Diskusi Niki Luhur VIDA dan Gita Wirjawan tentang penipuan digital

VIDA dan Gita Wirjawan Bahas Ancaman Scam Digital yang Semakin Canggih dan Terorganisir

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:2 April 2026
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset – Ancaman penipuan digital atau scam berkembang dengan pola yang semakin adaptif dan beragam, seiring pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI). Menyoroti kondisi tersebut, VIDA, penyedia solusi digital identity dan fraud prevention terdepan di Indonesia, memperluas diskusi publik mengenai urgensi penguatan kepercayaan digital melalui partisipasi Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, dalam podcast Endgame bersama Gita Wirjawan.

Dalam diskusi tersebut, Niki menekankan bahwa pelaku scam saat ini tidak lagi bisa dipandang sebagai individu yang bergerak sendiri. Di balik banyak serangan digital saat ini, terdapat jaringan yang lebih rapi, terkoordinasi, dan didukung kemampuan teknis yang semakin canggih. “Penipuan sekarang tidak lagi bergerak secara acak atau dilakukan sendirian. Modusnya sudah makin rapi, terstruktur, bisa dijalankan dalam skala besar, dan kecanggihannya terus berkembang pesat,” ujar Niki.

Diskusi ini sekaligus menandai peluncuran resmi whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook, yang memotret bagaimana lanskap penipuan digital di Asia Tenggara terus berkembang, baik dari sisi kecanggihan serangan, pemanfaatan teknologi generatif, maupun cara pelaku membaca momentum kepercayaan dan pergerakan likuiditas masyarakat.

Lebih jauh, Niki menekankan bahwa scam kini telah berkembang menjadi bisnis kriminal lintas negara dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Ia mencontohkan pengungkapan kasus yang melibatkan Kamboja dan Myanmar, dengan penyitaan aset Bitcoin senilai USD14 miliar (setara dengan lebih dari Rp238 triliun). Niki juga menyoroti laporan tentang 800 Warga Negara Indonesia (WNI) yang mengantre di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja untuk pulang setelah terjebak dalam kerja paksa jaringan scam.

Kasus ini menegaskan bahwa scam kini bukan lagi penipuan digital biasa, melainkan persoalan lintas negara dengan dampak yang semakin besar. Di saat yang sama, perkembangan AI seperti deepfake dan synthetic identity membuat batas antara yang nyata dan palsu semakin tipis. Teknologi ini memungkinkan konten palsu tampil lebih realistis, meyakinkan, dan diproduksi jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu.

Kondisi ini menghadirkan tantangan baru bagi ekosistem digital, karena bukan hanya identitas yang dapat dipalsukan, tetapi juga rasa percaya pengguna terhadap interaksi dan transaksi digital. “Ketika teknologi membuat sesuatu yang palsu tampak sangat nyata dan meyakinkan, tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita membangun kembali trust di ruang digital,” ujar Gita Wirjawan.

Melalui diskusi ini, VIDA menegaskan bahwa menghadapi lonjakan penipuan digital tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Di satu sisi, dibutuhkan perubahan yang lebih mendasar dalam membangun dan menjalankan sistem digital agar lebih siap menghadapi ancaman yang terus berkembang. Di sisi lain, penguatan literasi publik juga tetap penting agar masyarakat semakin memahami berbagai pola scam yang terus berevolusi.

Sejalan dengan hal tersebut, VIDA terus memperluas akses edukasi publik melalui laman Where’s The Fraud Hub, yang menghadirkan whitepaper, studi kasus, data terkini, dan panduan praktis. Inisiatif ini juga menjadi landasan dari kampanye literasi publik VIDA, #JanganAsalKlik, yang mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan tidak mudah percaya pada komunikasi digital yang tampak meyakinkan.

Untuk membantu publik, pelaku industri, dan regulator memahami bagaimana scam terus berevolusi, VIDA mengajak masyarakat untuk mengakses whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook serta menyaksikan diskusi lengkap Niki Luhur bersama Gita Wirjawan dalam podcast Endgame. Melalui dua materi ini, VIDA ingin mendorong pemahaman yang lebih kuat mengenai bagaimana scam berevolusi dan mengapa penguatan kepercayaan digital menjadi semakin mendesak.