Telset.id – Jika Anda berpikir drama TikTok di Amerika Serikat sudah berakhir dengan kesepakatan bisnis baru, pikirkan lagi. Setelah berhari-hari dihantui masalah teknis yang membuat frustrasi jutaan pengguna, platform video singkat ini akhirnya menyatakan bahwa layanan mereka telah “kembali normal”. Namun, pemulihan ini menyisakan catatan kelam terkait infrastruktur dan kepercayaan pengguna yang mulai goyah.
Kekacauan ini bermula dari kombinasi waktu yang buruk dan bencana alam. Kurang dari seminggu setelah Oracle secara resmi mengambil alih operasional domestik TikTok di AS, badai musim dingin yang parah menghantam wilayah tersebut. Akibatnya, salah satu pusat data utama yang dikelola oleh Oracle lumpuh karena pemadaman listrik. Ini bukan sekadar gangguan kecil; ini adalah ujian infrastruktur pertama di bawah kepemilikan baru yang, sayangnya, gagal diantisipasi dengan baik.
Masalah mulai terdeteksi pada Senin lalu, 26 Januari, ketika TikTok mengumumkan sedang menangani “masalah infrastruktur utama”. Pengguna melaporkan berbagai bug, mulai dari permintaan waktu habis (time-out), hilangnya data pendapatan, hingga nol views pada video yang baru diunggah. Keesokan harinya, meskipun ada klaim kemajuan perbaikan, situasi di lapangan masih jauh dari kata stabil. Kreator konten dibuat panik melihat angka interaksi mereka terjun bebas tanpa alasan jelas.
Data Aman, Namun Kepercayaan Tergerus
Pihak manajemen sempat memberikan klarifikasi mengenai anomali data yang terjadi. Mereka menegaskan bahwa kreator yang melihat jumlah penayangan atau suka (likes) menjadi nol tidak perlu khawatir secara berlebihan. Menurut TikTok, ini hanyalah kesalahan tampilan atau display error yang disebabkan oleh masalah server, sementara data asli dan tingkat keterlibatan pengguna diklaim tetap aman tersimpan di basis data mereka.
Baru pada tanggal 1 Februari kemarin, TikTok dengan percaya diri menyatakan bahwa masalah telah diluruskan sepenuhnya. Dalam pernyataan resminya, mereka meminta maaf kepada komunitas AS atas ketidaknyamanan yang terjadi. “Kami menghargai betapa Anda mengandalkan TikTok untuk berkreasi, menemukan, dan terhubung dengan apa yang penting bagi Anda,” tulis perwakilan platform tersebut, seraya berterima kasih atas kesabaran pengguna selama masa pemulihan infrastruktur pasca badai.
Baca Juga:
Namun, permintaan maaf mungkin tidak cukup untuk membendung gelombang kekecewaan. Sejumlah pengguna AS dilaporkan telah menghapus aplikasi tersebut sebagai respons terhadap masalah teknis yang berlarut-larut dan perubahan kepemilikan yang kontroversial. Isu penyensoran konten juga mencuat ke permukaan, menambah keruh suasana di tengah transisi operasional yang sedang berlangsung.
Isu Sensor dan Migrasi Pengguna
Laporan dari The Guardian menyoroti keluhan pengguna yang merasa konten mereka dibatasi. Beberapa pengguna mengklaim kesulitan membagikan video terkait agen ICE (Immigration and Customs Enforcement) dan konten anti-ICE lainnya. Hal ini memicu spekulasi bahwa di bawah manajemen baru, kebijakan moderasi konten mungkin menjadi lebih ketat atau bahkan politis, meskipun belum ada bukti teknis yang mengonfirmasi perubahan algoritma secara spesifik.
Dampak dari ketidakstabilan ini terlihat jelas dalam data analitik. Perusahaan riset Sensor Tower mengungkapkan kepada CNBC bahwa jumlah pencopotan pemasangan (uninstall) aplikasi TikTok meningkat lebih dari 150 persen selama lima hari sejak perubahan kepemilikan, dibandingkan dengan periode tiga bulan sebelumnya. Ini adalah angka yang mengkhawatirkan bagi sebuah platform yang sebelumnya mendominasi pasar tanpa saingan berarti.
Di sisi lain, situasi ini menjadi berkah bagi kompetitor. Aplikasi independen bernama UpScrolled dilaporkan mengalami lonjakan unduhan yang signifikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa loyalitas pengguna media sosial sangat cair; ketika satu platform mengalami gangguan teknis atau isu kepercayaan, mereka tidak ragu untuk mencari alternatif lain yang lebih stabil.
Peristiwa ini menjadi pelajaran mahal bagi TikTok dan Oracle. Memindahkan operasi data raksasa media sosial di tengah ketidakpastian cuaca dan sorotan politik adalah langkah berisiko tinggi. Meskipun layanan kini telah pulih, memulihkan kepercayaan pengguna yang sempat “hilang” mungkin akan memakan waktu lebih lama daripada sekadar menyalakan kembali server yang mati.

