Ilustrasi protes warga terhadap pembangunan data center raksasa di Utah

Warga Utah Melawan Proyek Data Center Raksasa Kevin O’Leary

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Proyek Stratos Hyperscale Data Center oleh Kevin O'Leary di Utah seluas 40.000 acre menuai protes warga.
  • Warga khawatir proyek akan memperburuk krisis Great Salt Lake yang menyusut.
  • Ribuan komentar negatif dan ratusan warga hadir di rapat komisioner pada 4 Mei.
  • Pengembang menjanjikan 2.000 pekerjaan tetap, namun kritikus nilai terlalu kecil.
  • Politisi lokal mulai tarik dukungan karena tekanan publik.

Telset.id – Rencana pembangunan pusat data raksasa bernama Stratos Hyperscale Data Center di Utah menuai perlawanan sengit dari warga setempat. Proyek yang digagas oleh tokoh TV dan pengusaha Kevin O’Leary ini akan menempati lahan seluas 40.000 acre di Box Elder County, atau lebih dari dua kali luas wilayah Manhattan. Warga setempat menolak karena khawatir proyek tersebut akan memperburuk krisis lingkungan yang sudah terjadi, terutama pada kondisi Great Salt Lake yang semakin menyusut.

Kekhawatiran warga ini bukan tanpa alasan. Mereka telah menyaksikan bagaimana wilayah lain yang menyambut pusat data justru berjuang melawan kenaikan harga listrik, sistem air yang tertekan, dan polusi suara. Dengan Great Salt Lake yang sudah dalam kondisi kritis akibat kekeringan parah di negara bagian Utah, kehadiran pusat data yang sangat boros sumber daya ini dianggap sebagai ancaman baru yang serius.

“To me, and to other people I’ve talked to, it felt like it was done in the dark: backroom deals and assurances made with no transparency or government accountability,” ujar Larry Curtis, warga Salt Lake City, kepada Slate. Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan publik terhadap proses pengambilan keputusan yang dianggap tidak transparan.

Meskipun awalnya menunda pemungutan suara, komisioner county akhirnya menyetujui proyek tersebut dengan alasan memiliki “kewajiban” untuk memulai pembangunan. Keputusan ini memicu kemarahan lebih besar dari warga yang merasa tidak dilibatkan. Ribuan komentar negatif membanjiri proses diskusi, dan ratusan warga memenuhi ruang rapat komisioner pada 4 Mei lalu untuk menyampaikan protes mereka.

Pihak pengembang Stratos tetap bersikukuh bahwa proyek ini akan membawa manfaat besar bagi wilayah tersebut, termasuk menciptakan 2.000 lapangan kerja permanen. Namun, para kritikus menilai angka tersebut terlalu kecil jika dibandingkan dengan skala operasi raksasa yang direncanakan. Proyek ini tidak hanya mencakup puluhan bangunan pusat data, tetapi juga fasilitas riset dan perumahan pekerja.

Di balik pintu tertutup, komisioner Box Elder County akhirnya menyetujui pusat data tersebut, yang langsung memicu protes yang lebih keras. Sementara itu, jaksa county berpendapat bahwa pemilih tidak memiliki hak hukum untuk ikut campur, dan menolak dorongan untuk mengadakan referendum. Seperti yang dilaporkan oleh Salt Lake Tribune pekan lalu, para penentang mengatakan mereka akan mengambil jalur hukum setelah merasa dikeluarkan dari proses persetujuan.

Latar belakang krisis lingkungan membuat perdebatan ini semakin rumit. Warga menyaksikan Great Salt Lake terus menyusut karena salju dan hujan yang sangat langka. “In the past, one thing I could’ve agreed with [Utah governor Spencer Cox] on was that we need to save the lake,” kata Stephen Otterstrom, seorang warga, kepada Slate. “Now this puts into question whether there is any sincerity in that.”

A family looks up at a large structure in that casts a shadow over them.

Namun, perlawanan publik yang semakin besar mulai membuahkan hasil. Tekanan dari warga cukup kuat sehingga beberapa politisi lokal mulai menarik dukungan mereka setelah sebelumnya menyetujui proyek ini. Mereka menyadari bahwa isu ini bisa menjadi bumerang yang membahayakan peluang mereka untuk terpilih kembali.

Kasus di Utah ini menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan infrastruktur teknologi modern harus mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial secara serius. Warga tidak hanya menolak proyek, tetapi juga menuntut transparansi dan akuntabilitas dari para pengambil keputusan.

Komentar

Belum ada komentar.