Telset.id, Jakarta – Cambridge, kata yang tak asing didengar, khususnya dalam dunia pendidikan karena menjadi nama salah satu universitas paling bergengsi di Inggris, tepatnya di Cambridgeshire, Inggris bagian Timur.
Didirikan sejak 1209 oleh Raja Henry VIII dan St John’s, konon universitas ini memiliki persyaratan masuk paling ketat sejagat. Mungkin juga ini merupakan institusi pendidikan yang paling prestisius, karena seluruh raja, ratu dan para bangsawan Inggris wajib “makan bangku sekolah” di sini.
Saking terkenalnya, ada puluhan kota lain yang mengadopsi nama Cambridge, sebut saja seperti di Australia, Kanada, Selandia Baru dan Amerika Serikat. Bahkan di Inggris sendiri, ada dua kota yang menggunakan nama Cambridge.
Mungkin saja ini yang menginspirasi, Alexander Nix, saat memberikan nama Cambridge Analytica untuk perusahaan yang didirikannya pada tahun 2013 lalu itu. Cambridge Analytica sendiri merupakan cabang atau anak usaha dari perusahaan bernama Strategic Communication Laboratories (SCL Group).
Seperti perusahaan induknya, Cambridge Analytica juga mencari fulus di sektor jasa, seperti menyediakan data, analitik dan strategi kepada pemerintah dan organisasi militer di seluruh dunia.
Nix bergabung SCL pada 2003 setelah menamatkan studinya di Universitas Manchester dan bekerja di perusahaan keuangan. Pastinya Nix tak sendiri merogoh kocek untuk membangun Cambridge Analytica, karena dia mendapat suntikan dana dari Robert Mercer, anggota partai Republik.
Direktur pelaksana divisi politik Cambridge Analytica adalah Mark Turnbull, yang menghabiskan 18 tahun di perusahaan komunikasi Bell Pottinger sebelum bergabung dengan SCL.
Skandal Cambridge Analytica
Cambridge Analytica sontak terkenal pada 17 Maret lalu, ketika Harian London Observer dan The New York Times melaporkan bahwa perusahaan tersebut memperoleh 50 jutaan informasi data pengguna Facebook.
Data tersebut kemudian dipakai untuk membangun perangkat lunak yang dapat menargetkan pemilih yang belum jelas (swing voter) potensial dalam kampanye politik, termasuk pada pemilihan Presiden (Pilpres) AS pada 2016 lalu, yang dimenangkan Donald Trump.
Nix mengatakan bahwa Cambridge Analytica dibentuk untuk mengatasi kekosongan di pasar politik partai Republik di AS. Ucapannya menjadi jelas, ketika Mitt Romney dikalahkan dalam pilpres AS 2012.
Mungkin Anda bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dilakukan Cambridge Analytica? Postingan blog di halaman Medium.com oleh Frederike Kaltheuner menjelaskan bahwa perusahaan ini melakukan lebih dari sekadar memprediksi minat pengguna Facebook atau perilaku masa depan, karena perusahaan ini membangun profil psikometrik.
Baca juga: Data 50 Juta Pengguna Facebook untuk Menangkan Trump
Psikometri sendiri adalah bidang psikologi yang dikhususkan untuk mengukur ciri-ciri kepribadian, bakat, dan kemampuan. Menyimpulkan profil psikometri berarti mempelajari informasi tentang seorang individu yang sebelumnya hanya bisa dipelajari melalui hasil tes dan kuesioner yang dirancang khusus.
Misalnya seberapa neurotik Anda, seberapa terbuka Anda terhadap pengalaman baru atau apakah Anda suka bertengkar dan seterusnya.
Kemampuan “jahat” ini bergantung pada segudang data-data yang dikumpulkan perusahaan, melalui Kogan, dalam kurun waktu 2013 – 2015. Beberapa pengguna Facebook kemudian sadar bahwa mereka sedang diprofilkan dengan cara ini.
Dengan menggunakan metodologi profil kepribadian, perusahaan yang tergolong sangat muda itu mulai menawarkan sistem pembuatan profilnya ke lusinan kampanye politik di berbagai negara.
Cambridge Analytica mampu memperoleh data ini di tempat pertama berkat celah dalam API Facebook, sebelum ditutup. Celah ini memungkinkan pengembang pihak ketiga mengumpulkan data, tidak hanya dari pengguna aplikasi mereka, tetapi dari semua orang atau teman-teman pengguna mereka di jaringan Facebook.
Sebenarnya akses ini memiliki syarat bahwa data tersebut tidak boleh dipasarkan atau dijual. Namun Cambridge Analytica tak ambil pusing dengan melanggarnya secara langsung.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah perusahaan ini cenderung mendeskripsikan kemampuannya dalam bahasa yang megah, menggembar-gemborkan keahliannya pada “peperangan psikologis” dan “operasi pengaruh”.
Cambridge Analytica juga telah lama mengklaim bahwa pemahaman canggih psikologi manusia membantunya menargetkan dan membujuk orang-orang mengikuti pesan pilihan klien.
Channel 4 News di Inggris bahkan memposting video Analytica yang memperlihatkan Nix sedang berbicara tentang trik jebakan, sebagai cara untuk memenangkan kampanye.
Video-video yang ditayangkan Channel 4 itu mencakup serangkaian pertemuan di hotel-hotel London selama empat bulan antara November 2017 hingga Januari 2018.
Video-video itu kadang-kadang menyorot Nix, Turnbull, dan Kepala Petugas Data Alex Tyler. Ketika laporan ini muncul, dewan perusahaan menangguhkan Nix, menunda penyelidikan.
Christopher Wylie, Mantan kontraktor Cambridge Analytica yang membantu membangun algoritma juga mengatakan pimpinan dan karyawan di sana membanggakan diri, karena telah menggunakan rekayasa skandal seks, berita palsu dan trik kotor untuk menggoyang pemilu di seluruh dunia. Saat ini Wylie menjadi whistle blower yang telah bersaksi di parlemen Inggris.
“Kami mengeksploitasi Facebook untuk memanen profil jutaan orang dan membangun model untuk mengeksploitasi apa yang kami ketahui tentang mereka dan menargetkan ‘setan batin’ mereka. Itu adalah dasar dibangunnya seluruh perusahaan,” kata Wylie kepada Observer, baru-baru ini.
Selasa lalu, Wylie telah memberi kesaksian di depan anggota parlemen Inggris tentang bagaimana para juru kampanye pro-Brexit, yang terkait dengan Cambridge Analytica, diduga “tertipu” menjelang referendum ketika Inggris meninggalkan Uni Eropa.
Kesaksian selama hampir empat jam itu mengikuti tuduhan whistle blower lainnya, Shahmir Sanni, bahwa kelompok-kelompok kampanye pro-Brexit berpotensi melanggar undang-undang tentang batas pengeluaran referendum ketika membayar perusahaan data AggregateIQ, yang terkait dengan Cambridge Analytica.
AggregateIQ dilaporkan menerima 40 persen dari seluruh anggaran Vote Leave untuk layanan pemasaran digital.
Setelah kemenangannya dalam referendum, Direktur kampanye organisasi Vote Leave, Dominic Cummings mengakui adanya peran penting dari AgregatIQ. “Kami tidak bisa melakukannya tanpanya (AgregatIQ),” sebut Cummings.
Next
Modus Operasi
Lalu, bagaimana cara beroperasi Cambridge Analytica? Data yang mereka gunakan dikumpulkan pada awal 2014 melalui aplikasi yang disebut “thisisyourdigitallife”.
Aplikasi ini dibangun oleh perusahaan Global Science Research (GSR) yang digawangi Aleksandr Kogan, seorang peneliti Rusia-Amerika di Universitas Cambridge.
Sekitar 270.000 pengguna Facebook setuju data mereka dikumpulkan dan digunakan untuk penelitian akademis dengan imbalan pembayaran kecil.
