📑 Daftar Isi

Tidak ada gambar dengan role 'featured' dalam referensi media.

Uji Coba Robot Humanoid Tangani Bagasi di Bandara Haneda

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Japan Airlines akan menguji coba robot humanoid untuk membantu petugas penanganan bagasi di Bandara Haneda, Tokyo, mulai Mei 2026. Uji coba ini merupakan hasil kemitraan dengan GMO AI & Robotics dan disebut-sebut sebagai upaya mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor penerbangan.

Dalam demonstrasi yang digelar di hadapan media, salah satu robot buatan perusahaan robotika asal China, Unitree, terlihat mendorong sebuah kontainer logam berisi koper ke arah pesawat penumpang. Namun, kontribusi robot tersebut masih sangat minim karena kontainer sebenarnya digerakkan oleh ban berjalan. Robot itu tidak benar-benar “membantu” dalam proses pemindahan bagasi.

Meski demikian, Japan Airlines menyatakan serius dengan eksperimen ini dan berencana menjalankannya hingga tahun 2028. Uji coba ini akan menjadi ujian berat bagi robot humanoid tersebut karena Bandara Haneda melayani lebih dari 60 juta penumpang per tahun, menjadikannya salah satu pusat perjalanan udara tersibuk di dunia.

Robot Humanoid dan Tantangan Operasional

Robot humanoid ini akan menghadapi tekanan operasional yang tinggi. Setiap kesalahan kecil berpotensi menyebabkan bagasi hilang, rusak, atau keterlambatan yang merugikan. Selain itu, robot-robot ini juga akan bersaing dengan petugas bagasi manusia yang dikenal sangat teliti dan hati-hati dalam menangani barang bawaan penumpang.

Kemampuan robot-robot ini masih harus dibuktikan. Sejarah mencatat banyak kegagalan robot dalam berbagai uji coba serupa. Namun secara teori, kehadiran robot ini diharapkan dapat membantu petugas bagasi Jepang menghadapi lonjakan jumlah wisatawan. Data menunjukkan bahwa tujuh juta wisatawan telah berkunjung ke Jepang dalam dua bulan pertama tahun 2026 saja.

“Meskipun bandara tampak sangat otomatis dan terstandarisasi, operasi di belakang layar masih sangat bergantung pada tenaga kerja manusia dan menghadapi kekurangan tenaga kerja yang serius,” ujar Presiden GMO AI & Robotics, Tomohiro Uchida, kepada wartawan seperti dikutip dari BBC.

Robot humanoid sedang menangani bagasi di bandara

Uji coba ini menjadi salah satu langkah konkret Jepang dalam mengadopsi teknologi robotika untuk mengisi kekosongan tenaga kerja di sektor-sektor yang padat karya. Bandara Haneda, sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia, menjadi lokasi yang ideal untuk menguji ketahanan dan efektivitas robot dalam lingkungan operasional nyata.

Keberhasilan uji coba ini dapat menjadi preseden bagi bandara-bandara lain di dunia untuk mengadopsi teknologi serupa. Namun, kegagalan juga bisa menjadi pelajaran berharga tentang keterbatasan teknologi robot humanoid saat ini. Japan Airlines sendiri tampaknya telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dengan menjadwalkan uji coba hingga tahun 2028.

Dengan jutaan penumpang yang dilayani setiap tahunnya, Bandara Haneda menuntut efisiensi dan keandalan tinggi. Robot-robot ini harus mampu bekerja tanpa cela untuk menghindari gangguan operasional. Uji coba ini akan menjadi bukti nyata apakah teknologi robot humanoid sudah matang untuk menggantikan atau setidaknya membantu tenaga kerja manusia di sektor penerbangan.

Japan Airlines dan GMO AI & Robotics berharap bahwa robot-robot ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk masalah kekurangan tenaga kerja yang semakin parah di Jepang. Dengan populasi yang menua dan angka kelahiran yang rendah, otomatisasi menjadi salah satu jawaban untuk menjaga produktivitas negara tersebut.

Para pengamat industri penerbangan akan memantau perkembangan uji coba ini dengan saksama. Jika berhasil, ini bisa menjadi awal dari era baru dalam penanganan bagasi di bandara-bandara global. Namun, jika gagal, ini akan menjadi pengingat bahwa beberapa tugas manusia masih sulit digantikan oleh mesin.

Uji coba robot humanoid di Bandara Haneda ini juga menunjukkan bahwa Jepang tetap menjadi salah satu negara terdepan dalam pengembangan dan penerapan teknologi robotika. Meskipun robot yang digunakan buatan China, inisiatif ini menunjukkan keseriusan Jepang dalam mengintegrasikan robot ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di sektor transportasi udara.

Dengan jadwal uji coba hingga tahun 2028, Japan Airlines memberikan waktu yang cukup panjang untuk mengevaluasi kinerja robot-robot ini. Selama periode tersebut, berbagai skenario operasional akan diuji untuk memastikan robot dapat bekerja secara optimal dalam berbagai kondisi.

Keputusan untuk menggunakan robot humanoid, bukan robot konvensional, juga menunjukkan ambisi Japan Airlines untuk mengadopsi teknologi yang lebih fleksibel dan adaptif. Robot humanoid dianggap lebih mampu meniru gerakan manusia, sehingga lebih cocok untuk tugas-tugas yang membutuhkan ketelitian dan adaptasi.

Meskipun demikian, kekhawatiran tentang potensi kerusakan bagasi atau keterlambatan tetap ada. Japan Airlines harus memastikan bahwa robot-robot ini telah melalui serangkaian uji coba yang ketat sebelum benar-benar dioperasikan secara penuh. Kepercayaan penumpang adalah prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan.

Uji coba ini juga membuka diskusi tentang masa depan pekerjaan di sektor penerbangan. Apakah robot akan menggantikan manusia sepenuhnya, atau hanya menjadi alat bantu untuk meningkatkan efisiensi? Jawabannya mungkin akan ditemukan dalam beberapa tahun ke depan, seiring berjalannya uji coba di Bandara Haneda.

Japan Airlines dan GMO AI & Robotics mengambil langkah berani dengan memulai uji coba ini. Meskipun demonstrasi awal terlihat kurang meyakinkan, komitmen mereka untuk melanjutkan proyek hingga 2028 menunjukkan keyakinan bahwa teknologi robot humanoid memiliki potensi besar untuk masa depan industri penerbangan.