Telset.id – YouTube resmi menaikkan ambang batas monetisasi Program Partner YouTube. Mulai 1 Februari, kreator baru wajib mengumpulkan 8.000 jam tayang atau 20 juta views Shorts, dua kali lipat dari ketentuan sebelumnya. Perubahan ini berdampak langsung pada pendapatan kreator konten di platform berbagi video tersebut.
Ketentuan baru ini diumumkan YouTube pada Agustus 2026. Kreator yang ingin bergabung dengan Program Partner YouTube kini harus memiliki 1.000 subscriber dan memenuhi salah satu dari dua syarat: 8.000 jam tayang kualifikasi dalam setahun terakhir atau 20 juta views Shorts kualifikasi dalam 90 hari terakhir. Angka ini melonjak signifikan dari aturan saat ini yang hanya mensyaratkan 4.000 jam tayang atau 10 juta views Shorts.
Perubahan ini menandakan YouTube semakin sulit dijadikan sumber pendapatan bagi kreator baru. Dengan ambang batas yang berlipat ganda, hanya kreator dengan performa konsisten yang bisa menembus syarat monetisasi. Kebijakan ini juga berlaku bagi kreator Shorts yang ingin mendapatkan bagi hasil dari pendapatan iklan.
Aturan Baru untuk Kreator Shorts dan Partner Lama
Kreator Shorts menghadapi tantangan lebih besar. Mereka wajib mempertahankan 10 juta views setiap 90 hari untuk terus menerima porsi pendapatan dari pool Shorts. Jika angka tersebut tidak tercapai, bukan berarti akun dikeluarkan dari program, melainkan aliran pendapatan untuk periode 90 hari tersebut dihentikan sementara.
Kreator yang sudah menjadi partner juga tidak luput dari aturan baru. Mereka harus mempertahankan 1.000 jam tayang per tahun atau 1 juta views Shorts. Namun ada pengecualian: kreator bisa terhindar dari syarat ini jika rutin mengunggah konten, yaitu dua video long-form atau lima Shorts setiap 90 hari. Selain itu, YouTube akan menghapus kreator dari program jika tidak mengunggah konten selama minimal enam bulan.
YouTube beralasan bahwa kebijakan ini akan menguntungkan kreator karena perusahaan memperluas langganan Premium Lite ke “semua negara tempat kami menawarkan YouTube Premium”. Premium Lite adalah versi platform yang memungkinkan pengguna menonton video tanpa iklan, tetapi tidak menyertakan layanan streaming musik. YouTube mengklaim “dengan tambahan pelanggan ini, kreator dapat mengharapkan pendapatan yang lebih tinggi” dan akses ke revenue pool yang lebih baik untuk views dari pelanggan Premium Lite.
Kendati demikian, belum dapat dipastikan apakah langganan Premium Lite akan mendatangkan cukup pelanggan baru untuk mengimbangi persyaratan yang lebih ketat ini. YouTube tidak mengungkapkan jumlah pelanggan per tier secara publik. Perusahaan hanya melaporkan total 125 juta pengguna berbayar untuk kedua tier di seluruh dunia, sementara pengguna bulanan YouTube mencapai hampir 2,7 miliar orang.

Perubahan aturan ini merupakan bagian dari serangkaian pembaruan besar YouTube akhir-akhir ini. Platform tersebut berupaya bersaing dengan layanan streaming berbayar seperti Netflix dan HBO Max. YouTube telah menandatangani kesepakatan hak siar eksklusif untuk acara dari tokoh seperti Trevor Noah dan kini mengizinkan kreator mengorganisir konten dalam format “season”.
Bagi kreator yang sedang membangun kanal, kenaikan syarat ini berarti perlu strategi konten yang lebih matang. Konsistensi unggahan dan kualitas views menjadi faktor penentu. Kreator juga perlu memantau aturan terkait konten yang berlaku di platform, termasuk aturan konten AI yang sebelumnya diperketat untuk program monetisasi.
Baca Juga:
Kebijakan ini juga muncul di tengah berbagai dinamika lain yang melibatkan YouTube. Platform ini pernah ditegur Kemkomdigi terkait promosi vape yang melibatkan anak-anak. Sementara itu, YouTube terus menambah layanan seperti bundling dengan Peacock untuk pelanggan YouTube Premium.
Dengan ambang batas baru yang berlaku mulai 1 Februari, kreator yang ingin memonetisasi kanalnya harus mengevaluasi ulang strategi pertumbuhan. Mereka perlu fokus pada peningkatan jam tayang atau views Shorts secara signifikan. Kreator yang sudah berada dalam program juga harus menjaga ritme unggahan agar tetap memenuhi syarat.
Keputusan YouTube untuk menggandakan syarat monetisasi menunjukkan pergeseran prioritas platform menuju kualitas dan konsistensi konten. Bagi kreator baru, jalan menuju pendapatan iklan kini lebih panjang. Namun bagi kreator yang sudah mapan dengan audiens loyal, aturan ini mungkin tidak terlalu berdampak.
Yang jelas, lanskap monetisasi YouTube sedang berubah. Kreator harus beradaptasi dengan cepat jika ingin tetap bertahan dan berkembang di platform ini. Perubahan aturan ini juga menjadi sinyal bahwa YouTube semakin serius dalam persaingannya melawan layanan streaming berbayar.
Kreator yang belum memenuhi syarat baru memiliki waktu hingga 1 Februari untuk meningkatkan metrik mereka. Setelah tanggal tersebut, hanya kreator dengan 8.000 jam tayang atau 20 juta views Shorts yang bisa bergabung dengan Program Partner YouTube. Angka ini bukan target yang mudah, tetapi bukan berarti mustahil bagi kreator yang serius mengembangkan kanalnya.
YouTube juga menegaskan bahwa kreator yang tidak mengunggah konten selama enam bulan akan dihapus dari program. Kebijakan ini mendorong kreator untuk tetap aktif dan konsisten. Platform ingin memastikan bahwa partner program hanya diisi oleh kreator yang benar-benar berkontribusi pada ekosistem konten.
Dengan total 125 juta pengguna berbayar untuk Premium dan Premium Lite, YouTube memiliki basis pelanggan yang cukup besar. Ekspansi Premium Lite ke semua negara tempat YouTube Premium tersedia diharapkan menambah jumlah pelanggan. Namun, apakah tambahan ini cukup untuk mengimbangi kenaikan syarat monetisasi, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.
Bagi kreator Indonesia, perubahan ini perlu dicermati. Banyak kreator tanah air yang mengandalkan YouTube sebagai sumber pendapatan utama. Dengan syarat yang lebih ketat, persaingan untuk masuk ke Program Partner YouTube akan semakin sengit. Kreator harus memastikan konten mereka relevan dan mampu menarik views dalam jumlah besar.
Di sisi lain, YouTube terus berinvestasi dalam fitur dan konten eksklusif untuk bersaing dengan platform streaming lain. Langkah ini menunjukkan bahwa YouTube tidak hanya fokus pada monetisasi kreator, tetapi juga pada pengalaman menonton secara keseluruhan. Kreator yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan ini akan tetap memiliki peluang untuk sukses.





Komentar
Belum ada komentar.