Tesla Teken Kesepakatan Bangun Gigafactory di Shanghai

Telset.id, Jakarta – Walaupun hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China saat ini kurang harmonis, namun kerjasama bisnis dua negara Adidaya ini nampaknya tidak terlalu terpengaruh. Ini karena potensi pasar China dianggap masih paling menjanjikan, termasuk mobil listrik.

Salah satu contohnya adalah Tesla, yang akhirnya meneken perjanjian dengan pemerintah Shanghai untuk membangun Gigafactory.

Pabrik mobil listrik Tesla ini dibangun diatas lahan seluas 860.000 meter persegi atau sekitar 8,6 hektare (Ha) di kota industri tersebut.

Vice President of Worldwide Sales Tesla Robin Ren menyatakan dalam postingan di media sosial China bahwa ini merupakan proyek Gigafactory pertama yang dibangun di luar Amerika Serikat (AS).

Pembangunan pabrik ini juga merupakan strategi Tesla untuk bisa menekan harga jual kendaraan listriknya di China, yang belakangan meroket karena kenaikan tarif yang dikenakan pemerintah China terhadap produk buatan AS.

Baca juga: Tesla Buka Banyak Lowongan Kerja, Buruan Cek Infonya!

“Mengamankan lahan di Shanghai, Gigafactory pertama Tesla di luar AS, adalah tonggak penting untuk apa yang akan menjadi lokasi manufaktur maju selanjutnya yang dikembangkan secara berkelanjutan,” kata Robin, seperti dilansir Channel News Asia, Rabu (17/10/2018).

Tesla tidak mengungkapkan berapa kocek yang dikeluarkannya untuk membeli lahan di Shanghai tersebut. Namun pemerintah setempat mengatakan bahwa sebidang tanah seluas 864.885 meter persegi telah dijual di lelang dengan harga 973 juta yuan (US$140,51 juta dolar) atau mencapai Rp 2,1 triliun.

Perusahaan pimpinan Elon Musk ini sebenarnya telah meneken kesepakatan dengan pihak berwenang Shanghai pada Juli lalu untuk membuka pabrik mobil listrik dengan kapasitas produksi hingga 500.000 unit per tahun. Tesla dikabarkan telah membuka lowongan kerja untuk pabrik Shanghai tersebut pada Agustus lalu.

Baca juga: Demi Bangun Pabrik, Tesla Rela “Cari Sumbangan”

Langkah ini dilakukan sejalan dengan rencana meningkatkan modal dari pasar utang Asia untuk membiayai pembangunan pabrik, yang akan menelan biaya sekitar US $ 2 miliar atau mencapai Rp 30,3 triliun. [WS/HBS]

Sumber: ChannelNewsAsia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here