Selamat Tinggal Legenda! Alasan Tesla Suntik Mati Model S dan X Ini Bikin Kaget

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana mobil listrik yang menjadi simbol status dan kemewahan tiba-tiba menghilang dari jalur produksi? Bagi penggemar otomotif dan teknologi, kabar ini mungkin terdengar seperti petir di siang bolong. Namun, dalam industri yang bergerak secepat kilat, sentimentalitas sering kali harus mengalah pada inovasi radikal dan tuntutan pasar yang terus berubah.

Elon Musk, CEO Tesla yang dikenal dengan visi futuristik sekaligus kontroversialnya, baru saja menjatuhkan “bom” informasi dalam panggilan pendapatan fiskal tahun 2025. Ia mengumumkan bahwa perusahaan akan segera menghentikan produksi dua model andalannya, Model S dan Model X. Keputusan ini bukan sekadar rumor, melainkan langkah strategis yang akan dieksekusi secepatnya, menandai berakhirnya era mobil yang telah melambungkan nama Tesla ke kancah global.

Langkah drastis ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat. Musk menegaskan bahwa perusahaan kini sedang beralih fokus sepenuhnya menuju masa depan yang berbasis otonomi. Transisi ini menuntut pengorbanan besar, termasuk mematikan lini produk yang pernah menjadi primadona demi memberi ruang bagi ambisi baru yang lebih gila: robot humanoid. Bagi Anda yang masih mendambakan sedan premium atau SUV listrik ikonik ini, waktu Anda semakin menipis.

Akhir Perjalanan Sang Perintis

Dalam pernyataannya, Elon Musk menyebut bahwa kuartal berikutnya akan menjadi momen di mana Tesla “pada dasarnya menghentikan produksi” kendaraan listrik Model S dan X. Ia menggunakan istilah “honorable discharge” atau pemberhentian dengan hormat untuk menggambarkan akhir dari program kedua mobil tersebut. Ini adalah cara Musk menghormati warisan Model S yang telah diproduksi sejak 2012 dan Model X yang hadir sejak 2015.

Bagi konsumen yang saat ini masih memiliki atau berencana membeli unit yang tersisa, Tesla memberikan jaminan. Anda masih bisa membeli kendaraan tersebut selama stok unit masih tersedia. Lebih penting lagi, perusahaan berjanji untuk terus memberikan dukungan teknis dan layanan bagi para pemilik selama mobil tersebut masih digunakan oleh masyarakat. Namun, satu hal yang pasti: begitu unit terakhir terjual, mereka akan hilang untuk selamanya.

Keputusan ini tentu memicu diskusi hangat di kalangan pengamat industri. Mengingat sejarahnya, Model S adalah kendaraan kedua Tesla yang membuktikan bahwa mobil listrik bisa bertenaga dan seksi, sementara Model X mendefinisikan ulang segmen SUV keluarga dengan pintu falcon wing-nya. Namun, pesona mereka tampaknya mulai memudar seiring berjalannya waktu, tergerus oleh kompetisi dan preferensi pasar yang bergeser.

Realitas Angka Penjualan yang Menurun

Jika kita membedah data, keputusan Musk sebenarnya sangat logis dari sisi bisnis. Kilau Model S dan X telah meredup secara signifikan selama beberapa tahun terakhir. Penjualan perusahaan kini didominasi oleh model yang lebih baru dan lebih terjangkau. Sepanjang tahun 2025, misalnya, Tesla berhasil mengirimkan 1.585.279 unit kendaraan yang terdiri dari Tesla Model 3 dan Model Y.

Bandingkan angka fantastis tersebut dengan gabungan penjualan Model S dan X yang hanya mencapai 418.227 unit pada periode yang sama. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pasar telah bergeser secara masif. Konsumen lebih memilih efisiensi dan nilai yang ditawarkan oleh lini produk yang lebih baru, membuat posisi Model S dan X menjadi kurang relevan dalam portofolio pertumbuhan perusahaan.

Selain itu, faktor geopolitik juga memainkan peran penting dalam kematian kedua model ini. Tesla terpaksa menghentikan penjualan Model S dan X di China pada pertengahan tahun 2025. Hal ini disebabkan karena kedua model tersebut diimpor langsung dari Amerika Serikat dan terkena dampak perang tarif. China menerapkan tarif balasan sebagai respons terhadap kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump atas barang impor, membuat harga jual Model S dan X menjadi tidak kompetitif di pasar otomotif terbesar dunia tersebut.

