Telset.id – LinkedIn mencatat keberhasilan awal dalam upayanya membersihkan platform dari konten berkualitas rendah atau yang dikenal sebagai AI slop. Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan, mengungkapkan bahwa lebih dari satu juta pengguna telah menggunakan opsi laporan “seems like AI slop” hanya dalam dua minggu sejak fitur tersebut diluncurkan.
Srinivasan menyatakan bahwa laporan pengguna tersebut, bersama dengan perubahan pada sistem deteksi LinkedIn, berhasil memangkas tampilan konten yang diklasifikasikan sebagai AI slop hingga 40 persen. Meski demikian, feed pengguna masih dipenuhi oleh konten semacam ini, menandakan bahwa perjuangan melawan AI slop belum sepenuhnya usai.
Langkah Konkret LinkedIn Melawan Konten Berkualitas Rendah
Dalam unggahannya, Srinivasan mencatat bahwa masukan dari pengguna membantu LinkedIn “lebih memahami bagaimana komunitas mengalami konten berkualitas rendah” di platform mereka. Hal ini mengindikasikan akan adanya tindakan yang lebih tegas di masa mendatang.
Tahap pertama dari kebijakan ini kini mulai diterapkan. Jika sebuah unggahan menerima cukup banyak masukan dari komunitas atau dilaporkan sebagai AI slop, pengguna akan melihat pesan di Post Analytics mereka. Pesan tersebut bertujuan “membantu Anda memahami bagaimana konten Anda diterima”.
Srinivasan menegaskan pendekatan LinkedIn dalam menangani masalah ini. “Kami mendekati ini dengan asumsi itikad baik; saya sendiri semakin sadar bagaimana agar tidak terdengar seperti AI dan tujuannya adalah memberikan umpan balik yang bermanfaat,” ujarnya.
Yang terpenting, tidak ada satu pun umpan balik yang menentukan bagaimana konten didistribusikan. “Kami melihat banyak sinyal secara bersamaan, dan kami telah membangun perlindungan untuk mencegah umpan balik individu digunakan untuk menargetkan anggota lain secara tidak adil,” tambah Srinivasan.
Keseriusan LinkedIn dalam Memberantas AI Slop
Langkah ini merupakan kelanjutan dari komitmen LinkedIn yang diumumkan pada awal Agustus 2026. Saat itu, Srinivasan menyatakan bahwa memerangi AI slop adalah “prioritas utama bagi kami semua. Kami sangat peduli tentang ini… orang datang ke LinkedIn untuk terhubung dengan orang-orang nyata dan berbagi perspektif, ide, dan keahlian mereka yang sebenarnya”.
Untuk melaporkan sebuah unggahan, pengguna cukup mengklik tiga titik di pojok kanan atas setiap postingan LinkedIn. Di antara opsi biasa untuk menyimpan, membagikan, atau menyematkan, kini tersedia opsi baru bertuliskan “Seems like AI slop”.

Srinivasan juga mengungkapkan upaya LinkedIn dalam memperkuat pertahanan otomatisnya. “Kami akan terus meningkatkan dan berinvestasi dalam pertahanan otomasi kami… hanya pada komentar saja, setiap hari kami sekarang menangkap ratusan ribu upaya komentar otomatis, dan telah memblokir miliaran upaya otomasi lainnya (posting dalam skala besar, slop) dalam beberapa bulan terakhir saja.”
Meskipun kemajuan telah dicapai, Srinivasan mengakui masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. “Meskipun ada kemajuan, kami tahu kami harus berbuat lebih banyak untuk memastikan LinkedIn tetap menjadi tempat di mana Anda dapat menemukan orang-orang nyata dan perspektif nyata… ini semua masih menjadi perhatian utama kami,” pungkasnya, mengisyaratkan langkah-langkah lebih lanjut akan segera hadir.
Keberhasilan awal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat menjadi senjata efektif dalam melawan banjir konten AI di platform media sosial. Dengan jutaan laporan yang masuk dan pemangkasan 40 persen tampilan konten AI slop, LinkedIn membuktikan bahwa kolaborasi antara pengguna dan sistem deteksi otomatis mampu memberikan dampak nyata.

Bagi para profesional yang selama ini merasa terganggu dengan maraknya konten generik hasil AI di beranda mereka, langkah LinkedIn ini tentu menjadi angin segar. Namun, perjalanan masih panjang dan efektivitas jangka panjang dari kebijakan ini akan terus diuji seiring berkembangnya teknologi pembuatan konten AI.





Komentar
Belum ada komentar.