik, Google sendiri juga mengembangkan generator gambar canggih bernama Nano Banana. Ironisnya, perusahaan kini membangun alat untuk mendeteksi gambar yang dihasilkan oleh model serupa. Ini bukan berarti upaya deteksi itu sia-sia, tetapi menunjukkan posisi unik Google yang berada di dua sisi mata uang yang sama.
Jika fitur ini akhirnya dirilis dan berhasil mengatasi masalah false positive yang dialami Meta, ini akan menjadi langkah maju yang signifikan dalam memerangi misinformasi visual. Namun, kata kuncinya adalah “jika”. Semua ini masih berupa kode yang belum aktif. Belum ada yang bisa dicari atau dicoba saat ini.
Bagi pengguna yang ingin tahu lebih banyak tentang ekosistem Google, Anda bisa menyimak Fitur Terbaru lainnya dari Google. Atau, jika Anda tertarik dengan perkembangan AI secara umum, artikel tentang ChatGPT Capai 1 Miliar Pengguna bisa menjadi bacaan menarik.





Komentar
Belum ada komentar.