China Larang Guru Kasih Tugas PR Lewat WeChat

Telset, Jakarta –  Sebuah edaran yang diposting minggu lalu oleh Departemen Pendidikan di Provinsi Zhejiang, China melarang guru menggunakan WeChat, QQ atau aplikasi chatting lainnya untuk memberikan pekerjaan rumah atau meminta orang tua untuk menilai tugas siswa sekolah.

Seiring booming mobile internet di China, ponsel telah menjadi perpanjangan dari kegiatan sehari-hari, termasuk praktik sekolah yang diberikan guru kepada murid-muridnya.

Alih-alih mengumumkan PR di kelas atau membagikan pemberitahuan kepada siswa secara langsung, kini guru memberi tugas ke dalam kelompok WeChat yang sengaja dirancang untuk berinteraksi dengan orangtua.

Banyak guru di China menggunakan WeChat untuk meminta orangtua agar membantu mengerjakan dan bahkan menilai PR anak mereka.

{Baca juga: Pemerintah China Bisa ‘Intip’ Pesan WeChat yang Dihapus’}

Seruan yang dikeluarkan secara nasional sejak Oktober itu mengarahkan agar para guru dan sekolah mengambil lebih banyak tanggung jawab, alih-alih memindahkan beban ke orangtua.

“Guru harus bertanggung jawab atas pekerjaan mereka, mengajar dengan serius, memperbaiki pekerjaan rumah dengan bijaksana dan membantu siswa dengan perhatian,” tulis edaran tersebut.

Tidak semua sekolah menyalahgunakan platform digital sedemikian rupa. Seorang orangtua yang berbasis di Shenzhen mengatakan kepada TechCrunch bahwa siswa kelas dua di sekolah negeri setempat masih banyak melakukan pekerjaan rumahnya dalam bentuk tertulis dengan keterlibatan orangtua.

“Berbagai sekolah memperlakukan teknologi secara berbeda dan saya tidak menentang penggunaannya. Misalnya, sangat membantu untuk menggunakan perangkat digital untuk belajar bahasa Inggris karena banyak dari proses tersebut melibatkan audio dan video,” kata salah satu orangtua murid.

“Saya pikir kadang-kadang media menulis guru dan sekolah dengan negatif hanya untuk mendapatkan perhatian,” katanya lagi.

Rekomendasi lain dalam edaran itu menyebutkan membatasi jumlah PR secara online untuk mengurangi rabun jauh, yang menjadi sumber kekhawatiran bagi orangtua dan masyarakat luas.

Arahan baru juga datang ketika Beijing mencoba mengendalikan layanan teknologi yang mulai menyusup ke kehidupan siswa. Pemerintah meminta perusahaan penyedia layanan game online agar membatasi waktu bermain anak-anak, dan mengakibatkan saham Tencent dan NetEase jatuh.

Baru-baru ini, Departemen Pendidikan meminta sekolah dan universitas untuk mengaudit aplikasi yang digunakan oleh guru dan siswa di kampus sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh regulator.

Meskipun pemerintah berusaha mencabut perangkat bagi siswa, aplikasi pendidikan telah berkembang di Cina. Mereka telah banyak membantu siswa dalam menghadapi ujian.

{Berita Terkait: Australia Larang Aplikasi WeChat, Ada Apa?}

Yuanfudao, sebuah startup yang menawarkan kursus langsung, persiapan ujian dan bantuan PR, memperoleh $ 3 miliar dan baru saja mendapaykan pendanaan $ 300 juta  pada Desember, lalu.

Pesaingnya, Zuoyebang dan Yiqi Zuoye juga berhasil menarik investor besar dan dana besar untuk membantu anak-anak muda agar lebih maju. [BA/HBS]

Sumber: Techcrunch

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -