Berkat Teknologi Pemindai Wajah, Buronan Diciduk saat Nonton Konser

Telset.id, Jakarta – Orang mungkin akan berpikir 1000x jika ingin melakukan aksi kejahatan di China. Walaupun memiliki tingkat populasi lebih dari 7,4 miliar (2017), namun tidak sulit untuk melacak jejak penjahat di negeri Panda itu.

Untuk memantau para penjahat, Kepolisian China sudah menerapkan berbagai teknologi canggih untuk keperluan operasionalnya, termasuk teknologi pemindai wajah.

Ini terbukti ketika polisi di China Tenggara dilaporkan menangkap seorang buronan yang terlihat di antara 50.000 orang penonton saat dia menghadiri konser musik. Buronan itu ditangkap dengan bantuan teknologi pengenalan wajah yang sangat akurat.

Menurut Digitaltrends, pria yang menjadi burunon itu ditangkap saat menghadiri konser artis terkenal Hong Kong, Jacky Cheung di Nanchang, provinsi Jiangxi. Walau tidak mengungkapkan identitas secara lengkap, namun polisi menyebut nama keluarganya Ao.

“Ao diduga terlibat dalam kejahatan ekonomi dan terdaftar di sistem online nasional. Dia sangat terkejut dan bengong ketika kami menangkapnya,” kata petugas polisi Li Jin.

Kemungkinan Ao mengira dirinya aman menghadiri acara yang sangat ramai karena bisa bersembunyi dari identifikasi pihak berwenang. Padahal kepolisian tidak perlu repot mengidentifikasi dengan adanya teknologi canggih tersebut.

Otoritas China telah menanam investasi besar dalam teknologi pengenalan wajah untuk penegakan hukumnya. Kasus ini menunjukkan bahwa teknologi dapat dipergunakan alias berfungsi sangat baik.

Baca juga: Tak Cuma 5G, China Juga akan Menangkan Persaingan AI

Selain itu, penangkapan ini menunjukkan bahwa China menyimpan database identitas kriminal besar-besaran di seluruh negara yang dapat diakses oleh kamera keamanan. Bahkan menurut laporan asli, Ao (31 tahun) menyetir sendiri dari kota lain untuk menghadiri konser tersebut.

Kementerian Keamanan Publik China meluncurkan teknologi pengenalan wajah pada 2015. Teknologi itu juga telah digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda.

Awal tahun ini polisi di Beijing memadukan teknologi ini dengan kacamata pintar, yang memungkinkan mereka mengidentifikasi individu dan mencocokkannya dengan database kepolisian dari tersangka yang dicari.

Tak hanya untuk mencari penjahat, bahkan teknologi ini diterapkan di kamar kecil supaya penggunanya tidak terlalu banyak membuang kertas toilet.

Presiden China Xi Jinping diduga sangat antusias dengan teknologi kecerdasan buatan, termasuk teknologi pengenalan wajah untuk melacak perilaku yang dipandang bertentangan dengan kepentingan Partai Komunis.

Tak hanya di China, Singapura juga akan menggunakan teknologi tersebut melalui GovTech. Mereka akan memulai proyek “Lampost-as-a-Platform” yang memasang kamera pengawas yang dengan perangkat lunak pengenalan wajah di bagian atas lebih dari 100.000 lampost. [WS/HBS]

Sumber: Digitaltrends

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here