Telset.id – Ambisi Amerika Serikat untuk kembali ke Bulan mengalami perubahan arah yang dramatis. Hanya beberapa pekan setelah merombak program Artemis, NASA mengumumkan keputusan yang lebih mengejutkan: menghentikan sementara rencana pembangunan stasiun luar angkasa orbit Bulan, Gateway. Alih-alih mengorbit, fokus kini beralih ke pembangunan pangkalan permanen di permukaan Bulan senilai $20 miliar. Apa yang mendasari perubahan strategi besar-besaran ini, dan bagaimana dampaknya terhadap misi Artemis yang sudah di ambang peluncuran?
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Administrator NASA, Jared Isaacman, dalam acara Ignition NASA pada Selasa lalu. Pernyataannya tegas dan berambisi tinggi: “NASA berkomitmen untuk mencapai yang hampir mustahil sekali lagi, untuk kembali ke Bulan sebelum akhir masa jabatan Presiden Trump, membangun pangkalan Bulan, membangun kehadiran yang bertahan lama, dan melakukan hal-hal lain yang diperlukan untuk memastikan kepemimpinan Amerika di luar angkasa.” Pergeseran dari stasiun orbit ke pangkalan darat ini bukan hanya perubahan teknis, melainkan perubahan filosofi eksplorasi yang signifikan. Gateway, yang merupakan kolaborasi internasional dan dirancang sebagai titik pemberhentian untuk misi ke permukaan Bulan dan bahkan lebih dalam lagi, kini resmi “dijeda”.
Latar belakang keputusan ini sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Rencana anggaran yang diajukan administrasi Trump pada Mei tahun lalu telah menandai Gateway sebagai salah satu program yang akan dipotong. Analis melihat, meski secara teknis canggih, konsep Gateway dinilai terlalu kompleks, mahal, dan mungkin kurang langsung memberikan manfaat yang terlihat dibandingkan dengan kehadiran fisik di permukaan. Dengan tekanan politik untuk menunjukkan hasil yang nyata sebelum akhir masa jabatan, pilihan untuk membangun pangkalan di tanah Bulan tampaknya dianggap lebih simbolis dan berdampak secara strategis.
Rencana Bertahap Menuju Pangkalan Bulan
Lalu, seperti apa wujud rencana baru NASA ini? Badan antariksa tersebut memaparkan tiga fase yang terstruktur. Fase pertama akan memanfaatkan kontraktor swasta melalui program Commercial Lunar Payload Services (CLPS) untuk mengirimkan rover dan instrumen ilmiah ke Bulan. Ini adalah kelanjutan dari pendekatan komersial yang sudah dirintis. Fase kedua adalah pembangunan “infrastruktur semi-hunian”, di mana astronaut akan mulai tinggal di permukaan dengan kolaborasi dari badan antariksa negara mitra. Fase ketiga dan paling ambisius adalah penambahan “infrastruktur berat” untuk mendukung tinggal jangka panjang, termasuk modul habitat multi-guna dari Italian Space Agency dan kendaraan utilitas lunar dari Canadian Space Agency.
Target waktu yang dicanangkan juga agresif. NASA berambisi memulai pendaratan berawak ke Bulan setiap enam bulan, dimulai setelah misi Artemis V yang saat ini dijadwalkan pada 2028. Ini berarti, jika rencana baru ini berjalan, dekade 2030 akan menjadi era dimana aktivitas manusia di Bulan menjadi rutinitas. Perubahan fokus ini tentu akan mempengaruhi jadwal misi Artemis secara keseluruhan, meski misi berawak pertama Artemis yang rencananya segera meluncur tetap menjadi prioritas utama untuk membuktikan kemampuan sistem.
Baca Juga:
Komet yang Berputar Arah dan Planet yang Terungkap
Sementara NASA sibuk mengubah rencana di Bumi, fenomena langit yang unik terungkap di tata surya kita. Sebuah studi dalam The Astronomical Journal melaporkan observasi pertama kalinya sebuah komet terlihat membalikkan arah putarannya. Komet tersebut adalah 41P/Tuttle-Giacobini-Kresák. Pengamatan pada 2017 menunjukkan komet ini melambat setelah melintas dekat Matahari, sebelum kemudian berputar lebih cepat lagi pada Desember tahun itu. Periode rotasinya berubah drastis dari sekitar 46-60 jam menjadi hanya 14 jam.
David Jewitt dari UCLA, salah satu penulis studi, memberikan analogi yang mudah dicerna. “Jet gas yang menyembur dari permukaan bisa bertindak seperti pendorong kecil. Jika jet itu tersebar tidak merata, mereka bisa mengubah secara dramatis bagaimana sebuah komet, terutama yang kecil, berotasi.” Ia membandingkannya dengan mendorong komidi putar. “Jika dia berputar ke satu arah, lalu Anda mendorong melawan arah itu, Anda bisa memperlambat dan membalikkannya.” Perubahan rotasi yang drastis ini, didorong oleh pemanasan Matahari yang menyublimkan es komet, bisa menyebabkan ketidakstabilan struktural. Jewitt bahkan memprediksi, “Saya perkirakan inti komet ini akan sangat cepat hancur dengan sendirinya.”
Di tempat lain, kemajuan teknologi teleskop terus memukau kita. Gambar-gambar menakjubkan Saturnus yang dirilis NASA, ESA, dan CSA minggu ini memberikan pandangan lebih detail tentang atmosfer “sibuk” planet bercincin itu. Gambar yang diambil oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble dan Teleskop Luar Angkasa James Webb pada 2024 ini menampilkan badai, awan pada kedalaman berbeda, aliran jet “gelombang pita” Saturnus, dan banyak lagi. Perbandingan gambar dari kedua teleskop raksasa ini tidak hanya indah, tetapi juga kaya data ilmiah tentang dinamika atmosfer planet raksasa.
Kembali ke program Bulan, keputusan NASA ini tentu menimbulkan pertanyaan. Bagaimana nasib mitra internasional yang sudah terlibat dalam pengembangan modul untuk Gateway? Rencana baru yang berfokus pada pangkalan permukaan justru membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dan konkret, seperti yang terlihat dengan keterlibatan Italia dan Kanada untuk infrastruktur permanen. Selain itu, kesiapan teknologi kendaraan penjelajah juga menjadi kunci, di mana inovasi dari sektor swasta seperti kendaraan listrik startup untuk misi Artemis bisa mendapat tempat.
Perjalanan menuju Bulan memang penuh liku. Seperti yang pernah dibuktikan dalam misi Artemis 1, setiap langkah membutuhkan ketekunan dan adaptasi. Pergeseran dari Gateway ke pangkalan Bulan mungkin terlihat seperti perubahan haluan yang mendadak, tetapi dalam narasi besar eksplorasi ruang angkasa, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi terhadap batasan anggaran, realitas politik, dan kemajuan teknologi adalah hal yang wajar. Yang jelas, mimpi untuk memiliki kehadiran manusia yang permanen di dunia lain kini terdengar lebih nyata daripada sekadar stasiun yang mengitari dari jauh. Pertanyaannya sekarang, apakah visi $20 miliar ini akan menemukan jalannya yang mulus, atau justru menjadi babak baru dalam drama eksplorasi Bulan yang tak pernah sepi dari kejutan?

