Wow! UEA Bangun Kota Futuristik Senilai Rp 5 Triliun

Telset.id, Jakarta Uni Emirat Arab (UEA) sedang membangun kota bernilai hampir Rp 5 triliun, yang di dalamnya lengkap dengan mobil-mobil tanpa pengemudi, rumah-rumah kaca dan villa-villa yang menggunakan energi matahari.

Di abad ke-20, Uni Emirat Arab terkenal sebagai salah satu negara terbesar penghasil minyak. Meski dikenal memiliki kota super modern yang tertata rapih, namun UEA termasuk salah satu negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia.

Tetapi dalam dua dekade terakhir, pemerintah UEA telah berupaya lepas dari ketergantungannya terhadap bahan bakar hasil bumi, dan beralih ke tenaga yang lebih ramah lingkungan.

UEA menargetkan 75 persen dari energi yang terpakai berasal dari sumber-sumber bersih sebelum 2050. Dan jika negara ini berhasil, maka UEA akan menjadi Negara dengan jejak karbon terminim di dunia.

Sebagai bagian dari rencana besar ini. perusahaan lokal Diamond Developers saat ini sedang membangun sebuah kota yang berjarak 18 mil dari pusat kota Dubai. Kota ini didesain mampu memproduksi lebih banyak energi dibandingkan dengan energi yang dikonsumsi.

Seperti dikutip dari Business Insider, kota ini dinamakan Sustainable City, yang pembangunannya diprediksi memakan biaya USD 354 juta atau sekitar hampir mencapai Rp 5 triliun. Kota ramah lingkungan ini direncanakan akan rampung pada tahun 2019 mendatang.

Pada 2013, Diamond Developers mulai membangun Sustainable City. Kota dengan luas 113 hektar ini bertujuan membatasi emisi karbondioksida sebanyak mungkin. Mobil-mobil berbahan bakar minyak  tidak diperbolehkan di lingkungan ini.

Para penghuninya hanya diperbolehkan menggunakan transportasi publik, mengendarai mobil-mobil pintar bertenaga listrik, atau mengendarai delman. Jangan harap ada pom bensin di kota ini, karena pemerintah UEA hanya akan menyediakan 250 charging station.

Pada 22 Januari lalu, otoritas transportasi Dubai telah menandatangain persetujuan untuk mengoperasikan mobil elektrik tanpa pengemudi di kota ini. Para pemilik rumah juga akan mendapatkan golf cart elektrik atau subsidi USD 10 ribu (sekitar Rp 130 juta), jika ingin membeli kendaraan elektrik tambahan.

Para penghuni juga bisa menumpang bus elektrik yang disediakan di kota ini secara gratis. Setiap rumah dilengkapi dengan panel bertenaga surya pada atapnya. Taman seluas 29,870 meter dengan 2,500 pohon juga akan dibangun untuk membantu mengurangi polusi udara.

Diamond Developers sedang membangun kota ini dalam dua tahap. Tahap pertama – yang diresmikan pada 2015 – termasuk di dalamnya 500 villa, 89 bangunan apartemen, 11 kubah rumah kaca yang mendominasi pusat pengembangan, dengan luas 55.000 meter lahan pertanian urban outdoor, dan 1,16 juta persegi kantor serta pusat perbelanjaan.

Lokasi ritel dilengkapi juga dengan pusat kebugaran, kolam renang publik, dan equestrian dengan 32 kandang. Dua danau buatan dengan air daur ulang juga akan dihadirkan, demikian seperti dilkutip dari The Khaleej Times.

Pembangunan tahap kedua yang masih dalam pembangunan juga akan dilengkapi dengan fasilitas sekolah, masjid, museum sains, country club dan mal.

Masih bagian dari tahap ini, sebuah hotel baru dengan sistem minim energi juga sedang dibangun – dan akan menjadi yang pertama di Timur Tengah. Pihak pengembang juga mengklaim bahwa penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti UEA akan menjadikan kota ini sebagai penghasil energi yang jauh lebih banyak dibandingkan energi yang dihabiskan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah UEA telah mengerjakan proyek-proyek serupa. Beberapa diantaranya sukses menarik perhatian masyarakat. Hanya sekitar 300 jiwa yang menduduki Masdar City, Abu Dhabi, meski awalnya direncanakan hingga 40.000 penghuni.

Sustainable City telah berhasil mengumpulkan peminat berkebangsaan UEA (atau setidaknya mereka yang mampu, mengingat satu unit rumah dihargai USD 1 juta atau sekitar Rp 13 milyar). Diperkirakan 1.800 orang sudah membeli rumah dan 900 lainnya menyewa.

Kota metropolis ini mengisyaratkan bahwa Uni Emirat Arab sedang mencoba mengampanyekan masa depan yang lebih berkelanjutan. Well, kapan ya kira-kira Indonesia bisa punya kota sebagus ini? [WIN/HBS]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here