Tim Cook Buka-bukaan Sebagai Seorang Gay

Kasus Facebook

JAKARTA – Kabar mengejutkan dari raksasa teknologi Apple ketika CEO Tim Cook secara terbuka mengakui dirinya adalah seorang gay. Bos Apple menyampaikan hal tersebut dalam sebuah tulisan panjang yang diposting di situs Businessweek. Apa saja yang ditulis Cook dalam suratnya tersebut?

Bagi seorang iPhone fanboys, mungkin pengakuan Cook ini bukanlah berita baru yang mengejutkan. Pasalnya, bos Apple tersebut memang telah lama dikabarkan memiliki masalah disorientasi seksual alias gay.

Namun bagi orang yang tidak mengenal dekat Apple, khususnya CEO Tim Cook, tentulah kabar bahwa Cook adalah seorang gay merupakan berita yang mengejutkan.

Banyak komentar langsung diberikan para pembaca, baik itu komentar miring dengan nada mengejek, maupun komentar yang memberi dukungan.

Bagi Cook, tidak mudah untuk mengakui atau mengungkap masalah pribadinya ke publik. Namun dia tahu hanya soal waktu saja masalah ini akan diungkapkannya ke publik.

Dan Cook akhirnya membuktikan kebesaran jiwanya dengan membuat pengakuan secara terbuka bahwa dirinya seorang gay.

Cook pada akhirnya tidak ingin menutupi jati dirinya sebagai seorang gay. Dia bahkan mengatakan bangga menjadi seorang gay, karena menganggap bahwa menjadi gay adalah salah satu dari anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepadanya.

Pengakuan itu dia tulis dalam tulisan panjang yang diposting di situs Businessweek hari ini, Jumat (31/10/2014). Ingin tahu apa saja yang diungkap Tim Cook dalam tulisannya tersebut?

Berikut ini tulisan panjang “pengakuan seorang gay” yang ditulis Tim Cook:

Sepanjang karir profesional saya, saya telah mencoba mengatur privasi saya hingga level terbawah. Saya sudah mencapai dasar dan tidak berusaha mencari perhatian untuk diri saya pribadi. Apple telah menjadi salah satu perusahaan yang paling disoroti di dunia, dan saya ingin terus fokus pada produk kami dan hal-hal besar yang bisa diraih para konsumen menggunakan produk kami.

Pada saat yang sama, saya meyakini kata-kata Dr Martin Luther King yang mengatakan, “Pertanyaan paling mendasar tentang hidup adalah, ‘Apa yang kamu lakukan untuk orang lain’?” Saya suka menantang diri saya dengan pertanyaan itu, dan saya lalu menyadari bahwa keinginan saya atas privasi pribadi telah menghalangi saya untuk melakukan banyak hal penting. Itulah yang membawa saya hingga hari ini.

Selama bertahun-tahun, saya terbuka dengan banyak orang mengenai orientasi seksual saya. Banyak teman saya di Apple tahu saya seorang gay, dan itu tidak mempengaruhi cara mereka memperlakukan saya. Tentu saja, saya cukup beruntung bisa bekerja di perusahaan yang mencintai kreativitas dan inovasi dan menyadari semua hal tersebut hanya bisa diwujudkan jika Anda merangkul segala perbedaan. Tidak satupun orang bisa sangat beruntung.

Saya memang tidak pernah menutupi orientasi seksualitas saya, tetapi saya belum pernah mengungkapkannya kepada publik, hingga saat ini. Jadi biar saya perjelas: Saya bangga menjadi seorang gay, dan saya menganggap bahwa menjadi gay adalah salah satu dari anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada saya,

Menjadi gay telah memberikan pemahaman  yang lebih dalam tentang makna menjadi kaum minoritas dan membuka jendela tantangan bahwa orang-orang dalam grup minoritas lain harus berjuang menghadapi keseharian. Hal ini telah membuat saya menjadi lebih berempati, dan mengarahkan saya ke kehidupan yang lebih bermakna. Seringkali [hidup] sangat keras dan tidak nyaman tapi telah memberikan kepercayaan pada saya untuk menajadi diri sendiri, mengikuti jalan saya, dan tabah terhadap kemalangan dan prasangka buruk. Hal ini juga menjadikan saya berkulit badak, sangat berguna saat saya menjadi CEO Apple.

