Telset.id – Pengguna kamera saku DJI Osmo kini punya alternatif baru untuk mengelola footage mereka. Osmosis, aplikasi open-source gratis yang dikembangkan oleh pengamat DJI, Konrad Iturbe, berhasil melakukan reverse engineering terhadap protokol komunikasi kamera DJI dengan aplikasi resmi Osmo. Hasilnya, pengguna bisa mengunduh file, melihat thumbnail, streaming preview resolusi rendah, memotong klip, dan mengatur unduhan tanpa harus bergantung pada aplikasi resmi DJI yang dinilai boros dan tertutup.
Aplikasi ini hadir sebagai jawaban atas keluhan banyak pengguna yang merasa aplikasi closed-source milik DJI terlalu berat dan selalu terhubung ke server cloud perusahaan. Osmosis menawarkan pendekatan berbeda dengan menjadi aplikasi gratis yang sumbernya terbuka, memberikan kontrol lebih kepada pengguna atas data dan perangkat mereka.
Dilansir dari The Verge, Osmosis telah berhasil diuji pada DJI Osmo Pocket 3 dan Osmo Pocket 4P yang mudah dibeli di Amerika Serikat. Aplikasi ini juga telah diuji pada Osmo Nano, Osmo Action 5 Pro, dan Osmo Action 6. Menariknya, Osmosis disebut-sebut juga kompatibel dengan versi Xtra dari kamera-kamera tersebut. Bagi pengguna yang penasaran dengan spesifikasi kamera terbaru, informasi mengenai Osmo Pocket 4P bisa menjadi referensi tambahan.
Salah satu fitur unggulan Osmosis adalah kemampuannya untuk menampilkan grid media. Pengguna dapat mengetuk salah satu dari empat tombol teal untuk memfilter atau memilih banyak file sekaligus. Antarmuka ini memudahkan pengguna melihat isi kartu SD, termasuk status kapasitas penyimpanan dan daya baterai yang tersisa. Fitur ini sangat membantu untuk memilah footage di lapangan tanpa harus membuka aplikasi berat.
Fitur live preview juga tersedia, memungkinkan pengguna melihat streaming video resolusi rendah langsung dari kamera ke ponsel. Yang menarik, pengguna bisa melakukan preview dan mengunduh file secara bersamaan saat kamera sedang merekam. Mode edit juga tersedia dengan tombol pensil yang membawa pengguna ke antarmuka pemotongan klip.
Kemudahan pemasangan kamera baru juga menjadi nilai plus. Osmosis secara otomatis mendeteksi kamera secara nirkabel dan aplikasi dapat mengingat lebih dari satu perangkat. Saat menekan tombol pairing di aplikasi, layar pairing otomatis muncul di kamera, mempercepat proses koneksi.
Namun, perlu dicatat bahwa aplikasi ini belum sepenuhnya sempurna. Beberapa kekurangan masih terlihat, seperti waktu koneksi yang lebih lama dari yang diinginkan untuk mulai menelusuri media. Pada Osmo Pocket 3, Osmosis belum sepenuhnya melipat gimbal secara otomatis, sehingga lensa tetap terbuka kecuali pengguna melipatnya secara manual. Ini berbeda dengan perilakunya pada Osmo Pocket 4 Pro yang berhasil melipat gimbal secara otomatis.
Terdapat juga keterbatasan pada fitur filter favorit. Saat memfilter berdasarkan “Faved”, aplikasi hanya menampilkan item yang ditandai hati di Osmosis, bukan yang ditandai di kamera itu sendiri. Ini menjadi catatan bagi pengguna yang terbiasa menandai favorit langsung dari perangkat.
Meski belum sempurna, Osmosis dinilai sudah cukup baik untuk kebutuhan pengguna yang kerap membuat konten video. Jurnalis The Verge yang menguji aplikasi ini mengaku sering ragu apakah footage yang diambil sudah “dapat” atau belum karena layar Osmo Pocket 3 yang kecil. Alih-alih membuka aplikasi DJI Mimo untuk memeriksa, ia lebih memilih merekam berlebihan dan mentransfer banyak footage yang tidak diperlukan. Dengan Osmosis, ia bisa meninjau semua rekaman, menghapus yang tidak diinginkan, memotong yang diperlukan, dan membuat seleksi langsung di aplikasi.
Baca Juga:
Osmosis bukan satu-satunya aplikasi open-source yang dikembangkan untuk menggantikan DJI Mimo. Terdapat OpenPocketCine, aplikasi field monitor ambisius untuk lini Osmo Pocket yang menawarkan custom LUT dan fitur seperti focus peaking dan zebra. Fitur-fitur ini sangat berguna bagi pengguna yang kesulitan menilai fokus dan eksposur pada layar kecil Pocket. Aplikasi ini dikembangkan oleh pengembang OpenZCine untuk kamera Nikon Z.
Kehadiran aplikasi-aplikasi alternatif ini menunjukkan adanya ekosistem pengembang yang aktif menciptakan solusi bagi pengguna DJI. Dengan sifatnya yang open-source, Osmosis dan OpenPocketCine membuka peluang bagi komunitas untuk terus mengembangkan dan memperbaiki fitur-fitur yang ada. Ini menjadi angin segar bagi pengguna yang menginginkan fleksibilitas dan kontrol lebih atas perangkat mereka.
Bagi pengguna yang ingin mencoba, Osmosis dapat menjadi pilihan menarik untuk mengelola footage kamera Osmo tanpa harus terikat dengan aplikasi resmi DJI. Meskipun masih dalam tahap pengembangan, aplikasi ini sudah menawarkan fungsionalitas dasar yang cukup lengkap untuk kebutuhan sehari-hari.
Perkembangan aplikasi open-source seperti Osmosis juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi, di mana pengguna semakin sadar akan pentingnya privasi dan kontrol atas data mereka. Dengan aplikasi yang tidak terhubung ke server cloud perusahaan, pengguna bisa merasa lebih tenang mengenai keamanan footage mereka.
Ke depannya, menarik untuk melihat bagaimana Osmosis dan aplikasi sejenis akan berkembang. Dukungan komunitas yang kuat dan sifatnya yang terbuka menjadi modal utama untuk terus berinovasi. Bagi pengguna DJI Osmo, ini adalah kabar baik karena mereka kini punya pilihan selain aplikasi resmi.





Komentar
Belum ada komentar.