Data Grab Terbongkar! Realitas Sunyi di Balik Hiruk Pikuk Gig Economy

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Jika Anda berpikir bahwa jutaan pengemudi ojek online yang berseliweran di jalanan ibu kota adalah pekerja penuh waktu yang menggantungkan seluruh hidupnya pada aplikasi, data terbaru ini mungkin akan mengubah perspektif Anda. Seringkali kita terjebak dalam asumsi bahwa angka pendaftaran yang masif berbanding lurus dengan aktivitas harian yang padat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan dinamika yang jauh lebih kompleks dan manusiawi daripada sekadar deretan angka statistik.

Berdasarkan data internal Grab per Desember 2025, tercatat ada 3,7 juta Mitra Pengemudi yang terdaftar dalam ekosistem mereka. Angka ini memang kolosal, mencerminkan betapa seksinya sektor ini sebagai bantalan ekonomi. Namun, fakta menariknya adalah hanya sekitar 700 ribu hingga 800 ribu mitra, atau setara 19 hingga 22 persen yang benar-benar menyelesaikan minimal satu order di bulan berjalan. Sisanya? Mereka adalah bukti nyata dari fleksibilitas yang menjadi nyawa dari Ketahanan Ekonomi berbasis aplikasi.

Fenomena ini menegaskan bahwa menjadi mitra terdaftar tidak serta merta identik dengan tingkat produktivitas yang konstan. Ada fluktuasi alami di sana. Mitra yang menyelesaikan order hari ini belum tentu akan menarik gas lagi esok hari. Inilah wajah asli dari ekosistem gig economy: sebuah ruang partisipasi yang sangat cair, di mana individu memiliki kebebasan penuh untuk menentukan kapan mereka ingin “masuk” dan kapan harus “keluar” sejenak demi urusan lain, tanpa terikat jam kerja kaku layaknya karyawan korporat.

Kondisi ini mencerminkan karakter partisipasi yang dinamis dan sepenuhnya berbasis pilihan. Bagi sebagian orang, platform ini adalah tumpuan hidup, namun bagi mayoritas lainnya, ini adalah sekoci penyelamat atau sekadar keran tambahan untuk mengisi pundi-pundi yang sedang surut akibat kondisi Ekonomi Semakin Lesu. Grab, sebagai salah satu pemain utama, memahami betul bahwa pendekatan kebijakan dan dukungan tidak bisa dipukul rata, melainkan harus dirancang secara adil dan proporsional berbasis kontribusi nyata.

Content image for article: Data Grab Terbongkar! Realitas Sunyi di Balik Hiruk Pikuk Gig Economy

Anatomi Mitra: Dari Korban PHK hingga Tulang Punggung Keluarga

Menyelami lebih dalam profil para mitra ini, kita akan menemukan potret sosiologis yang menarik tentang tenaga kerja Indonesia modern. Ekosistem ini berfungsi sebagai akses ekonomi yang sangat terbuka dan inklusif. Data menunjukkan bahwa sekitar satu dari dua mitra pengemudi sebelumnya merupakan korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau tidak memiliki sumber pendapatan sama sekali sebelum bergabung. Ini menjadikan platform on-demand sebagai jaring pengaman sosial yang vital di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Demografi usia juga menunjukkan pergeseran menarik. Lebih dari 50 persen mitra berusia di atas 36 tahun, sebuah rentang usia yang seringkali dianggap kurang kompetitif dalam bursa kerja formal. Dengan latar belakang pendidikan mayoritas SMA atau SMK, gig economy memberikan mereka panggung untuk tetap produktif. Tak hanya itu, inklusivitas platform ini juga terlihat dari partisipasi kaum hawa. Tercatat sekitar 182.500 Mitra Pengemudi perempuan yang terdaftar, di mana banyak di antaranya adalah ibu tunggal yang berperan ganda sebagai tulang punggung keluarga. Hal ini sejalan dengan narasi global bahwa Perempuan Berdaya Digital adalah kunci pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

Lebih jauh lagi, ekosistem ini juga membuka pintu bagi penyandang disabilitas. Lebih dari 700 mitra dengan disabilitas terdaftar dalam platform, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berpartisipasi dalam roda ekonomi digital. Neneng Goenadi, Chief Executive Officer Grab Indonesia, menegaskan bahwa komposisi ini menunjukkan fleksibilitas sebagai fondasi utama. Mayoritas mitra memilih menjadikan platform sebagai penghasilan sampingan, sementara hanya sebagian kecil yang menjadikannya nafkah utama.

Pola kerja yang terbentuk pun sangat beragam, tergantung pada moda transportasi dan kebutuhan ekonomi masing-masing individu. Data produktivitas bulanan menjadi cermin jujur bagaimana para mitra memanfaatkan aplikasi ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Stratifikasi Produktivitas: Antara Nafkah Utama dan Sambilan

Analisis data Grab membagi mitra ke dalam beberapa kategori berdasarkan intensitas kerja mereka. Untuk Mitra Pengemudi Roda 4 (mobil), hanya sekitar 10–11 persen yang menjadikan ini sebagai nafkah utama dengan pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dan rata-rata menyelesaikan 11 order per hari. Kelompok elit ini memiliki produktivitas tinggi dan konsisten. Di bawahnya, terdapat kategori penghasilan rutin (21–22 persen) dengan pendapatan Rp4–10 juta, yang masih bekerja teratur namun lebih fleksibel dalam mengatur waktu.

