Jakarta – Misi kembali ke Bulan yang digaungkan NASA melalui program Artemis semakin menarik perhatian dunia. Salah satu poin utama yang membuat misi ini istimewa adalah rencana pendaratan perempuan pertama, orang kulit berwarna pertama, serta mitra astronaut internasional pertama di permukaan Bulan. Namun, belakangan ini, perubahan informasi di situs resmi NASA memicu pertanyaan besar: apakah komitmen terhadap keragaman dalam eksplorasi luar angkasa masih menjadi prioritas?
Perubahan Teks yang Memicu Kontroversi
Pada awalnya, situs resmi NASA dengan jelas menyatakan tujuan misi Artemis untuk mendaratkan perempuan pertama dan orang kulit berwarna pertama di Bulan. Namun, laporan terbaru dari Orlando Sentinel mengungkapkan bahwa semua penyebutan tersebut tiba-tiba dihapus. Perubahan ini langsung memicu gelombang reaksi di media sosial, dengan banyak netizen mempertanyakan apakah eksplorasi luar angkasa kembali menjadi “klub eksklusif” bagi laki-laki kulit putih.
Menanggapi hal ini, Jimi Russell, Pejabat Senior Urusan Publik di Direktorat Misi Operasi Luar Angkasa NASA, menjelaskan bahwa perubahan teks dilakukan sesuai dengan Perintah Eksekutif Presiden. “Kami berharap dapat mempelajari lebih lanjut tentang rencana Pemerintahan Trump untuk agensi kami dan memperluas eksplorasi di Bulan dan Mars demi kepentingan semua orang,” ujarnya kepada IFLScience.
Artemis: Misi Penuh Tantangan dan Penundaan
Program Artemis bukan tanpa rintangan. Sejak diluncurkan, misi ini telah mengalami sejumlah penundaan. Artemis II, yang semula dijadwalkan pada Januari 2024, akhirnya ditunda hingga tahun ini. Sementara itu, Artemis III—misi pendaratan di Bulan—dijadwalkan ulang hingga pertengahan 2027. Namun, banyak pihak meragukan jadwal tersebut mengingat tantangan teknis yang masih harus diatasi.
Misi Artemis II akan melibatkan empat astronaut: Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch dari NASA, serta Jeremy Hansen dari Kanada. Mereka akan terbang mengelilingi Bulan tanpa mendarat. Jika berhasil, ini akan menjadi perjalanan terjauh manusia dalam lebih dari 50 tahun sejak era Apollo.
Kendala Teknis dan Masa Depan Artemis III
Artemis III, yang diharapkan menjadi misi pendaratan di Bulan, menghadapi tantangan besar. NASA telah menugaskan SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin milik Jeff Bezos untuk menyediakan kendaraan pendaratan. Namun, kegagalan uji terbang Starship milik SpaceX—yang meledak beberapa menit setelah peluncuran—menimbulkan keraguan apakah kendaraan ini bisa siap dalam waktu dua tahun.
Dengan ketidakpastian ini, spekulasi pun bermunculan. Apakah NASA akan mengubah rencana atau mencari alternatif lain? Yang pasti, misi Artemis tetap menjadi tonggak penting dalam sejarah eksplorasi luar angkasa, terutama dalam upaya mewujudkan keragaman di antariksa.
Mengapa Misi Ini Penting?
Selain sebagai langkah besar menuju eksplorasi Mars, Artemis juga menjadi simbol kemajuan dalam inklusivitas. Christina Koch dan Victor Glover, misalnya, akan menjadi perempuan dan orang kulit berwarna pertama yang melakukan perjalanan jauh ke luar angkasa. Jika Artemis III berhasil, ini akan menjadi pendaratan pertama di Bulan sejak 1972—sekaligus membuka babak baru bagi umat manusia.
Namun, dengan segala perubahan dan penundaan, satu pertanyaan besar tetap menggantung: akankah impian mengirim perempuan pertama ke Bulan benar-benar terwujud? Jawabannya mungkin masih harus menunggu waktu.