Mundur dari Proyek Cloud Pentagon, Ada Apa dengan Google?

Telset.id, Jakarta – Google Alphabet Inc membuat kejutan dengan mendadak mundur dari lelang kontrak proyek komputasi awan (cloud) Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) alias Pentagon, yang bernilai US$10 miliar atau mencapai lebih dari Rp 152 triliun.

Mundurnya Google dari lelang ini bukan tanpa sebab. Perusahaan menilai proyek tersebut bertentangan dengan pedoman etika atau prinsip kecerdasan buatan (AI) yang diperangnya. Namun demikian, Google tidak merincinya lebih lanjut alasan ini.

“Kami tidak yakin proyek ini akan sejalan dengan prinsip AI kami. Kami memutuskan bahwa ada bagian dari kontrak yang berada di luar jangkauan sertifikasi pemerintah yang kami miliki saat ini,” ujar Google dalam pernyataannya seperti dilansir Channelnewsasia, Selasa (9/10/2018).

Baca Juga : Google Bikin Voice Access untuk Pengguna Disabilitas

Raksasa asal Silicon Valey, California, Amerika Serikat (AS) ini diketahui memiliki prinsip melarang penggunaan perangkat lunak AI untuk membuat senjata serta layanan yang melanggar norma internasional dan hak asasi manusia (HAM).

Maret lalu Google mendapat sertifikasi untuk menangani data pemerintah AS dengan level keamanan “moderat”. Tetapi peringkat ini masih di bawah Amazon.com Inc dan Microsoft Corp yang memiliki level sertifikasi lebih tinggi.

Dengan sertifikasi lebih tinggi, Amazon menjadi vendor pelopor untuk kontrak teknologi yang dikenal sebagai cloud Infrastruktur Pertahanan Bersama Perusahaan atau JEDI.

Dengan hengkangnya Google dari lelang, perusahaan berharap bahwa kontrak tahunan ini dapat memberikan dorongan besar bagi bisnis cloud di AS dan bisa mengejar ketinggalan dengan Amazon dan Microsoft.

Baca Juga : Setelah Apple, Google Juga Bantu Korban Gempa Sulteng

Seandainya kontrak cloud Pentagon tersebut berhasil didapatkan Google, maka akan sangat membantu langkah pemasarannya dengan perusahaan besar.

Tetapi itu bertentangan dengan prinsip perusahaan dan beberapa bulan lalu ribuan karyawan Google memprotes penggunaan teknologi AI dalam perang atau cara yang dapat menyebabkan pelanggaran HAM. Perusahaan menanggapi protes ini dengan merilis prinsip-prinsip penggunaan alat-alat intelijen buatan. [WS/IF]

Sumber: Channelnewsasia

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Dua Gebrakan Smartfren Business di Awal Tahun

Telset.id, Jakarta – Tahun 2020, menjadi “milestone” bagi divisi Smartfren Business. Bagaimana tidak, di bulan Januari 2020 Smartfren Business...

Pejabat AS “Terpecah” Soal Embargo untuk Huawei?

Telset.id, Jakarta  - Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) menarik aturan soal tambahan pengurangan penjualan komponen ke Huawei. Mereka khawatir...

Cara Amankan Akun WhatsApp Pakai Fitur Two Step Verification

Telset.id - Keamanan aplikasi WhatsApp sempat banyak dipertanyakan, apalagi sejak kasus akun WhatsApp CEO Amazon, Jeff Bezos diretas. Salah...

Beredar Foto Kobe Bryant dan Putrinya sebelum Meninggal

Telset.id, Jakarta  - Beredar foto Kobe Bryant dan putrinya saat bermain basket di Mamba Sports Academy di Thousand Oaks,...

HOOQ IM3 Ooredoo Luncurkan Paket Buy 1 Get 3

Telset.id, Jakarta - Hari ini perusahaan penyedia layanan video-on-demand HOOQ mengumukan kerjasama strategis bersama dengan IM3 Ooredoo. Kerjasama HOOQ...
- Advertisement -