Transformasi Pabrik Fremont untuk Robot Optimus

Apa yang akan terjadi dengan ruang pabrik yang ditinggalkan oleh Model S dan X? Di sinilah visi futuristik Musk mengambil alih. Tesla berencana mengonversi ruang produksi di pabrik Fremont milik perusahaan menjadi fasilitas manufaktur untuk robot humanoid mereka, Optimus. Ini adalah sinyal jelas bahwa Tesla tidak lagi ingin dilihat sekadar sebagai pembuat mobil, tetapi sebagai perusahaan AI dan robotika.

Musk memiliki target jangka panjang yang sangat ambisius: memproduksi 1 juta robot Optimus di ruang yang sebelumnya digunakan untuk merakit mobil mewah tersebut. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, beberapa hari yang lalu, CEO Tesla tersebut mengumumkan bahwa perusahaan akan mulai menjual Optimus kepada publik pada akhir tahun depan. Ini adalah pertaruhan besar yang bisa mengubah wajah industri teknologi selamanya.

Optimisme Musk terhadap proyek ini sangat tinggi. Ia pernah sesumbar bahwa Optimus ditakdirkan untuk menjadi “produk terbesar sepanjang masa,” bahkan lebih besar dari ponsel atau produk apa pun yang pernah ada. Langkah ini sejalan dengan narasi yang selama ini ia bangun, termasuk pengembangan teknologi komputasi canggih seperti Tesla Dojo3 yang menjadi otak di balik kecerdasan buatan perusahaan.

Janji Manis di Tengah Keraguan

Meskipun visi tentang jutaan robot humanoid terdengar menjanjikan, realitas di lapangan sering kali berbeda. Robot Optimus sejauh ini dianggap gagal memenuhi hype yang dibangun selama demonstrasi publik. Banyak pihak yang skeptis, mengingat Musk dikenal memiliki rekam jejak memberikan jadwal waktu yang terlalu optimis dan sering kali meleset dari target realisasi produk.

Transisi dari memproduksi Mobil Konvensional (dalam konteks lini produksi lama) menuju robotika canggih bukanlah perkara mudah. Tantangan teknis dan logistik untuk memproduksi robot humanoid secara massal jauh lebih kompleks dibandingkan merakit kendaraan listrik. Namun, bagi Musk, risiko ini tampaknya sepadan dengan potensi imbalan di masa depan yang berbasis otonomi penuh.

Pergeseran fokus ini juga menyoroti bagaimana Tesla mencoba mendiversifikasi bisnisnya di tengah persaingan ketat pasar EV global. Dengan munculnya banyak pesaing yang mampu memproduksi mobil listrik murah, Tesla perlu “mainan” baru untuk mempertahankan valuasi dan daya tariknya di mata investor. Robot Optimus adalah jawaban Musk atas tantangan tersebut.

Manuver Finansial dan Kontroversi xAI

Laporan pendapatan perusahaan juga mengungkapkan detail menarik lainnya yang berkaitan dengan ambisi AI Musk. Terungkap bahwa Tesla telah menginvestasikan dana sebesar USD 2 miliar ke perusahaan lain milik Musk, xAI. Langkah ini tentu saja memicu kontroversi, mengingat para pemegang saham Tesla sempat menggugat Musk pada tahun 2024 karena mendirikan xAI.

Para pemegang saham berargumen bahwa xAI merupakan kompetisi langsung bagi produsen mobil tersebut, terutama karena Musk telah bertahun-tahun mengklaim bahwa Tesla adalah perusahaan AI, bukan sekadar pembuat EV. Investasi silang ini menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola perusahaan dan potensi konflik kepentingan. Namun, di sisi lain, ini menunjukkan betapa seriusnya Musk dalam mengintegrasikan ekosistem AI di seluruh perusahaannya, yang mungkin juga akan mendukung teknologi Mobil Otonom di masa depan.

Terlepas dari kontroversi tersebut, dukungan pemegang saham terhadap Musk tampaknya masih kuat, meskipun bersyarat. Pada akhir tahun 2025, pemegang saham Tesla menyetujui paket gaji Musk senilai USD 1 triliun. Namun, persetujuan ini datang dengan syarat berat: perusahaan harus mencapai nilai pasar sebesar USD 8,5 triliun. Dengan target setinggi langit itu, tidak heran jika Musk berani mengambil langkah radikal seperti menyuntik mati Model S dan X demi mengejar pertumbuhan eksponensial melalui robotika.

Penutupan lini produksi Model S dan X adalah momen bersejarah yang menandai akhir dari babak pertama Tesla sebagai pionir mobil listrik modern. Kini, perusahaan tersebut sedang menulis babak kedua yang berfokus pada kecerdasan buatan dan robotika. Apakah pertaruhan Musk pada Optimus akan berhasil atau justru menjadi blunder terbesar dalam sejarah teknologi? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Bagi Anda pemilik Model S atau X, berbanggalah, karena kendaraan Anda kini resmi menjadi bagian dari sejarah.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI