AJ Minotti punya tiga anak—dan semuanya kecanduan Minecraft. Sepasang putri kembarnya yang berusia 10 tahun dan putra bungsu berumur 6 tahun tak pernah lelah membangun dunia virtual dari balok-balok tak terbatas yang disediakan game ini. Minotti, seorang profesional marketing asal Ohio, sering kali terpukau dengan kreasi mereka. “Ayah, lihat ini!” seru salah satu putrinya suatu hari, memperlihatkan layar Nintendo Switch-nya. Di sana, avatar kecilnya berdiri di depan air terjun. Dengan satu tombol, air terjun itu berhenti, membuka jalan ke sebuah gua. Di dalamnya, tersembunyi markas rahasia lengkap dengan pencahayaan interaktif dan ruang pamer untuk koleksi item dalam game. “Seperti istana bawah tanah,” ujar Minotti, terkagum-kagum.
Fenomena Minecraft: Lebih dari Sekadar Game
Minecraft bukan sekadar game—ia adalah fenomena budaya. Sejak diluncurkan pada 2009, game ini telah terjual lebih dari 300 juta kopi hingga 2023. Bersama Roblox dan Terraria, Minecraft menjadi favorit segala usia, dari anak-anak hingga dewasa. Daya tariknya begitu kuat hingga anak-anak bisa menghabiskan berjam-jam tanpa merasa bosan—prestasi yang tak mudah di era penuh distraksi ini. Tak heran, beberapa orang tua khawatir anak mereka terlalu terobsesi, bahkan kecanduan, hingga sulit dialihkan dari layar komputer.
Popularitas Minecraft bahkan melahirkan film Hollywood bertajuk A Minecraft Movie, dibintangi Jack Black dan Jason Momoa, yang rencananya tayang April 2025. Tapi apa sebenarnya yang membuat game ini begitu memikat bagi anak-anak?
Psikologi di Balik Kecintaan Anak pada Minecraft
Menurut para ahli, kesuksesan Minecraft tak lepas dari faktor psikologis—bahkan evolusioner. Game ini menyentuh naluri dasar manusia: keinginan untuk membangun. Peter Gray, psikolog dari Boston College, AS, menjelaskan bahwa semua mamalia bermain saat kecil. Predator berlatih menangkap mangsa, sementara mangsa berlatih menghindar. “Mereka bermain untuk mengasah keterampilan yang penting bagi kelangsungan hidup dan reproduksi,” katanya.
Manusia berbeda karena bertahan hidup berkat kemampuan membangun—mulai dari gubuk hingga peralatan berburu. “Wajar jika seleksi alam memberi anak-anak dorongan kuat untuk bermain membangun sesuatu,” tambah Gray. Minecraft, dalam hal ini, hanyalah versi digital dari aktivitas klasik seperti bermain balok kayu atau Lego.
Minecraft sebagai “Playground Digital”
Julian Togelius, ilmuwan komputer di New York University, melihat betapa kuatnya naluri membangun pada anaknya yang belum genap tiga tahun. Di sekolah, ia langsung membuat terowongan untuk mobil-mobilan. Ketika dewasa nanti, komputer mungkin akan menjadi medium favoritnya. Minecraft, sebagai game “sandbox” (tanpa tujuan khusus), memudahkan anak berkreasi tanpa hambatan teknis seperti coding.
Selain mode kreatif, Minecraft juga menawarkan Survival Mode, di mana pemain harus bertahan dari serangan musuh. Ada pula aspek sosial—seperti yang dialami anak-anak Minotti, yang kerap bertemu teman dan sepupu secara virtual ketika tak bisa bertatap muka. “Ini seperti taman bermain digital,” ujarnya.
Kepribadian Terungkap Lewat Game
Togelius meneliti bagaimana kepribadian pemain tercermin dalam gaya bermain Minecraft. Dalam studinya, ia menemukan bahwa pemain yang independen cenderung tidak menyelesaikan misi utama. Sementara mereka yang menghargai nilai keluarga sering membangun rumah kecil dengan pagar. Uniknya, pemain Minecraft umumnya lebih penasaran dan kurang terpancing sifat balas dendam dibanding populasi umum.
Bailey Brashears, psikolog Texas Tech University, mengidentifikasi lima aspek utama gameplay Minecraft: sosial, kompetensi (melalui pertarungan atau eksplorasi), rekayasa, kreativitas, dan survival. “Kebanyakan game hanya menawarkan satu atau dua elemen ini,” katanya. “Fortnite, misalnya, lebih fokus pada sosial dan survival.”
Kekhawatiran dan Manfaat
Meski begitu, waktu bermain yang panjang memicu kekhawatiran soal screen time. Minotti mengaku selalu memantau aktivitas anak-anaknya dan membatasi permainan berlebihan. Ia juga memastikan mereka tetap aktif di dunia nyata, seperti bermain basket. “Kami tidak membiarkan mereka bebas di internet,” tegasnya.
Di sisi lain, Minecraft juga digunakan sebagai alat pendidikan. Selama pandemi Covid-19, profesor universitas memanfaatkannya untuk pembelajaran online. Guru-guru di Irlandia melaporkan keberhasilan menggunakan Minecraft Education untuk mengajar bahasa Gaelic, misalnya dengan membuat restoran virtual. Penelitian lain menunjukkan bahwa Minecraft bisa meningkatkan motivasi belajar, pemecahan masalah, dan keterampilan literasi.
Namun, game ini belum sepenuhnya inklusif. Studi di Australia menemukan bahwa 54% anak laki-laki berusia 3-12 tahun bermain Minecraft, sementara hanya 32% perempuan yang melakukannya. Padahal, keterampilan digital sama pentingnya bagi semua anak.
Bagi Minotti, Minecraft adalah sarana kreativitas tanpa batas. “Ini seperti punya semua Lego di dunia, tanpa perlu ruang penyimpanan,” katanya. Dan bagi anak-anaknya, itu lebih dari cukup.