Telset.id – Federal Communications Commission (FCC) secara resmi mencabut sertifikasi drone HoverAir Versa yang sebelumnya diklaim telah mengantongi persetujuan untuk dijual di pasar Amerika Serikat. Keputusan ini membuat drone 2-in-1 pertama di dunia itu kehilangan akses pasar AS dan berada dalam posisi yang sama dengan DJI.
HoverAir baru saja meluncurkan drone Versa melalui platform crowdfunding Indiegogo pekan lalu. Dalam materi promosinya, perusahaan tersebut menonjolkan klaim kepemilikan sertifikasi FCC sebagai keunggulan kompetitif utama dibandingkan produk DJI. Klaim tersebut menyiratkan bahwa Versa diizinkan untuk dijual di AS, pasar yang telah sepenuhnya menutup akses bagi drone DJI baru sejak 2025.
Namun, harapan HoverAir untuk memiliki keunggulan akses pasar tersebut dengan cepat sirna. FCC mengonfirmasi kepada TechRadar bahwa “sertifikasi untuk perangkat ini diberikan secara keliru dan telah dibatalkan oleh FCC serta dihapus dari database publik kami.”
FCC juga menyatakan sedang mempertimbangkan tindakan lebih lanjut terhadap HoverAir karena “secara nyata melanggar aturan Covered List FCC.”

Pernyataan Resmi FCC dan Konsekuensi Hukum
Dalam pernyataan resminya, FCC menegaskan bahwa “mengimpor, memasarkan, atau menjual perangkat [HoverAir Versa] di Amerika Serikat merupakan pelanggaran hukum AS, dan FCC telah menginstruksikan HoverAir untuk segera menghentikan aktivitas tersebut.”
FCC menjelaskan bahwa perangkat tersebut masuk dalam Covered List mereka. “Kamera Versa saja merupakan komponen penting UAS terlarang yang diproduksi di negara asing, dan ketika Flight Kit disertakan, perangkat tersebut masuk dalam larangan UAS yang diproduksi di negara asing,” demikian bunyi pernyataan FCC.
Lebih lanjut, FCC mengirimkan panduan kepada semua Telecommunications Certification Bodies untuk memperkuat due diligence mereka terhadap aplikasi sertifikasi. Hal ini bertujuan memastikan kepatuhan terhadap kewajiban hukum untuk tidak mensertifikasi peralatan yang masuk dalam Covered List FCC.
Spesifikasi Drone HoverAir Versa
Meskipun menghadapi masalah regulasi, HoverAir Versa tetap menjadi produk yang menarik secara teknologi. Drone ini merupakan yang ketiga dari rangkaian produk world-first HoverAir, setelah X1 yang dapat terbang sendiri dan Aqua yang tahan air.
Versa adalah drone 2-in-1 pocket gimbal camera pertama di dunia. Desain modularnya memungkinkan sayap (baling-baling yang dilindungi guard) dilepas dengan gerakan sederhana, mengubah perangkat dari kamera 4K self-flying seberat 230g menjadi kamera gimbal saku seberat 163g.
Fitur utama Versa meliputi:
- Video 4K hingga 60fps
- Video 4K HDR hingga 30fps dengan kedalaman warna 10-bit
- Foto 12MP dengan sensor 1/1,3 inci
- Palm take-off dan landing tanpa kontroler
- AI subject tracking dan auto framing
- Perintah suara dan gestur
- Kompatibilitas dengan perangkat Beacon HoverAir
- Kecepatan hingga 36km/jam dengan ketahanan angin Level 5
- Waktu terbang 14 menit
- Layar OLED haptic berputar 1,64 inci dengan kecerahan 800 nits

Nasib Penjualan dan Debut Publik
Menurut halaman Indiegogo-nya, Versa dijadwalkan untuk peluncuran global dengan pengiriman kepada para pendukung pada Oktober 2026. Harga untuk pasar AS tercantum mulai dari US$499 dan masih terpampang di halaman crowdfunding.
Namun, dengan pencabutan sertifikasi FCC, drone HoverAir Versa tampaknya tidak akan terbang di AS dalam waktu dekat. Ini menjadi kabar buruk bagi penggemar drone di AS yang menantikan kehadiran produk inovatif ini.
Baca Juga:
Meskipun demikian, drone inovatif ini tetap akan melakukan debut publiknya di ajang IFA, pameran elektronik konsumen yang berlangsung di Berlin, Jerman, pada 4-8 September. HoverAir juga merilis video YouTube yang menampilkan kemampuan Versa sebagai kamera saku yang bisa terbang.
Pencabutan sertifikasi ini merupakan pukulan telak bagi strategi HoverAir. Perusahaan tersebut sebelumnya optimistis dapat memiliki akses tidak terhalang ke pasar AS berkat inovasi drone 4K dan kamera gimbal saku mereka. Namun kini, HoverAir justru berada dalam posisi yang sama dengan DJI—terkunci dari pasar drone AS.
Sementara itu, FCC terus memperketat pengawasan terhadap perangkat yang masuk dalam Covered List. Langkah ini menunjukkan komitmen FCC dalam menegakkan aturan dan memastikan tidak ada lagi sertifikasi yang diberikan secara keliru di masa mendatang. Bagi konsumen yang tertarik dengan produk sejenis, penting untuk memantau perkembangan regulasi drone di pasar masing-masing. Sementara itu, tren pengelolaan perangkat dan skema trade-in tetap menjadi perhatian utama pengguna teknologi.
Keputusan FCC ini juga menjadi pelajaran penting bagi perusahaan teknologi lain tentang pentingnya kepatuhan regulasi sejak tahap awal pengembangan produk. Klaim sertifikasi yang tidak valid tidak hanya merugikan reputasi perusahaan, tetapi juga berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum yang serius.





Komentar
Belum ada komentar.