Namun, angka yang paling mencolok justru datang dari kategori penghasilan sampingan. Sekitar 33–34 persen mitra mobil menjadikan ini sebagai tambahan pendapatan (Rp1–4 juta per bulan), biasanya dilakukan di sela-sela waktu luang pekerjaan utama mereka. Bahkan, 34–35 persen lainnya masuk kategori “penghasilan sesekali”, yang hanya menarik penumpang di akhir pekan atau saat butuh uang kaget. Secara total, sekitar 67 persen mitra roda empat menjadikan Grab sebagai sumber penghasilan sampingan, bukan utama.

Pola serupa, bahkan lebih ekstrem, terlihat pada Mitra Pengemudi Roda 2 (motor). Hanya segelintir kecil, yakni 1–2 persen, yang menjadikan ojol sebagai nafkah utama dengan performa super tinggi (di atas 28 order per hari). Sementara itu, dominasi terbesar ada pada mereka yang mencari penghasilan tambahan (41–42 persen) dan penghasilan sesekali (42–43 persen). Ini artinya, lebih dari 80 persen mitra roda dua tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada aspal, melainkan memanfaatkannya sebagai strategi diversifikasi pendapatan.

Neneng menambahkan bahwa kebijakan berbasis tingkat produktivitas adalah pendekatan yang paling adil dalam sistem yang cair ini. “Mitra yang narik dan konsisten tentu membutuhkan bentuk dukungan yang berbeda dibanding mitra yang hanya narik sesekali. Kebijakan berbasis kinerja bukanlah bentuk pembatasan, melainkan upaya untuk memastikan adanya sistem yang adil,” ujarnya. Dukungan yang diberikan pun dirancang agar relevan secara ekonomi dan bermakna secara personal.

Apresiasi Bermakna di Bulan Suci

Sebagai wujud nyata dari pendekatan berbasis kontribusi tersebut, Grab meluncurkan program spesial di bulan Ramadan ini bertajuk “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis”. Program ini bukan sekadar bagi-bagi hadiah, melainkan sebuah penghormatan bagi 105 Mitra Pengemudi yang dinilai berprestasi dan inspiratif. Mereka adalah individu-individu yang tidak hanya mengejar target order, tetapi juga memberikan dampak positif bagi komunitas di sekitarnya.

Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen “Grab untuk Indonesia” Babak 2: Memberi Makna. Penyerahan simbolis dilakukan kepada lima mitra luar biasa yang mewakili semangat juang tinggi. Ada Mpok Fika, seorang relawan juru bahasa isyarat dari Komunitas Mitra Tuli Grab di Jakarta Timur. Kemudian Bapak Jonathan dari Manado, pemimpin komunitas yang aktif menjangkau daerah sulit. Tak ketinggalan Bapak Yusuf dari Surabaya, pendiri komunitas relawan untuk keluarga prasejahtera.

Kisah inspiratif lainnya datang dari Bapak Syamsudin asal Makassar. Sejak 2017, ia berjuang menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya meski memiliki keterbatasan fisik. “Saya jujur kaget dan tidak pernah menyangka perjalanan saya bersama Grab bisa sampai di titik ini. Bagi saya, ini bukan hanya tentang umrah, tetapi tentang merasa dihargai atas setiap usaha dan konsistensi yang saya jalani,” ungkap Syamsudin dengan haru. Ada pula Bapak Yunus dari Jabodetabek, yang sukses ‘naik kelas’ dari layanan GrabBike ke GrabCar Premium berkat kerja kerasnya.

Program ini menegaskan bahwa dalam ekosistem teknologi yang seringkali dianggap dingin dan penuh algoritma, sentuhan kemanusiaan tetap menjadi prioritas. Grab tidak hanya berfokus pada Chip AI canggih atau fitur aplikasi semata, tetapi juga pada kesejahteraan mitra yang menjadi ujung tombak layanan mereka. Pemberian 100 paket umrah tambahan untuk mitra berprestasi lainnya menjadi bukti bahwa loyalitas dan dedikasi memiliki nilai tukar yang tinggi di mata platform.

Ke depan, tantangan ekonomi digital Indonesia adalah menjaga agar pertumbuhan ini tetap inklusif. Dengan model kemitraan yang fleksibel, Grab berupaya memastikan bahwa setiap pertumbuhan yang terjadi juga dapat dirasakan manfaatnya oleh para mitra dan keluarganya. Ini bukan lagi sekadar soal mengantar penumpang dari titik A ke titik B, melainkan tentang perjalanan panjang membangun ekonomi yang memanusiakan manusia.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI