Ilustrasi Google Earth dengan fitur AI Nano Banana 2 yang ditarik kembali oleh Google

Google Earth Hapus Nano Banana 2 Setelah Seminggu Diluncurkan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Google menarik fitur Nano Banana 2 dari Google Earth hanya satu hari setelah diluncurkan
  • Fitur ini disalahgunakan untuk membuat gambar tidak pantas seperti pesawat menabrak World Trade Center dan Menara Eiffel hancur
  • Google mengakui pengguna membagikan gambar yang melanggar kebijakan dan akan memperkuat pengaman
  • Potensi misinformasi menjadi kekhawatiran utama karena gambar bisa dikira citra satelit asli
  • AI generatif dinilai tidak cocok untuk alat edukasi seperti Google Earth yang seharusnya menyajikan informasi akurat
  • Gambar yang dihasilkan tidak muncul di pengalaman utama Google Earth dan diberi tanda air AI

Telset.id – Google resmi menarik fitur AI image generation Nano Banana 2 dari Google Earth hanya satu hari setelah peluncurannya. Keputusan ini diambil setelah pengguna menyalahgunakan fitur tersebut untuk membuat gambar yang tidak pantas dan berpotensi menyebarkan disinformasi terkait lokasi dunia nyata.

Google Earth merupakan program eksplorasi dunia yang selama ini dikenal sebagai sumber informasi geografis yang akurat dan dapat diandalkan. Integrasi Nano Banana 2 awalnya dipasarkan sebagai cara bagi pengguna untuk membuat infografis tentang berbagai lokasi di seluruh dunia, menghasilkan lanskap historis dari citra modern, hingga memvisualisasikan “rumah impian” mereka dengan latar belakang dunia nyata.

Peluncuran ini merupakan bagian dari tren Google yang mengintegrasikan platform AI ke hampir semua produk dan layanannya. Sebelumnya, perusahaan juga menambahkan kemampuan Gemini baru ke Google Docs untuk pengguna Workspace. Namun, integrasi ke Google Earth ternyata menjadi keputusan yang keliru.

## Penyebab Penarikan Fitur

Google mengeluarkan pembaruan pada pengumuman awalnya dengan pernyataan resmi: “Kami tahu bahwa orang-orang secara unik mempercayai Google Earth untuk tampilan dunia yang andal. Kami telah melihat para profesional geospasial menggunakan fitur ini untuk berbagai tujuan yang bermanfaat; namun, kami juga melihat orang-orang membagikan tangkapan layar dari gambar yang dihasilkan yang tampaknya melanggar kebijakan kami. Jadi kami menarik kembali fitur ini di Google Earth sementara kami berupaya menerapkan pengaman yang lebih kuat. Penting untuk dicatat bahwa gambar yang dihasilkan tidak muncul di pengalaman Google Earth utama untuk dilihat orang lain dan diberi tanda air sebagai gambar yang dihasilkan AI.”

Pernyataan tersebut dianggap tidak menggambarkan secara tepat apa yang terjadi. Pengguna internet menggunakan Nano Banana 2 untuk menghasilkan gambar yang tidak pantas dan tidak sensitif berdasarkan lokasi nyata. Salah satu gambar yang paling banyak beredar adalah pesawat yang menabrak World Trade Center baru di Manhattan. Gambar lainnya menggambarkan Menara Eiffel yang hancur, atau piramida Mesir yang runtuh ke dalam lubang pembuangan.

Potensi misinformasi dan disinformasi menjadi kekhawatiran utama. Seorang pengguna mendemonstrasikan bagaimana mereka menggunakan alat tersebut untuk menempatkan pengungsi bahu-membahu di dekat perbatasan Meksiko. Bayangkan jika gambar seperti itu menjadi viral, dengan pemirsa yang terkecoh mengira tangkapan layar Google Earth tersebut adalah citra satelit asli.

