Stress? ā€œRobot Pelampiasanā€ Ini Siap Dibanting dan Dipukul

Stress? ā€œRobot Pelampiasanā€ Ini Siap Dibanting dan Dipukul

Penulis:Naufal Mamduh
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø2 menit membaca
Bagikan:

Telset.id, Jakarta – Robot tidak hanya diplot untuk membantu kegiatan manusia di masa sekarang dan masa depan, tapi juga menjadi ā€œtempat pelampiasanā€œ. Ya, baru-baru ini telah dikembangkan ā€œrobot pelampiasanā€ yang siap dipukul, ditusuk, dibanting, dan dimarahi untuk membantu manusia melampiaskan emosi mereka.

DilaporkanĀ Engadget, seperti dilansirĀ Telset.idĀ pada Selasa (07/05/2019), peneliti dari Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat telah menciptakan robot yang dirancang untuk dipukul, ditusuk bahkan dimarahi.

Pembuatan robot pelampiasan yang menjadi objek katarsis ini dipimpin oleh Michael Luria dan dibantu oleh Amit Zoran dan Jodi Forlizzi. Luria dan tim menciptakan 4 objek katarsis yang dirancang untuk menangani berbagai emosi dan perilaku.

{Baca juga:Ā Di Jepang Ada Museum Robot Lovot yang Jadi ā€œTeman Curhatā€}

Objek pertama terlihat seperti bantal sofa berwarna hitam. Robot ini dirancang untukĀ ditusuk-tusuk, dan setelah ditusuk, robot itu mulai bergetar sampai pengguna merasa lega.

Kemudian objek kedua, terlihat seperti batu kristal.Ā Robot itu dirancang bagi pengguna yang ingin meluapkan emosinya secara verbal, dan kristal tersebut akan menyala ketika pengguna mengeluarkan kata-kata emosionalnya.

Lalu objek ketiga, dengan bentuk seperti robot boneka. Robot ini akan tertawa dengan suara yang menjengkelkan, dan baru akan berhenti ketika kita memukulnya atau membantingnya ke permukaan tanah.

Objek keempat,Ā memungkinkan pengguna untuk menulis pesan pribadi pada ubin keramik dan memusnahkannya dengan palu. Saat ubin pecah, objek mulai memancarkan cahaya dan suara.

{Baca juga:Ā Rusia Mulai Gunakan Robot Sebagai Pembaca Berita}

Diungkapkan oleh para peneliti, ketika seseorang tidak punya pilihan selain marah, maka mengeluarkan kemarahan pada robot merupakan opsi yang tepat.

ā€œKami tidak ingin mengambil emosi negatif terhadap orang lain, tetapi kami juga sering tidak mengeluarkan energi itu ketika kami sendirian. Mungkin ada brankas ruang untuk mengekspresikan emosi negatif dengan teknologi,ā€ kata Luria. (NM/FHP)

Sumber: Engadget