📑 Daftar Isi

Drone V-BAT Shield AI terbang di atas kapal perang USS Portland di Laut China Selatan

V-BAT Drone Buktikan Misi ISR Tanpa Landasan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Drone V-BAT MQ-35A berhasil diterbangkan dari kapal USS Portland di Laut China Selatan pada 17 Juni
  • Drone ini dirancang untuk lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL) tanpa landasan pacu
  • Mampu terbang lebih dari 10 jam dengan muatan sensor elektro-optik dan inframerah
  • Menggunakan perangkat lunak otonomi Hivemind untuk operasi di lingkungan tanpa GPS
  • Hanya membutuhkan area peluncuran 6x6 meter dan dioperasikan oleh dua personel
  • Demonstrasi dilakukan oleh 11th Marine Expeditionary Unit bersama Boxer Amphibious Ready Group
  • Kemampuan ini memperluas jangkauan pengintaian kapal perang tanpa bergantung pada kapal induk

Telset.id – Angkatan Laut Amerika Serikat menunjukkan kemampuan baru dalam peperangan maritim dengan menerbangkan drone V-BAT dari geladak kapal perang di Laut China Selatan, memperluas jangkauan pengintaian tanpa bergantung pada kapal induk atau pesawat berawak.

Pada 17 Juni, personel Korps Marinir dari 11th Marine Expeditionary Unit (MEU) menerbangkan V-BAT dari kapal angkut amfibi USS Portland yang sedang beroperasi bersama Boxer Amphibious Ready Group di kawasan Indo-Pasifik. Demonstrasi ini menandai langkah maju dalam kemampuan pengintaian, pengawasan, dan pengumpulan intelijen (ISR) dari kapal perang amfibi.

Drone yang secara resmi diberi kode MQ-35A oleh militer AS ini dirancang untuk lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL). Shield AI, pengembang sistem tersebut, mengklaim V-BAT dapat terbang selama lebih dari 10 jam dengan membawa muatan sensor elektro-optik dan inframerah. Yang menarik, drone ini hanya membutuhkan area peluncuran berukuran sekitar 6 x 6 meter dan dapat dioperasikan oleh dua personel dalam waktu kurang dari 30 menit.

Keunggulan utama V-BAT terletak pada sistem propulsi ducted-fan tunggal yang memungkinkannya menggabungkan fleksibilitas helikopter dengan daya tahan terbang pesawat sayap tetap. Desain ini sangat berharga di kapal amfibi yang memiliki keterbatasan ruang geladak.

Kemampuan Operasi di Lingkungan Tanpa GPS

V-BAT menggunakan perangkat lunak otonomi Hivemind buatan Shield AI yang dirancang untuk terus beroperasi di lingkungan di mana sinyal GPS terganggu, ditolak, atau sengaja dijam. Shield AI sebelumnya menyatakan bahwa V-BAT berhasil menjalankan misi ISR jarak jauh di Ukraina meskipun beroperasi di lingkungan tanpa GPS yang terkena dampak peperangan elektronik.

Kemampuan ini sangat relevan di kawasan Indo-Pasifik, di mana setiap konflik di masa depan kemungkinan besar akan melibatkan jamming ekstensif, gangguan komunikasi, dan upaya untuk menurunkan sistem navigasi satelit. Dalam konteks ini, drone seperti V-BAT menawarkan solusi pengintaian yang tangguh tanpa memerlukan infrastruktur khusus.

Mengapa Laut China Selatan Menjadi Medan Uji Kritis

Laut China Selatan merupakan kawasan dengan jalur pelayaran kritis, pulau-pulau yang disengketakan, dan klaim teritorial yang tumpang tindih. Bagi komandan angkatan laut yang beroperasi di sana, informasi bisa sama berharganya dengan daya tembak. Radar kapal perang pada dasarnya dibatasi oleh kelengkungan Bumi, sehingga membatasi seberapa jauh kapal bisa melihat.

Drone membantu mengatasi keterbatasan itu dengan memperluas pengawasan jauh melampaui cakrawala sensor kapal. Dengan daya tahan terbang lebih dari sepuluh jam, V-BAT dapat memberikan cakupan udara persisten di perairan sekitarnya, membantu kru memantau aktivitas pelayaran, mengidentifikasi potensi ancaman, dan menjaga kesadaran situasional di area yang jauh lebih luas daripada yang dimungkinkan oleh sensor onboard saja.

Masa Depan Peperangan Angkatan Laut

Militer di seluruh dunia semakin menggunakan sistem otonom yang lebih kecil untuk memperluas jangkauan operasional tanpa menambah kebutuhan personel atau infrastruktur. Daripada hanya mengandalkan helikopter atau pesawat berbasis kapal induk untuk pengintaian, kapal perang kini mulai menggunakan drone kompak yang mampu beroperasi secara independen untuk waktu yang lama. V-BAT mungkin relatif kecil, tetapi kemampuan yang diwakilinya sangat signifikan.

Bagi kelompok amfibi seperti Boxer Amphibious Ready Group, ini berarti kesadaran situasional yang lebih besar saat beroperasi jauh dari pantai dan tanpa bergantung pada lapangan terbang di dekatnya. Sebuah kapal perang yang dapat meluncurkan aset pengawasan persisten dari hampir semua lokasi di laut mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang sekitarnya. Dalam peperangan angkatan laut modern, melihat lebih dulu seringkali sama pentingnya dengan menyerang lebih dulu.

Teknologi ini menunjukkan bagaimana inovasi drone dapat mengubah paradigma operasi militer, terutama di lingkungan maritim yang kompleks. Dengan kemampuan lepas landas vertikal dan otonomi tinggi, V-BAT menjadi contoh nyata bagaimana militer beradaptasi dengan tantangan geografis dan teknologi di era modern.

Komentar

Belum ada komentar.