XL Ajak Industri Iklan Beralih ke Digital

Hendra Wiradi/Telset.id

Telset.id, Jakarta – Era digital membawa dunia pada kondisi tanpa batas. Platform digital pun kemudian menjadi sarana yang mampu menjadikan dunia terbentang begitu luas untuk berinovasi dan berkreasi.

Hampir semua industri beralih ke sarana digital tidak terkecuali industri periklanan. Hal ini di dorong perubahan kebiasaan masyarakat yang tadinya mengkonsumsi media konvensional mulai beralih ke digital. Tak dipungkiri juga perkembangan perangkat mobile yang juga berkembang tiada henti.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, tahun lalu, nilai total iklan digital Indonesia mencapai lebih dari USD800 juta. Sayangnya Indonesia belum memiliki OTT Nasional yang dapat ambil bagian dalam perkembangan digital ini.

Guna memberikan update perkembangan terbaru mengenai industry digital di Indonesia dan dunia, PT XL Axiata Tbk menyelenggarakan ajang bertitel “Dig-In 2016 DIGITALisME” di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Kamis (17/3/2016).

Hal ini menunjukkan bahwa cara masyarakat untuk mengkonsumsi konten telah mulai berubah. Dan acara Dig-In 2016 ini terselenggara dengan harapan membantu pengiklan memanfaatkan sarana digital.

Presiden Direktur XL, Dian Siswarini mengatakan, melalui ajang ini, XL berharap semua kalangan pemasar (marketers) dapat mengerti secara mendalam mengenai bagaimana cara beriklan di platform digital secara efektif, dan menjadikan sarana digital sebagai cara terbaik meraih pelanggan, menaklukkan pasar.

“Dalam hal ini, kebijakan pemerintah di tingkat pusat dan daerah sangat relevan untuk membantu kalangan pemasar dalam menyusun program bisnis melalui yang berbasis pada teknologi digital,”ungkap Dian.

Lebih lanjut Ongki Kurniawan, Chief Digital Services Officer menjelaskan, saat ini, layanan digital berhasil memberikan kontribusi untuk pendapatan XL sebesar 4 persen. Di tahun 2018, dia berharap angka ini akan tumbuh menjadi 7 persen. Meski saat ini kontribusi layanan digital masih kecil, tapi ia merupakan layanan dengan tingkat pertumbuhan terbesar.

“Dari 4 persen kontribusi tersebut, 40 persen berasal dari mobile advertising,” kata Head of Mobile Advertising Digital Services XL Retno Wulan.

Retno juga menjelaskan, bahwa iklan digital adalah sebuah industri yang agnostik, yang berarti ia tidak hanya berfungsi untuk melayani kerperluan perusahaan. Jika diperlukan, XL harus bersedia untuk bekerja sama dengan operator lain.

Tahun lalu saja , XL berhasil mendapatkan 3.000 merek untuk beriklan lewat layanan mereka. Sedangkan untuk tahun 2016, XL menargetkan untuk dapat menggandeng 6.000 merek yang ada di Indonesia. (MS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here