Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa perusahaan teknologi yang laporan keuangannya terlihat “hijau” dan menguntungkan justru mengambil langkah drastis dengan memangkas jumlah pekerjanya? Fenomena ini kembali terjadi di Silicon Valley, dan kali ini giliran Pinterest yang menjadi sorotan. Meskipun perusahaan ini telah mencatatkan laporan pendapatan yang gemilang dalam beberapa kuartal terakhir, kabar kurang sedap justru menghampiri ratusan karyawannya. Sebuah ironi yang kini semakin lumrah terjadi di industri teknologi global, di mana profitabilitas tidak lagi menjadi jaminan keamanan kerja.
Jawaban atas teka-teki pemangkasan ini sebenarnya sudah bisa Anda tebak, dan mungkin sudah sering Anda dengar belakangan ini: Kecerdasan Buatan atau AI. Berdasarkan laporan dari CNBC, Pinterest berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga 15 persen dari total tenaga kerjanya. Langkah ini bukan diambil karena perusahaan sedang bangkrut, melainkan karena adanya pergeseran prioritas yang sangat masif. Manajemen Pinterest secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka sedang melakukan “realokasi sumber daya” untuk proyek-proyek berbasis AI serta memprioritaskan produk dan kapabilitas yang ditenagai oleh teknologi tersebut.
Keputusan ini tentu memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat industri dan tentu saja, para pekerja teknologi. Apakah manusia kini benar-benar mulai tergantikan oleh algoritma? Pinterest tampaknya sangat serius dengan transisi ini. Selain memangkas jumlah karyawan, mereka juga dilaporkan mengurangi ruang kantor fisik. Logikanya cukup sederhana namun menyakitkan: algoritma AI tidak membutuhkan bilik kerja (cubicle), tidak memerlukan asuransi kesehatan, dan tentu saja, tidak memakan camilan kantor yang biasanya tersedia di pantry perusahaan teknologi. Sebuah efisiensi brutal yang kini diadopsi demi mengejar label “perusahaan berbasis AI”.
Realokasi Sumber Daya: Dalih atau Strategi?
Dalam dokumen pengajuan keamanan terbaru, Pinterest mencatat bahwa proses pemangkasan tenaga kerja ini diharapkan akan rampung pada akhir kuartal ketiga, tepatnya di bulan September mendatang. Jika kita melihat data per April lalu, Pinterest memiliki sekitar 4.500 karyawan global. Dengan hitungan matematika sederhana, rencana pemangkasan “hingga 15 persen” ini diperkirakan akan berdampak pada sekitar 675 orang. Angka ini bukanlah jumlah yang sedikit, mengingat mereka adalah tenaga profesional yang selama ini membangun platform tersebut.
Langkah ini tidak hanya berhenti pada pengurangan jumlah kepala. Pinterest juga akan melakukan perombakan besar-besaran pada strategi penjualan dan pemasaran mereka. Tujuannya sangat jelas: untuk menonjolkan inisiatif AI baru mereka kepada para pengiklan dan investor. Di tengah persaingan teknologi yang ketat, narasi tentang Drama Chip dan kecanggihan AI memang menjadi “mata uang” yang paling berharga untuk mendongkrak nilai saham.
Bill Ready, CEO Pinterest, pada November lalu sempat memberikan pernyataan yang menyiratkan arah perubahan ini. “Investasi kami dalam AI dan inovasi produk membuahkan hasil,” ujarnya. Ia dengan bangga mengklaim bahwa Pinterest telah menjadi pemimpin dalam pencarian visual dan secara efektif telah mengubah platform mereka menjadi asisten belanja bertenaga AI untuk 600 juta pelanggan. Klaim mengenai jumlah pengguna ini tentu mengingatkan kita pada tren Pertumbuhan Pengguna di berbagai platform digital yang terus didorong oleh fitur-fitur baru.
