Lama Tinggal di Ruang Angkasa Bikin Otak Jadi Lebih Besar

Telset.id, Jakarta – Para ilmuwan menerbitkan makalah baru, mengungkapkan satu efek menarik ketika seseorang tinggal di ruang angkasa dalam jangka panjang. Ya, lama tinggal di antariksa disebut membuat otak manusia menjadi lebih besar secara fisik. Apa iya?

Penelitian tersebut langsung menimbulkan beberapa pertanyaan tentang seberapa cocok manusia melakukan perjalanan ruang angkasa dan apa efek jangka panjang tinggal di ruang angkasa yang mungkin dialami oleh para pelancong ke Bulan, Mars, dan seterusnya.

Para peneliti melakukan pemindaian otak MRI 11 astronot sebelum menghabiskan waktu di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Setelah kembali ke Bumi, para astronot sekali lagi dipindai dan gambar sebelum dan sesudah pun dibandingkan.

{Baca juga: Ilmuwan Manfaatkan Momen Lockdown untuk Simulasi ke Mars}

Karena Stasiun Luar Angkasa Internasional berada di orbit di sekitar Bumi, gravitasi memengaruhi penghuninya meski hanya minimal. Para ilmuwan telah mempelajari efek dari gaya berat mikro di tubuh manusia untuk waktu beberapa lama.

Berdasarkan hasil penelitian, seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Jumat (17/4/2020), aliran darah dipengaruhi secara dramatis. Tanpa gravitasi yang bekerja di tubuh seseorang, organ mengalami juga perubahan, termasuk otak.

{Baca juga: Ilmuwan Heran, Ada Lubang Raksasa di Langit Kutub Utara}

Sekedar informasi, sebagai struktur pusat pengaturan otak manusia sendiri memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Ukurannya berbeda pada masing-masing orang. Dimana dketahui bahwa otak pada pria ukurannya lebih besar dibandingkan wanita.

Otak manusia memiliki berat rata-rata 2,7 kilogram atau 1.200 gram, yaitu sekitar 2 persen dari berat tubuh Anda. Laki-laki memiliki sekitar 100 g lebih besar dari wanita setelah memperhitungkan perbedaan total berat badan.

Penelitian tersebut telah menunjukkan bahwa area otak para astronot secara fisik mengembang di angkasa. Perubahannya memang tidak dramatis. Namun demikian, perubahan dapat diukur dan kurangnya gravitasi menjadi kambing hitam.

“Ketika Anda berada dalam gaya berat mikro, cairan seperti darah vena tidak lagi menyatu ke ekstremitas bawah, tetapi mendistribusikan kembali ke depan,” kata Dr Larry A Kramer, pemimpin penulis penelitian, dalam sebuah pernyataan. [SN/IF]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here