Dunia telah berubah begitu besar sejak saya kanak-kanak. Amerika tengah bergerak maju menuju kesetaraan pernikahan, dan para pesohor yang berani muncul mengakuinya telah membantu mengubah pandangan [buruk] dan menjadikan budaya kita lebih toleran. Namun, masih ada banyak hukum dan aturan di sebagian besar negara yang membolehkan bos memecat pegawai hanya semata-mata berdasar orientasi seksual mereka. Ada banyak tempat dan tuan tanah yang mengusir pembantunya karena gay, atau adanya aturan yang melarang kita mengunjungi kawan yang sedang sakit dan tidak membolehkan menjadi ahli waris [karena gay]. Tak terhitung orang, khususnya anak-anak, menghadapi ketakutan dan kekerasan setiap hari karena orientasi seksual mereka.

Saya tidak menyebut diri saya seorang aktivis tetapi saya menyadari betapa banyak yang bisa saya dapatkan saat saya berkorban untuk orang lain. Jadi, jika mendengar bahwa CEO Apple yang seorang gay bisa membantu orang lain berjuang, atau memberikan kedamaian pada orang lain yang merasa sendiri, atau menginspirasi orang yang berjuang untuk kesetaraan, maka itu layak ditukar dengan privasi saya.

Saya akui ini bukan pilihan mudah. Privasi masih menjadi hal yang penting bagi saya, dan saya tetap merahasiakan sebagian kecilnya. Saya telah menjadikan Apple sebagai tempat kerja untuk hidup saya, dan akan terus menghabiskan waktu fokus untuk menjadi CEO terbaik semampu saya. Itu yang berhak diterima pegawai kami – dan juga konsumen kami, para developer, pemegang saham, dan supplier partner. Sebagian kemajuan sosial saat ini telah menyadari bahwa seseorang tidak dinilai dari jenis kelamin, ras ataupun gender. Saya seorang engineer, paman, pecinta alam, penggila fitness, dan anak laki-laki yang berasal dari Amerika Selatan, pecinta musik, dan banyak lainnya. Saya harap orang akan menghormati keinginan saya untuk fokus pada hal-hal yang saya sukai dan pekerjaan yang memberikan kesenangan untuk saya.

Perusahaan yang memberikan keberuntungan pada saya ini telah lama menjunjung tinggi hak asasi dan kesetaraan untuk semua. Kami telah memberikan dukungan kuat terharap kesetaraan di tempat kerja di hadapan Konggres AS, seperti kami juga telah mendukung kesetaraan pernikahan di kota temapt markas kami berada, di California. Dan kami juga telah berbicara di Arizona saat para wakil rakyat di negara bagian itu melewatkan bill diskriminasi yang menargetkan komunitas gay. Kami akan terus memperjuangkan nilai yang kami yakini dan saya yakin bahwa setiap CEO yang pernah memimpin perusahaan hebat ini, terlepas dari ras, gender, ataupun orientasi seksualnya, akan melakukan hal yang sama. Dan saya secara pribadi terus menyuarakan kesetaraan bagi semua orang hingga jari-jari kaki saya mengarah ke atas [akhir hayat].

Saat saya datang ke kantor setiap pagi, saya disapa oleh foto Dr. King dan Robert F. Kennedy. Saya tidak berpura-pura bahwa menuliskan hal ini membuat orang membandingkan saya dengan mereka. Semua ini agar saya bisa memandang foto-foto tersebut dan menyadari bahwa saya tengah melakukan apa yang harus saya lakukan, meskipun kecil, untuk membantu orang lain. Kita telah menyusuri jalan terjal menuju keadilan bersama-sama, batu demi batu. Dan [tulisan] ini adalah batu saya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here