Ada Kasus Pelecehan Anak di Aplikasi Kencan Tinder, Kok Bisa?

Telset.id, Jakarta – Isu tak sedap melanda aplikasi kencan Tinder dan Grindr. Betapa tidak, keduanya tersangkut masalah terkait pengawasan pengguna, menyusul laporan adanya pelecehan seksual terhadap anak-anak di aplikasi tersebut.

Dilansir Telset.id dari The Verge, pada Selasa (12/02/2019), media Sunday Times Inggris menulis bahwa penegak hukum telah menyelidiki lebih dari 30 kasus anak-anak yang mengelabui persyaratan usia pada Tinder dan Grindr dan disana mereka terjerat ajakan pengguna lain sehingga mengalami kasus pemerkosaan.

Sekretaris Kebudayaan Kerajaan Inggris, Jeremy Wright mengatakan dalam keterangan resminya bahwa pihaknya sedang menyelidiki kasus pelecehan seksual pada anak tersebut.

“Saya akan menulis kepada perusahaan-perusahaan ini, menanyakan langkah-langkah apa yang mereka miliki untuk menjaga anak-anak aman dari bahaya, termasuk memverifikasi usia mereka,” kata Jeremy.

{Baca juga: Google Bisa Identifikasi Pelecehan Seksual Anak di Internet}

“Jika saya tidak puas dengan tanggapan mereka, saya berhak untuk mengambil tindakan lebih lanjut,” tambahnya.

Laporan ini menimbulkan pertanyaan tentang praktik penyaringan usia Tinder dan Grindr. Kedua perusahaan mengatakan mereka menggunakan alat skrining algoritmik dan manusia untuk menjaga anak-anak dari menggunakan aplikasi mereka.

Dalam sebuah pernyataan seorang juru bicara Grindr mengatakan perusahaan terus bekerja untuk meningkatkan alat-alatnya. “Kami sedih mengetahui laporan ini,” kata juru bicara itu.

Pihak Grindr berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman dan terjamin untuk membantu komunitas terhubung dan berkembang. Kemudian setiap akun pelecehan seksual atau perilaku ilegal  maka akan mereka tindak sesuai peraturan dari aplikasi tersebut.

{Baca juga: Pria Ini Pakai Cara Hukum agar “Laku” di Tinder}

Sedangkan juru bicara Tinder mengatakan jika mereka menggunakan alat pemindaian otomatis profil untuk bahasa bendera merah dan gambar, tinjauan manual dari profil yang mencurigakan dari aktivitas atau laporan yang dibuat pengguna.

Mereka juga mengaku telah memblokir alamat email, nomor telepon dan pengidentifikasi lainnya pengguna di bawah umur berusaha menjadi anggota di Tinder.

“Intinya adalah kami secara konsisten mengevaluasi dan memperbaiki proses kami untuk mencegah akses di bawah umur, dan akan selalu bekerja dengan penegak hukum, jika mungkin, untuk melindungi pengguna kami juga,” kata juru bicara itu.

“Kami tidak ingin anak di bawah umur ada di Tinder,” tambahnya. [NM/IF]

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -