Publik Makin Anti AI, CEO Teknologi Mulai Frustrasi

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Industri teknologi global kini tengah menghadapi fenomena aneh yang disebut sebagai “gelembung AI”, di mana dorongan masif dari para elit teknologi justru disambut dengan permusuhan aktif oleh masyarakat umum. Data pasar terbaru menunjukkan adanya kesenjangan ekstrem antara narasi optimis para CEO dengan realitas adopsi konsumen yang rendah, terutama terkait kesediaan membayar layanan kecerdasan buatan.

William Quinn, penulis buku sejarah ekonomi Boom and Bust, mencatat anomali yang terjadi pada tren AI saat ini. Menurutnya, hampir setiap ledakan teknologi besar dalam sejarah—mulai dari listrik, sepeda, hingga mobil—selalu disambut dengan antusiasme publik, meski dibarengi sedikit ketakutan. Namun, AI dinilai unik karena memicu permusuhan aktif tanpa antusiasme yang sepadan dari masyarakat luas.

Kondisi ini membuat para pemimpin raksasa teknologi merasa “tersakiti”. CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam sebuah wawancara baru-baru ini mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut bahwa narasi negatif tentang “kiamat AI” yang digaungkan oleh tokoh-tokoh terhormat telah merusak citra teknologi tersebut. Padahal, Nvidia sendiri kerap melontarkan kritik regulasi yang dianggap menghambat inovasi mereka.

Senada dengan Huang, CEO OpenAI Sam Altman juga mengakui adanya hambatan dalam penyerapan AI di masyarakat. Dalam Cisco AI Summit, Altman menyebut bahwa melihat apa yang mungkin dilakukan teknologi ini, proses adopsinya terasa “sangat lambat”. Padahal, berbagai inovasi seperti game AI dan asisten virtual terus digelontorkan ke pasar.

Sikap defensif para CEO ini tampaknya mengabaikan data sentimen konsumen yang valid. Survei Pew Research tahun 2025 menemukan bahwa sekitar 60 persen responden menginginkan “kontrol lebih besar” atas penggunaan AI dalam hidup mereka. Hanya 17 persen yang merasa nyaman jika teknologi ini tetap berada di tangan segelintir miliarder teknologi.

Bukti paling memberatkan datang dari data perilaku konsumen. Pada pertengahan 2025, di saat para analis masih membeo soal potensi keuntungan AI, jumlah pengguna AI di Amerika Serikat yang secara rutin membayar layanan tersebut hanya mencapai angka 3 persen. Angka ini sangat kecil mengingat besarnya investasi infrastruktur yang telah dikeluarkan.

Rendahnya angka pengguna berbayar ini mengindikasikan bahwa masalah utamanya mungkin bukan pada sikap masyarakat, melainkan pada nilai guna teknologi itu sendiri. Skeptisisme ini bahkan sudah terlihat di internal perusahaan teknologi, seperti saat karyawan Google mengkritik peluncuran chatbot mereka sendiri yang terburu-buru.

Jika pengguna aktif saja enggan mengeluarkan uang untuk layanan tersebut, narasi tentang revolusi produktivitas yang digadang-gadang para CEO tampaknya masih jauh panggang dari api. Pasar mulai menyadari bahwa “gelembung AI” ini mungkin lebih rapuh daripada yang diakui oleh para pembuatnya.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI