Bayangkan Anda sedang melatih robot humanoid canggih untuk meniru gerakan bela diri. Semua berjalan mulus, hingga tiba-tiba, sebuah kesalahan kecil membuat robot itu mengarahkan tendangan penuh ke arah yang paling tidak Anda harapkan. Itulah adegan nyata—dan nyaris tragis—yang baru-baru ini viral dari sesi pelatihan robot Unitree G1, mengubah momen serius menjadi konten meme yang mengundang tawa sekaligus renungan.
Insiden ini bukan sekadar kecelakaan lucu belaka. Ia terjadi dalam konteks yang sangat spesifik: metode pelatihan teleoperation atau teleoperasi, di mana seorang manusia menggunakan setelan motion-capture untuk mengendalikan gerak robot secara real-time. Metode ini dianggap krusial untuk mengajarkan robot humanoid tugas-tugas kompleks yang sulit diprogram secara manual, seperti gerakan dinamis dalam olahraga atau pekerjaan rumit di lini produksi. Namun, video viral itu dengan gamblang menunjukkan celah antara presisi yang diharapkan dan realitas yang kadang kacau.
Momen yang direkam pada 25 Desember itu dengan cepat melampaui platform aslinya, Bilibili, dan menjadi bahan perbincangan global. Reaksi spontan sang pelatih yang langsung merangkul diri dan robot yang dengan patuh meniru postur “kesakitan” itu menciptakan ironi yang sempurna. Di balik kelucuannya, insiden ini membuka diskusi penting tentang tantangan, risiko, dan batasan teknologi robotika humanoid saat kita membawanya semakin dekat ke ruang fisik manusia.
Dari Bilibili ke Global: Perjalanan Viral Sebuah “Kesalahan” Robot
Klip berdurasi singkat itu pertama kali diunggah ke platform video China, Bilibili. Dalam rekaman tersebut, seorang pelatih terlihat mengenakan setelan motion-capture dan melakukan serangkaian gerakan pukulan dan tendangan. Unitree G1, robot humanoid setinggi sekitar 1,2 meter yang dikenal lincah, dengan setia mengikuti setiap arahan. Masalah muncul ketika robot tersebut tampak salah menilai sebuah rotasi atau terjadi penundaan (lag) kecil dalam sistem. Alih-alih meniru tendangan ke udara, kaki robot melesat tepat ke selangkangan pelatih.
Efeknya instan dan manusiawi: pelatih terjungkal, berusaha menahan rasa sakit. Dan di sinilah keajaiban—atau kekonyolan—teknologi terjadi. Beberapa detik kemudian, robot G1 dengan patuh membungkuk ke depan, meniru postur pelatih yang sedang kesakitan, seolah-olah ikut merasakan penderitaan yang baru saja ditimbulkannya. Kontras antara niat serius pelatihan dan hasil yang absurd inilah yang memicu gelombang meme di media sosial.
Video tersebut dengan cepat menyebar ke X (sebelumnya Twitter) sehari kemudian, dibagikan oleh berbagai akun teknologi dan bahkan menarik perhatian Wes Morrill, chief engineer Tesla Cybertruck. Dari sana, popularitasnya meroket di Reddit dan forum-forum online lainnya, mengubah Unitree G1 dari robot penggiring bola basket dan pemain tenis meja yang impresif menjadi “bintang” kecelakaan kerja yang tak terlupakan.
Baca Juga:
Teleoperation: Senjata Pamungkas yang (Masih) Tidak Sempurna
Insiden tendangan tak terduga ini secara langsung menyoroti salah satu risiko utama dari teleoperation jarak dekat. Metode ini, meski sangat powerful, bergantung pada sejumlah faktor rentan error: akurasi sensor motion-capture, latensi komunikasi data, dan interpretasi perangkat lunak terhadap gerakan manusia. Kesalahan timing milidetik atau miskalkulasi sudut kecil—seperti yang mungkin terjadi pada rotasi di video—dapat mengubah gerakan yang aman menjadi berbahaya.
Namun, penting untuk tidak serta-merta menyimpulkan bahwa teleoperation adalah metode yang gagal. Justru sebaliknya. Teknologi ini adalah tulang punggung dalam melatih robot untuk tugas-tugas yang terlalu kompleks atau terlalu halus untuk diprogram secara tradisional. Bayangkan mengajarkan robot cara memasang komponen elektronik yang rumit, melakukan pertolongan pertama, atau bahkan gerakan tari yang anggun. Teleoperation memungkinkan transfer keahlian manusia secara langsung ke mesin.
Perusahaan seperti LinkCraft bahkan mengembangkan platform zero-code yang mempermudah proses mengubah gerakan manusia menjadi aksi robot, menunjukkan betapa vitalnya pendekatan ini untuk masa depan otomasi. Tantangannya adalah membuat sistem ini tidak hanya akurat, tetapi juga memiliki mekanisme pengamanan (safeguard) yang robust untuk mencegah konsekuensi yang tidak diinginkan saat manusia dan robot berbagi ruang fisik yang sama.
Dibalik Tawa: Pelajaran Serius untuk Masa Depan Kolaborasi Manusia-Robot
Apa yang bisa kita pelajari dari insiden memeable ini? Pertama, robot humanoid, sekalipun telah menunjukkan kemampuan menakjubkan seperti yang dilakukan CATL di pabrik baterainya atau Atlas Boston Dynamics di pabrik Hyundai, masih jauh dari sempurna. Mereka adalah produk dari algoritma, sensor, dan aktuator yang bisa mengalami kegagalan, terutama dalam lingkungan dinamis dan interaksi jarak dekat dengan manusia.
Kedua, insiden ini menggarisbawahi pentingnya desain keselamatan (safety-by-design). Saat robot humanoid mulai berpindah dari lab demonstrasi ke lingkungan kerja nyata—seperti pabrik, gudang, atau bahkan rumah—protokol keselamatan yang ketat menjadi non-negosiable. Ini termasuk sensor penghalang, pembatasan kekuatan (force limiting), dan zona aman yang secara otomatis menghentikan robot jika mendeteksi manusia terlalu dekat.
Ketiga, ada dimensi etika dan tanggung jawab. Siapa yang bertanggung jawab jika robot yang dilatih melalui teleoperation menyebabkan cedera? Apakah pelatih, pengembang perangkat lunak, atau produsen robot? Kasus Unitree G1 ini, meski berakhir dengan tawa, adalah pengingat kecil bahwa seiring teknologi ini matang, kerangka hukum dan tanggung jawabnya juga harus berkembang.
Pada akhirnya, video viral Unitree G1 adalah potret yang jujur dari fase perkembangan teknologi robotika humanoid. Ia menangkap momen di antara ambisi tinggi dan realitas teknis yang masih berdarah-daging. Robot itu mungkin berhasil meniru tendangan dan bahkan ekspresi “kesakitan” sang pelatih dengan akurat, tetapi ia gagal memahami konteks dan konsekuensi dari tindakannya. Itulah batasan mendasar yang masih harus ditaklukkan. Sementara itu, internet boleh tertawa, tetapi para insinyur dan peneliti pasti sedang menggarisbawahi catatan penting: sebelum robot humanoid benar-benar bisa menjadi partner kerja kita, mereka harus belajar untuk tidak “nendang” bosnya terlebih dahulu.