Google kemungkinan memiliki beberapa pengaman yang mencegah banyak pembuatan gambar, tetapi jelas batasan tersebut tidak cukup kuat. Yang lebih mengkhawatirkan, siapa pun, baik yang membayar fitur AI Google atau tidak, dapat menggunakan Nano Banana 2 dengan Google Earth. Pengguna hanya perlu membuka Google Earth dan mencoba berbagai perintah berbahaya sampai Nano Banana 2 mematuhinya.

## AI Generatif Tidak Cocok untuk Google Earth

Alat seperti Google Earth dirancang untuk tujuan edukasi. Pengguna memanfaatkannya untuk belajar tentang dunia, geografi, dan penampakan berbagai kota serta lanskap. Banyak orang menghabiskan waktu memutar bola dunia digital untuk mempelajari lokasi baru dan sering menjatuhkan pin di tempat acak untuk melihat seperti apa di Street View. Alasan melakukan ini adalah karena memahami Google Earth sebagai tampilan dunia yang akurat dan andal.

Memperkenalkan alat yang secara alami menghasilkan pandangan dunia yang tidak akurat dan salah menjadi kontradiksi dengan fungsi utama Google Earth. Salah satu daya tarik fitur ini adalah melihat suatu tempat di peta seperti penampakannya di masa lalu, tetapi itu bukan yang dilakukan Nano Banana 2. AI akan menarik dari data pelatihannya untuk menghasilkan apa yang menurutnya merupakan representasi historis dari area tersebut. Jika diminta menunjukkan seperti apa Paris pada tahun 1726, AI kemungkinan akan menempatkan bangunan dan struktur generik di peta, bukan menggambarkan seperti apa Paris sebenarnya tiga ratus tahun lalu.

Yang didapatkan pengguna hanyalah ilusi sejarah; menghibur mungkin, tetapi tentu tidak mendidik. Hal yang sama berlaku untuk “infografis” AI. Meskipun perusahaan seperti Google suka menonjolkan potensi AI sebagai alat pendidikan, gambar yang dihasilkan tidak diverifikasi oleh siapa pun, dan tentu saja tidak oleh seorang ahli. Gambar yang dikeluarkan Nano Banana 2 bisa penuh dengan setengah kebenaran dan halusinasi, dan yang lebih buruk, tidak menawarkan sumber yang bisa diklik untuk memeriksa hasil kerja AI.

Pada kondisi terburuknya, fitur ini menjadi mesin disinformasi. Jika seseorang ingin meyakinkan orang lain bahwa sesuatu yang buruk terjadi di bagian tertentu dunia, mereka tinggal mengetik permintaan, dan Nano Banana 2 bisa mengeluarkan gambar satelit realistis dari ide tersebut untuk dibagikan dengan mudah di media sosial. Di saat AI menyebarkan misinformasi dengan cepat, hal ini hanya menambah bahan bakar ke api yang sudah berkobar.

Perusahaan seperti Google seharusnya mencari cara untuk memisahkan sampah AI dari informasi nyata, bukan membantunya tumbuh. Ini bukan argumen menentang alat AI secara keseluruhan, tetapi argumen menentang penanaman AI generatif ke dalam alat pendidikan. Google Earth seharusnya tetap menjadi sumber informasi geografis yang dapat dipercaya, bukan tempat untuk menghasilkan gambar-gambar yang tidak akurat dan berpotensi menyesatkan.

Keputusan Google untuk menarik kembali fitur ini menunjukkan bahwa integrasi AI ke dalam produk edukasi memerlukan pertimbangan yang lebih matang. Meskipun Google telah memberi tanda air pada gambar yang dihasilkan AI dan memastikan gambar tersebut tidak muncul di pengalaman utama Google Earth, penyalahgunaan oleh pengguna tetap terjadi. Langkah penarikan ini menjadi pelajaran penting bagi perusahaan teknologi lain yang berencana mengintegrasikan AI generatif ke dalam produk serupa.

Ke depannya, Google perlu memperkuat pengaman sebelum mempertimbangkan untuk meluncurkan kembali fitur serupa. Kepercayaan pengguna terhadap Google Earth sebagai sumber informasi geografis yang akurat harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar menambahkan fitur AI demi mengikuti tren.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.