WhatsApp Berawal dari Benci Iklan dan Lupa Password

WhatsApp Berawal dari Benci Iklan dan Lupa Password

Penulis:Wahyu Sudoyo
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id, Jakarta – Nama Jan Koum mendadak mencuri perhatian netizen, pasca pengumumannya mundur sebagai CEO WhatsApp. Sosok Koum mungkin tak setenar Mark Zuckerberg, pemilik Facebook. Namun sejatinya, Koum layak ditempatkan sebagai sosok fenomenal di ranah layanan pesan instant lewat aplikasi WhatsApp.

Siapa yang tak kenal WhatsApp? Aplikasi ini sangat terkenal, bahkan mungkin bisa dibilang hampir sejajar Facebook, perusahaan induknya. Salah satu sebabnya adalah aplikasi instant messaging ini memanfaatkan cross-platform.

Dengan cross-platform itu, WhatsApp dapat dipergunakan pada perangkat Android, iOS, Windows Phone, BlackBerry, Symbian dan sistem operasi lain, dan memungkinkan pengguna berkomunikasi melalui teks, suara dan gambar melalui Wi-Fi atau jaringan selular.

Meski sudah sangat populer, namun mungkin belum banyak yang tahu tentang lika-liku sejarah terciptanya WhatsApp. Padahal ada kisah-kisah menarik dari perjalanan Jan Koum dan Brian Acton mengembangkan aplikasi WhatsApp.

Benci Iklan

Gagasan awal diciptakan aplikasi ini oleh Jan Koum dan Brian Acton, mungkin bukan pada awal tahun 2009, tapi dua tahun lebih awal. Pada saat itu dua sahabat tersebut masih bekerja di Yahoo dan kinerjanya bagus.

Walaupun sudah cukup mapan dengan gaji besar, namun Koum dan Acton merasa tidak betah bekerja di sana karena mereka berdua tidak menyukai rencana pemasangan iklan dan logo pada tampilan yahoo, sehingga terjadi perdebatan.

Merasa tidak menemukan solusi tepat, maka Koum dan Acton memutuskan untuk hengkang dari Yahoo pada 31 Oktober 2007.

Setelah dua tahun “menganggur”, pada awal 2009 Koum membeli sebuah iPhone dan dari situ muncul gagasan untuk menciptakan peluang besar di App Store. Dia berniat membuat aplikasi yang dapat menampilkan status orang di daftar kontak ponsel, bahkan dalam keadaan baterai habis.

Selain itu, Dia juga betekad untuk tidak mencampurkan kepentingan pengguna dengan iklan yang bertebaran disana-sini. Gagasan ini kemudian terwujud, bahkan hingga kini tidak ada iklan yang muncul di whatsApp. Sebagai gantinya, penggunaan aplikasi ini ditarik biaya tak sampai US$1 per tahun atau di bawah Rp 14.000 saja.

Pada mulanya, aplikasi WhatsApp diciptakan untuk memberikan pengguna cara berbagi status seperti “Lagi sibuk kerja” atau “otw liburan” dengan orang-orang dalam jaringan mereka.

Ini juga menjadi alasan mengapa aplikasi ini disebut “WhatsApp”, yang kemudian nama itu dipilih Koum karena terdengar seperti “what’s up” yang pada dasarnya tentang aplikasi untuk berkomunikasi dengan kontak seseorang.

WhatsApp pertama kali diperkenalkan Apple melalui pemberitahuan push pada iOS pada Juni 2009, atau hanya empat bulan setelah perusahaan tersebut dibentuk pada 24 Februari oleh Jan Koun, Alex Fishman dan Brian Acton. Disini Koum menggunakan fitur baru untuk membiarkan kontak pengguna nge-ping setiap kali mereka perbaharui status.

Orang-orang segera mulai menggunakan fitur ini untuk berbicara dengan teman-teman melalui pembaruan status mereka dan hampir secara tidak sengaja WhatsApp berubah menjadi layanan pesan (messaging service).

Tentu saja WhatsApp bukan yang pertama dikenal sebagai platform messaging service. Sebab, sebelumnya sudah ada Blackberry Mesenger (BBM), Yahoo Messenger dll, yang memiliki jutaan pengguna.

Lupa Password

Bagaikan pepatah tak ada gading yang tak retak, begitulah yang terjadi pada Jon Koum. Walaupun dikenal sangat pintar dan ahli pemrograman dan enkripsi dengan belajar sendiri alias otodidak, namun dia tetap memiliki kekurangan yang cukup memalukan, yakni pelupa. Bahkan Koum mengaku bahwa dirinya sering sekali lupa password ketika akan login ke suatu layanan.

Misalnya ketika akan login ke akun Skype miliknya, Dia sampai mencoba beberapa kali untuk login, namun itu sia-sia. Kaoum juga nampaknya malas untuk me-reset kembali password akun miliknya.

Tak seperti orang lain, kekurangan ini justeru menjadi senjata mematikan, yang nantinya berguna untuk terus bersaing dalam kompetisi di dunia persilatan media sosial. Bagaimana caranya? Dengan membuat aplikasi yang aman namun tidak memakai kata sandi alias password untuk mengaksesnya.

Sebagai gantinya, WhatsApp menggunakan nomor telepon pengguna untuk masuk atau login. Cara ini dianggap menjadi terobosan baru karena menjadikan aplikasi ini sangat mudah diakses, tidak seperti Skype atau Gtalk yang mewajibkan penggunanya mendaftar terlebih dulu menggunakan akunt.

BBM sebenarnya juga melakukan hal yang sama, tapi hanya terbatas pada perangkat BlackBerry sehingga membuat pengguna tidak merasa puas karena hanya terbatas pada perangkat satu merek.

Setelah bercokol di App Store, pada Januari 2010 WhatsApp muncul di BlackBerry Store disusul Play Store untuk Android pada Agustus tahun yang sama.

Meskipun status WhatsApp telah diubah dari gratis ke berbayar, popularitas WhatsApp tetap melesat cepat di hampir semua platform. Pada Februari 2013, pengguna aktif WhatsApp tercatat mencapai angka 200 juta.

Angka ini membengkak dua kali lipat pada Desember dan naik lagi menjadi 500 juta pada April 2014. Pada September 2015, pengguna aktif WhatsApp naik hampir dua kali lipat hingga tercatat mencapai 900 juta.

Kinerja aplikasi super moncer ini pastinya menarik perhatian para perusahaan raksasa internet, termasuk Facebook. Bak cerita drama sinetron, WhatsApp Inc menerima pinangan Facebook dengan mahar sebesar USD 19 miliar atau mencapai Rp 265 triliun.

Padahal perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg itu telah menolak lamaran kerja Koum dan Acton ta lama setelah berhenti dari Yahoo.

Pasca berganti kepemilikan perusahan, Facebook tidak melakukan banyak perubahan pada WhatsApp. Pemasangan aplikasi ini tetap dipatok banderol per tahun dan tanpa iklan, tak seperti yang ditakutkan oleh banyak orang. [WS/HBS]