The Times melaporkan Cambridge Analytica harus merogoh kantong lebih dalam, yakni sekitar US$ 800.000 atau setara Rp 11 miliar untuk membuat aplikasi tersebut.
Baca juga: Facebook Belum Hapus Data Pengguna yang Dikloning
Namun, aplikasi ini ternyata tidak hanya mengumpulkan informasi pribadi dari orang-orang yang mengunduhnya, tetapi juga menyedot informasi teman-temannya yang tidak tahu.
Belakangan, Kogan mengungkapkan bahwa mereka berhasil mendapatkan lebih dari 50 juta pengguna Facebook yang “menyerahkan” data pribadi mereka ke Cambridge Analytica.
Data pengguna Facebook ini lalu digunakan untuk membuat 30 juta profil “psikografis”, yang kemudian dapat digunakan untuk merancang iklan politik bertarget.
Namun keterangan Kogan ini dibantah oleh pihak Cambridge Analytica. Mereka berkilah, telah menghapus semua data yang diterima dari perusahaan Kogan, ketika mengetahui itu melanggar kebijakan Facebook.
“Tidak ada data dari GSR yang digunakan oleh Cambridge Analytica sebagai bagian dari layanan yang disediakan untuk kampanye presiden Donald Trump di 2016,” katanya.
Disisi lain, Kogan merasa dikambinghitamkan oleh Facebook dan Cambridge Analytica.
“Jujur, kami berpikir telah bertindak dengan sangat tepat. Kami melakukan sesuatu yang benar-benar normal,” ketus Kogan kepada BBC pada Rabu pekan lalu.
The Observer juga mengungkapkan dugaan bahwa Cambridge Analytica telah bekerja dengan orang-orang yang dianggap sebagai kelompok peretas dari Israel. Namun mereka gagal mempengaruhi pemilih dalam Pilpres Nigeria 2015.
Sedangkan media lain mengangkat peran perusahaan itu dalam Pilpres Kenya, yang dimenangkan Uhuru Kenyatta.

Selain di AS dan Inggris, Cambridge Analytica juga ditengarai terlibat dalam pilpres di India dan telah berupaya menjangkau Partai Bharatiya Janata (BJP) dan Kongres, menjelang pemilihan umum 2019.
Rupanya, SCL juga melakukan trik kotor serupa di seluruh dunia. Menurut situsnya, SCL telah mempengaruhi pilpres di Italia, Latvia, Ukraina, Albania, Rumania, Afrika Selatan, Nigeria, Kenya, Mauritius, India, Indonesia, Thailand, Taiwan, Kolombia, Antigua, St. Vincent & the Grenadines, St. Kitts & Nevis, dan Trinidad & Tobago.
Proses Penyelidikan
Siapa menabur angin, dialah yang menuai badai. Kira-kira begitulah yang kini menimpa Cambridge Analytica.
Kini mereka sedang menghadapi penyelidikan oleh Parlemen dan regulator pemerintah Inggris, dengan tuduhan melakukan praktik ilegal pada kampanye “Brexit” di Inggris. Pihak berwenang Inggris menggerebek kantor Cambridge Analytica di London pada Jumat malam lalu.
Sementara di AS, Federal Trade Commission Amerika Serikat mengungkapkan bahwa awal pekan ini mereka menyelidiki praktik privasi Facebook.
Baca juga: Bos Facebook Siap “Disidang” Kongres soal Skandal Data
Pemasukan pundi-pundi mereka juga kena imbasnya. Tidak ada kampanye Amerika atau “PAC super” yang melaporkan membayar pekerjaan perusahaan ini pada pertengahan semester 2018.
Tidak jelas juga apakah organisasi ini akan diminta untuk bergabung dengan kampanye pemilihan kembali Trump.
Sementara itu, Nix berusaha mengubah citranya yang sudah terlanjur buruk, dengan menggunakan psikografi ke dunia periklanan. Dia memposisikan dirinya sebagai guru untuk era iklan digital dengan menaruh slogan “Manusia Matematika”. [WS/HBS]