Baca Juga:
Dilema Pengguna: Inovasi vs Kenyamanan
Namun, ambisi untuk menjadi “pemimpin dalam pencarian visual” dan asisten belanja berbasis AI ini tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Ada sisi lain dari mata uang inovasi ini yang justru menciptakan sakit kepala bagi pengguna akhir. Platform yang dulunya dikenal sebagai tempat mencari inspirasi visual yang estetik dan otentik, kini mulai dibanjiri oleh apa yang disebut sebagai “AI-generated slop” atau konten sampah hasil generasi AI.
Banyak pengguna setia Pinterest mengeluhkan kualitas konten yang menurun drastis. Alih-alih menemukan foto dekorasi rumah yang nyata atau resep masakan yang teruji, mereka justru disuguhi gambar-gambar hasil generasi komputer yang terkadang tidak masuk akal. Situasi ini mirip dengan keluhan mengenai Masalah Pengguna pada layanan email yang dipenuhi spam, di mana algoritma justru mempersulit pengalaman pengguna alih-alih mempermudahnya.
Merespons keluhan ini, Pinterest terpaksa memperkenalkan fitur baru berupa “dial” atau pengaturan untuk mengurangi prevalensi konten buatan kecerdasan buatan tersebut. Mashable bahkan sempat menyoroti hal ini dengan nada sarkas melalui sebuah cuitan, “Pinterest akhirnya memberikan apa yang diinginkan orang-orang!!! Inilah cara menyaring AI di Pinterest.” Ironisnya, perusahaan berinvestasi besar-besaran pada AI, memecat manusia demi AI, namun kemudian harus membuat fitur agar pengguna bisa menghindari hasil karya AI tersebut.
Fenomena AI-Washing di Industri Teknologi
Pinterest bukanlah satu-satunya pemain dalam drama ini. Mereka hanyalah perusahaan terbaru yang melakukan perampingan dengan alasan fokus pada AI. Sebuah firma konsultan menemukan data mengejutkan bahwa AI menjadi alasan yang dinyatakan secara resmi untuk sekitar 55.000 pemutusan hubungan kerja di Amerika Serikat tahun lalu. Angka ini memicu skeptisisme mendalam di kalangan analis dan pekerja.
Banyak pihak mulai mempertanyakan kebenaran dari alasan tersebut. Apakah AI benar-benar menggantikan peran manusia secepat itu, ataukah ini hanya taktik perusahaan? Muncul istilah “AI-washing”, sebuah fenomena di mana perusahaan membesar-besarkan penggunaan AI mereka dan menjadikannya kambing hitam untuk melakukan pemangkasan biaya standar (cost-cutting). Tujuannya sederhana: membuat investor terkesima. Ketika perusahaan mengatakan “kami melakukan efisiensi demi AI”, investor cenderung berpikir “ooh, berkilau” dan menganggap perusahaan tersebut futuristik, padahal mungkin itu hanyalah strategi efisiensi biaya konvensional.
Fenomena ini juga bisa dilihat dalam konteks yang lebih luas, seperti bagaimana Kebijakan Medsos di platform lain yang terus berubah demi menyesuaikan dengan algoritma dan profitabilitas, seringkali dengan mengorbankan moderasi manusia. Pinterest kini berada di persimpangan jalan tersebut. Di satu sisi, mereka ingin terlihat inovatif dengan fitur belanja bertenaga AI yang canggih. Di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan kenyataan bahwa pengguna mulai jenuh dengan konten artifisial, dan karyawan mereka menjadi korban dari ambisi tersebut.
Pada akhirnya, langkah Pinterest ini menjadi cerminan dari tren industri teknologi saat ini: perlombaan senjata menuju dominasi AI yang seringkali memakan korban. Bagi para investor, efisiensi dan fokus pada teknologi masa depan mungkin terdengar menjanjikan. Namun bagi 675 karyawan yang terdampak dan jutaan pengguna yang merindukan konten otentik, langkah ini meninggalkan pertanyaan besar tentang ke mana arah platform media sosial di masa depan.

