Mimpi Buruk Gamer? Proyek Hotel Atari Terancam Gagal Total!

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Masih ingatkah Anda dengan kehebohan yang terjadi enam tahun lalu? Kala itu, dunia gaming dan perhotelan dikejutkan oleh sebuah pengumuman ambisius yang terdengar seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Sebuah rencana besar digulirkan untuk membangun jaringan hotel bertema video game di delapan kota besar Amerika Serikat. Janji manis tentang pengalaman menginap futuristik dengan sentuhan nostalgia konsol legendaris tersebut sukses membius imajinasi banyak orang.

Namun, waktu sering kali menjadi penguji paling kejam bagi sebuah janji korporasi. Antusiasme yang sempat meluap kini perlahan berganti menjadi tanda tanya besar, bahkan skeptisisme. Rencana ekspansi masif yang digembar-gemborkan tersebut tampaknya mulai rontok satu per satu sebelum fondasi pertamanya benar-benar kering. Realita di lapangan menunjukkan bahwa memadukan bisnis properti dengan tren budaya pop tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kabar terbaru yang beredar minggu ini memberikan sinyal yang kurang mengenakkan bagi para penggemar yang sudah menabung untuk menjajal pengalaman tersebut. Dari delapan lokasi yang direncanakan, sorotan kini hanya tertuju pada satu titik yang tersisa, sementara lokasi-lokasi primadona lainnya mulai berguguran. Apakah ini pertanda lonceng kematian bagi proyek ambisius tersebut, atau sekadar strategi bertahan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi?

Las Vegas Resmi Dicoret dari Daftar

Salah satu pukulan terberat bagi proyek ini adalah konfirmasi mengenai nasib lokasi di Las Vegas. Kota yang dikenal sebagai pusat hiburan dunia ini seharusnya menjadi lokasi paling strategis dan relevan untuk konsep Hotel Atari. Namun, harapan itu pupus sudah. Juru bicara proyek, Sara Collins, secara gamblang menyatakan kepada media bahwa kesepakatan di Las Vegas “tidak membuahkan hasil.”

Pernyataan ini tentu mengejutkan, mengingat Las Vegas adalah simbol dari gemerlap neon dan hiburan yang sangat selaras dengan estetika cyberpunk yang diusung jenama tersebut. Dengan batalnya kesepakatan di Sin City, fokus pengembang kini beralih sepenuhnya ke Phoenix, Arizona. Collins menegaskan bahwa mereka sedang mencurahkan segala daya dan upaya ke situs Phoenix “untuk saat ini,” sebuah frasa yang menyiratkan ketidakpastian jangka panjang.

Phoenix memang sejak awal direncanakan sebagai lokasi perdana, yang kemudian seharusnya diikuti oleh kota-kota besar lainnya seperti Austin, Chicago, Denver, San Francisco, San Jose, dan Seattle. Namun, dengan Las Vegas yang kini “keluar dari meja perundingan,” dan tidak adanya tanda-tanda kehidupan di lokasi rencana lainnya, peta ekspansi hotel ini terlihat semakin menyusut drastis.

Phoenix: Benteng Terakhir atau Angan Semu?

Jika Anda melihat situs web resmi mereka, bagian FAQ masih mencoba menyalakan sedikit optimisme dengan catatan bahwa situs tambahan, termasuk Denver, sedang dieksplorasi di bawah perjanjian pengembangan dan lisensi terpisah. Namun, bagi pengamat industri, kalimat tersebut terdengar seperti bahasa korporat standar untuk menutupi kemandekan progres. Tanpa adanya bukti fisik atau rilis jadwal yang konkret, sulit untuk mempercayai bahwa lokasi selain Phoenix akan terwujud dalam waktu dekat.

Proyek ini pertama kali diumumkan pada tahun 2020, tepat sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia. Wajar jika terjadi penundaan pengembangan akibat situasi global tersebut. Namun, rentang waktu penundaan yang terjadi kini sudah melampaui batas kewajaran sebuah proyek konstruksi standar. Hotel di Phoenix yang seharusnya mulai dibangun (groundbreaking) pada tahun 2020, kini jadwalnya mundur total.

Estimasi terbaru menyebutkan bahwa konstruksi di Phoenix diharapkan baru akan dimulai akhir tahun ini. Jika semua berjalan lancar tanpa hambatan tambahan, pembukaan hotel ini direncanakan baru akan terjadi pada tahun 2028. Ini berarti ada jeda delapan tahun dari pengumuman awal hingga pemotongan pita peresmian. Dalam dunia teknologi dan tren Game Arcade yang bergerak cepat, delapan tahun adalah waktu yang sangat lama. Apakah jenama ini masih akan relevan saat hotel tersebut akhirnya dibuka?

Tantangan Pendanaan yang Masih Menghantui

Selain masalah jadwal, ada isu fundamental lain yang membuat banyak pihak menahan napas: uang. Membangun sebuah “destinasi yang dapat dimainkan” (playable destination) bagi para gamer tentu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Fasilitas canggih, integrasi teknologi terkini, dan desain tematik memerlukan investasi besar.

Berdasarkan rilis pers pada bulan Desember lalu, perusahaan di balik proyek ini ternyata masih berjuang untuk mengumpulkan dana. Mereka masih berusaha mengamankan modal sebesar USD 35 juta hingga USD 40 juta (sekitar Rp 540 miliar hingga Rp 620 miliar) untuk membiayai proyek di Phoenix. Fakta bahwa mereka masih dalam tahap penggalangan dana di saat konstruksi seharusnya sudah hampir dimulai, menjadi lampu kuning bagi kelangsungan proyek ini.

Kondisi ini menciptakan paradoks yang menarik. Di satu sisi, industri game terus tumbuh pesat, namun di sisi lain, merealisasikan aset fisik seperti hotel bertema khusus ternyata memiliki tantangan finansial yang pelik. Tanpa kucuran dana segar tersebut, impian untuk melihat hotel dengan logo ikonik “Fuji” di cakrawala Arizona bisa saja hanya tinggal kenangan.

Bagi para penggemar setia yang merindukan kejayaan masa lalu, mungkin sebaiknya jangan terlalu berharap tinggi dulu. Meskipun Game Dewasa dan industri hiburan interaktif terus berkembang, realisasi fisik dari sebuah merek legendaris membutuhkan lebih dari sekadar nostalgia. Kita hanya bisa menunggu apakah tahun 2028 akan menjadi tahun kebangkitan atau justru menjadi catatan kaki tentang kegagalan sebuah ambisi properti.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI