Telset.id – Salah satu pekerjaan idaman zaman sekarang adalah bekerja di Google. Alasannya, bekerja di perusahaan sekaliber Google tentu memberikan beragam kenyaman, dan mendapatkan gaji yang besar. Namun ternyata anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Kenapa?
Seorang mantan Software Engineer Google bernama Steve Yegge membeberkan fakta lain mengenai suasana kerja di Google.
Ia menyatakan bahwa keputusannya meninggalkan perusahaan raksasa Internet itu merupakan keputusan yang tepat.
“Saya selalu berpikir saya akan mati di Google, mungkin tersedak sampai mati di salah satu brownies cokelat gratis mereka,” katanya seperti dikutip CNBC, Sabtu (27/01/2018).
Menurut Yegge, ada 5 dosa Google yang menyebabkan dia memutuskan keluar dari perusahaan yang bermarkas di Silicon Valley itu. Dosa apa saja?
Mulai dari halaman berikutnya
1. Google Terlalu Konservatif
Yegge mengatakan bahwa Google sangat fokus untuk melindungi teknologi dan inovasi mereka. hal inilah yang menyebabkan raksasa mesin pencarian tersebut terlalu takut untuk mengambil risiko. Padahal keberanian untuk mengambil risiko merupakan salah satu hal penting dalam menciptakan inovasi sesungguhnya.
“Ketakutan akan risiko di Google adalah norma, bukan pengecualian,” katanya.
2. Penuh Politik
Politik di sebuah kantor apalagi di sebuah perusahaan sebesar Google memang menjadi hal yang tak bisa dihindari. Yegge menyatakan, politik kantor jauh lebih baik dibandingkan sistem diktator di dalam lingkungan kantor. Tapi dirinya juga mengatakan bahwa politik kantor menciptakan proses yang tidak praktis.
“Ini memperlambat pekerjaan Anda dan menyebabkan masalah eksekusi,” ujar Yegge.
3. Google Terlalu Arogan
Yegge juga menyebutkan bahwa sebagian besar karyawan Google merupakan orang-orang yang rendah hati. Tapi ironisnya, sebenarnya Google merupakan perusahaan yang terlalu sombong dan arogan.
Dijelaskannya, kesombongan itu karena Google merasa mereka merupakan perusahaan yang punya perkembangan teknologi yang cepat. Sehingga membuat mereka merasa tak terkalahkan.
“Perusahaan menderita kehilangan sentuhan dengan pelanggan dan pengambilan keputusan strategis yang buruk,” ungkap Yegge.
4. Kerap “Kebingungan”
“Dosa” Google selanjutnya jelas Yegge adalah mereka kerap kebingungan dalam menciptakan suatu inovasi. Bahkan siapapun yang mengikuti perkembangan teknologi Google, maka mereka bisa melihat berbagai usaha inovasi yang gagal dari Google.
“Google melakukan berbagai hal akhir-akhir ini yang membuat semua orang menggaruk-garuk kepala mereka,” ucap Yegge.
Dia mencontohkan jika perusahaan mencoba memaksakan suatu produk pada konsumen, meluncurkan produk yang mendapat kritikan keras dan memberhentikan layanan populer.
“Karyawan Google tahu ini sedang terjadi dan sama frustrasinya dengan Anda,” pungkasnya.
5. Terlalu Fokus pada Kompetitor
Dosa kelima Google dan juga menjadi dosa yang terburuk menurut Yegge adalah, mereka telah beralih dari fokus pada pelanggan, menjadi terlalu fokus pada kompetisi dengan para pesaingnya. Itu terlihat dengan usaha kecil yang dilakukan Google untuk mengembalikan fokus mereka kembali ke para pelanggannya.
“Singkatnya, Google bukan tempat yang sangat inspiratif untuk bekerja lagi,” kata Yegge.
“Saya sebenarnya suka dan bersemangat dengan pekerjaan saya, tapi Google telah telah mengecewakan saya,” lanjutnya. (FHP/HBS)




