Dalam dunia korporasi raksasa Hollywood, penolakan tampaknya bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perang terbuka. Paramount Skydance menunjukkan gelagat bahwa mereka sama sekali tidak berniat menerima jawaban “tidak” begitu saja. Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah upaya mereka untuk mengambil alih Warner Bros. Discovery (WBD) berkali-kali menemui jalan buntu.
Situasi semakin memanas ketika dewan direksi WBD secara tegas merekomendasikan para pemegang saham untuk menolak tawaran akuisisi bermusuhan yang diajukan Paramount. Alih-alih mundur, penolakan tersebut justru memicu langkah agresif baru. Kini, medan pertempuran berpindah dari ruang rapat tertutup ke meja hijau, menandai babak baru dalam drama perebutan kekuasaan media terbesar dekade ini.
David Ellison, CEO Paramount, dalam suratnya kepada pemegang saham pada hari Senin, mengungkapkan bahwa perusahaan telah resmi mengajukan gugatan di Pengadilan Chancery Delaware. Langkah hukum ini bukan sekadar gertakan sambal, melainkan upaya strategis untuk memaksa WBD membuka “kartu” mereka terkait kesepakatan yang sedang berjalan dengan raksasa streaming, Netflix.
Menuntut Transparansi di Balik Layar
Inti dari gugatan yang dilayangkan Paramount berpusat pada tuntutan transparansi. Mereka berargumen bahwa WBD belum memberikan “informasi dasar” yang krusial bagi para pemegang saham untuk mengevaluasi tawaran yang bersaing. Poin utama yang dipermasalahkan adalah bagaimana WBD menilai rencana spinout atau pemisahan jaringan kabel mereka, Discovery Global (atau disebut Global Networks dalam beberapa dokumen), dalam kesepakatan dengan Netflix.
Struktur kesepakatan akuisisi Warner Bros oleh Netflix ini memang cukup kompleks. Rencananya, Discovery Global akan dibiarkan menjadi perusahaan publik yang berdiri sendiri. Hal ini berbeda drastis dengan tawaran Paramount yang mencakup aset-aset tersebut dalam satu paket integrasi. Perbedaan struktur inilah yang menurut Paramount perlu dikaji ulang secara mendalam oleh para pemegang saham sebelum mengambil keputusan final.
Paramount mencurigai adanya ketidakjelasan dalam proses yang memuluskan penerimaan tawaran Netflix. Gugatan ini bertujuan untuk memaksa WBD menjabarkan secara rinci bagaimana mereka sampai pada kesimpulan untuk merekomendasikan kesepakatan Netflix dan mengesampingkan proposal Paramount. Transparansi ini dianggap vital agar pemegang saham tidak membeli “kucing dalam karung”.
Baca Juga:
Strategi Perang Proksi Jangka Panjang
Tidak berhenti di pengadilan, Paramount juga meningkatkan tekanan korporasi melalui strategi “perang proksi”. Ellison menyatakan niatnya untuk menominasikan daftar direktur baru untuk pemilihan pada pertemuan tahunan WBD tahun 2026. Langkah ini jelas merupakan taktik jangka panjang untuk mengubah peta kekuatan di dalam tubuh WBD itu sendiri.
Tujuan akhirnya sangat jelas: menempatkan dewan direksi yang bersedia untuk “terlibat” dan mempertimbangkan tawaran Paramount di bawah ketentuan perjanjian merger WBD dengan Netflix saat ini. Jika WBD memutuskan untuk mengadakan pertemuan khusus guna menyetujui transaksi Netflix sebelum pertemuan tahunan tersebut, Paramount telah bersiap untuk menggalang suara proksi guna menolak kesepakatan itu.
Selain itu, Paramount juga berencana mendorong perubahan anggaran rumah tangga perusahaan (bylaw). Perubahan ini akan mewajibkan persetujuan pemegang saham untuk setiap pemisahan Discovery Global. Taktik ini terlihat seperti upaya Paramount untuk memanaskan suasana—baik nyata maupun hanya persepsi—bahwa pemegang saham mungkin dirugikan jika saham WBD mereka dibeli tanpa memperhitungkan nilai Discovery Global yang terintegrasi, seperti yang terjadi dalam skema merger Netflix.
Perdebatan Nilai dan Risiko Utang
Di balik manuver hukum dan politik korporasi ini, terdapat perdebatan mendasar mengenai nilai valuasi. Paramount tetap bersikeras bahwa tawaran mereka “lebih unggul” (superior) dibandingkan dengan apa yang ditawarkan oleh Netflix. Mereka merasa proposal mereka memberikan nilai yang lebih komprehensif bagi masa depan aset-aset WBD.
Di sisi lain, WBD mempertahankan posisinya bahwa tawaran Paramount memberikan “nilai yang tidak memadai”. WBD juga mengklaim bahwa Paramount telah gagal mengajukan proposal terbaik yang sesungguhnya, meskipun WBD telah memberikan arahan yang jelas mengenai kekurangan dan potensi solusi dari tawaran sebelumnya.
Salah satu kekhawatiran terbesar WBD yang memicu keputusan ini adalah masalah finansial. WBD meragukan apakah kesepakatan dengan Paramount akan benar-benar mencapai tahap penutupan (closing). Keraguan ini didasari oleh besarnya utang yang harus ditanggung oleh studio yang lebih kecil tersebut untuk melakukan pembelian dengan leverage (leveraged buyout). Risiko finansial inilah yang menjadi salah satu alasan kuat mengapa WBD lebih condong pada opsi yang ditawarkan Netflix, yang dinilai lebih stabil secara struktur modal meskipun guncang Hollywood dengan skalanya.
Kini, bola panas berada di pengadilan Delaware. Apakah transparansi yang dituntut Paramount akan mengungkap celah dalam kesepakatan Netflix, ataukah WBD akan berhasil mempertahankan bentengnya dari gempuran akuisisi ini? Satu hal yang pasti, drama di balik layar industri hiburan ini jauh lebih menegangkan daripada film blockbuster manapun.

