Apple Music 10 Tahun: Denda Miliaran Dolar dan Satu Kegagalan

Apple Music 10 Tahun: Denda Miliaran Dolar dan Satu Kegagalan

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Sepuluh tahun setelah peluncurannya pada 30 Juni 2015, Apple Music telah menjadi salah satu layanan streaming musik terbesar di dunia. Namun, perjalanan dekade pertama raksasa teknologi ini tidak hanya diisi dengan kesuksesan, tetapi juga denda miliaran dolar dari Uni Eropa dan satu fitur sosial yang gagal total.

Layanan streaming milik Apple ini lahir dari akuisisi besar-besaran senilai sekitar $3 miliar terhadap Beats pada tahun 2014. Akuisisi ini menjadi fondasi bagi Apple untuk bersaing langsung dengan Spotify, yang saat itu sudah menguasai pasar streaming musik global.

Meskipun menghadapi persaingan ketat, Apple Music berhasil membedakan diri dengan pendekatan yang unik. Salah satu keputusan paling kontroversial namun konsisten adalah penolakan terhadap model gratis berbasis iklan, yang justru menjadi andalan pesaing utamanya.

Filosofi Tanpa Iklan Gratis

Berbeda dengan Spotify yang menawarkan layanan gratis dengan iklan, Apple Music sejak awal berpegang teguh pada prinsip bahwa musik tidak boleh diberikan secara gratis. Eksekutif Apple Music, Oliver Schusser, dengan tegas menyatakan hal ini dalam sebuah acara industri musik pada Juni 2025.

β€œSebagai perusahaan, kami melihat musik sebagai seni, dan kami tidak akan pernah memberikan seni secara gratis,” ujar Schussser seperti dikutip dari Hollywood Reporter. β€œItu tidak masuk akal bagi saya. Kami tidak memiliki layanan gratis, kami tidak akan memilikinya, kami tidak punya rencana untuk itu.”

Pernyataan tegas ini menunjukkan komitmen Apple terhadap model berlangganan penuh. Meskipun begitu, sekitar setahun kemudian, muncul tanda-tanda bahwa Apple mulai mempertimbangkan ulang kebijakan tersebut. Petunjuk ditemukan dalam versi Android Apple Music yang menampilkan indikasi adanya batasan skip lagu, yang mengisyaratkan kemungkinan kehadiran model berlangganan baru.

Denda Miliaran Dolar dari Uni Eropa

Salah satu babak paling kontroversial dalam sejarah Apple Music adalah denda sebesar $2 miliar yang dijatuhkan oleh Uni Eropa pada tahun 2024. Keputusan ini dipicu oleh keluhan Spotify yang menuduh Apple menyalahgunakan posisi monopolinya di pasar streaming musik.

Apple dengan cepat mengajukan banding atas keputusan tersebut. Dalam pernyataan resmi yang tidak biasa, juru bicara Apple menyebut Spotify sebagai dalang utama di balik keputusan Komisi Eropa.

β€œPendukung utama keputusan ini β€” dan penerima manfaat terbesar β€” adalah Spotify, perusahaan yang berbasis di Stockholm, Swedia,” kata juru bicara Apple saat itu. β€œSaat ini, Spotify memiliki 56 persen pangsa pasar streaming musik Eropa β€” lebih dari dua kali lipat pesaing terdekat mereka β€” dan tidak membayar Apple sepeser pun untuk layanan yang telah membantu mereka menjadi salah satu merek paling dikenal di dunia.”

Fitur Sosial yang Gagal: Apple Music Connect

Di tengah berbagai kesuksesan, Apple Music juga mencatat satu kegagalan besar: Apple Music Connect. Fitur ini diluncurkan bersamaan dengan Apple Music pada tahun 2015 dengan ambisi menjadi platform media sosial yang menghubungkan penggemar dengan artis favorit mereka.

Namun, fitur ini tidak pernah benar-benar lepas landas. Apple Music Connect akhirnya ditinggalkan pada tahun 2019 setelah empat tahun perjuangan yang setengah hati. Kegagalan ini menjadi pengingat bahwa tidak semua inovasi Apple berhasil di pasaran.

Evolusi dan Inovasi Berkelanjutan

Meskipun mengalami kegagalan dan denda besar, Apple Music terus berinovasi. Pada tahun 2021, Apple meluncurkan Apple Music Classical, layanan streaming khusus untuk musik klasik yang diakuisisi dari Primephonic. Meskipun peluncurannya tertunda dua tahun dan masih memiliki beberapa kekurangan, layanan ini menunjukkan komitmen Apple terhadap segmen pasar yang lebih spesifik.

Inovasi terbesar berikutnya adalah Spatial Audio yang diperkenalkan pada tahun 2023. Fitur ini memberikan pengalaman audio tiga dimensi yang imersif. Apple bahkan memberikan insentif tambahan kepada musisi dan produser yang merombak karya mereka untuk format Spatial Audio.

Pada Maret 2026, Apple mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam Apple Music melalui fitur Playlist Playground. Fitur yang tersedia untuk pengguna di Amerika Serikat ini memungkinkan pengguna mendeskripsikan jenis playlist yang diinginkan, dan AI akan secara otomatis membuatkannya.

Harga dan Model Berlangganan

Harga langganan Apple Music telah mengalami beberapa kali kenaikan. Awalnya dibanderol $9,99 per bulan untuk paket individu, harga naik menjadi $10,99 per bulan pada tahun 2022. Apple juga menawarkan berbagai tingkatan harga lainnya, termasuk paket keluarga, paket pelajar, serta bundel Apple One.

Meskipun lebih mahal dari Spotify untuk paket individu β€” meskipun sama dengan Amazon Music β€” Apple Music menawarkan kualitas audio lossless sebagai standar tanpa biaya tambahan. Apple Music juga memberikan kompensasi lebih tinggi kepada musisi per streaming dibandingkan Spotify.

Kesimpulan

Sepuluh tahun perjalanan Apple Music menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu linear. Meskipun harus membayar denda miliaran dolar dan mengalami satu kegagalan fitur sosial, Apple Music tetap menjadi pemain kunci di industri streaming musik.

Konsistensi Apple dalam menolak model gratis dan fokus pada kualitas audio premium telah membedakan layanan ini dari pesaingnya. Dengan integrasi AI dan inovasi berkelanjutan, Apple Music tampaknya akan terus menjadi pilihan utama bagi pecinta musik yang mengutamakan kualitas.

Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan industri streaming musik, kamu bisa membaca artikel tentang Deezer Rilis Alat Deteksi Musik AI dan Deezer Bantu Deteksi Musik AI di Spotify dan Apple Music.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.