Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa di tengah persaingan smartphone yang semakin sengit, beberapa brand terlihat saling berbagi teknologi atau bahkan desain? Jawabannya mungkin lebih kompleks dari sekadar kolaborasi biasa. Di balik layar, raksasa teknologi seringkali melakukan restrukturisasi internal yang dramatis untuk bertahan dan menang. Kini, giliran Oppo yang mengambil langkah strategis besar-besaran.
Dunia smartphone tidak pernah sepi dari kejutan. Jika sebelumnya kita melihat berbagai brand berkompetisi secara ketat, tren terkini justru menunjukkan konsolidasi dan sinergi di balik tirai. Restrukturisasi korporat bukanlah hal baru; ini adalah langkah krusial untuk mengoptimalkan sumber daya, menghindari tumpang tindih, dan menghadapi tekanan pasar yang semakin ketat. Seperti yang terjadi pada Sony yang memisahkan bisnis semikonduktornya untuk fokus yang lebih tajam, atau perusahaan ride-hailing yang harus beradaptasi di bawah pengawasan ketat seperti Uber yang diawasi otoritas Amerika.
Dalam konteks inilah, laporan terbaru dari Lei Feng Network mengungkapkan manuver penting dari Oppo. Raksasa asal Tiongkok ini dikabarkan sedang melakukan penyesuaian kunci pada struktur brand internalnya. Meski perubahan ini fokus pada penyelarasan organisasi dan diklaim tidak memengaruhi peluncuran produk mendatang, dampak jangka panjangnya terhadap lanskap pasar smartphone global patut untuk disimak. Apakah ini langkah cerdik untuk memperkuat posisi, atau justru pertanda adanya tekanan internal yang perlu segera diatasi?
OnePlus dan Realme Kini Resmi Jadi Sub-Brand Oppo
Menurut publikasi tersebut, Oppo telah memutuskan untuk membawa Realme kembali ke dalam ekosistemnya sebagai sub-brand resmi. Tujuannya jelas: memperkuat kolaborasi antar tim dan menyederhanakan penggunaan sumber daya internal. Dalam struktur yang direvisi, Oppo akan beroperasi sebagai brand utama, dengan OnePlus dan Realme diposisikan sebagai dua sub-brand pelengkap yang masing-masing menjalankan strategi pasar yang berbeda.
Ini adalah klarifikasi penting dari hubungan yang selama ini mungkin tampak samar bagi konsumen. Realme, yang awalnya merupakan sub-brand dari Oppo sebelum merdeka, kini secara resmi kembali ke pangkuan. Sementara OnePlus, yang telah lama berbagi teknologi dan sumber daya dengan Oppo, mendapatkan posisi yang lebih terdefinisi dalam keluarga besar ini. Langkah ini mirip dengan strategi konsolidasi yang dilakukan banyak konglomerat teknologi untuk menciptakan efisiensi dan kekuatan yang lebih besar.

Pembagian Peran Kepemimpinan yang Lebih Jelas
Restrukturisasi tidak hanya tentang brand, tetapi juga tentang orang-orang di belakangnya. Oppo telah memperjelas peran kepemimpinan dalam konfigurasi baru ini. Sky Li, founder dan CEO Realme, akan bertanggung jawab mengawasi operasi keseluruhan sub-brand Realme. Sementara itu, Li Jie akan terus memimpin OnePlus di China tanpa perubahan tanggung jawab.
Pembagian peran yang lebih terang benderang ini, menurut Oppo, akan membantu menghindari tumpang tindih (overlap) dan meningkatkan eksekusi di semua brand. Bayangkan jika dua tim marketing dari brand yang bersaudara justru saling bersaing untuk segmen yang sama—itu pemborosan sumber daya yang fatal. Dengan struktur yang jelas, setiap brand diharapkan dapat berlari lebih cepat di jalurnya masing-masing tanpa saling menghalangi.
Baca Juga:
Integrasi Jaringan After-Sales: Keuntungan Nyata bagi Pengguna
Di antara semua perubahan struktural, mungkin inilah kabar paling menggembirakan bagi konsumen, terutama pengguna Realme. Sebagai bagian dari transisi ini, Realme akan terhubung penuh dengan jaringan layanan purna jual (after-sales) Oppo. Apa artinya? Jangkauan layanan yang lebih luas dan konsistensi yang lebih baik untuk pengguna.
Sebelumnya, meski secara teknologi berhubungan, akses ke service center mungkin berbeda. Kini, pengguna Realme di berbagai kota, terutama di pasar-pasar kunci, dapat mengharapkan dukungan teknis dari jaringan Oppo yang sudah mapan. Ini adalah nilai tambah konkret yang langsung menyentuh pengalaman pengguna, meningkatkan kepercayaan terhadap brand Realme. Dalam industri yang kompetitif, after-sales service yang solid seringkali menjadi pembeda yang menentukan loyalitas konsumen.
Roadmap Produk Tetap Jalan, Realme Neo 8 Segera Meluncur
Lalu, apakah perubahan besar ini akan mengganggu rencana produk yang sudah disusun? Jawabannya adalah tidak. Oppo menegaskan bahwa pergeseran organisasi ini tidak memengaruhi perencanaan produk Realme. Perangkat baru akan terus tiba sesuai jadwal, dan posisi brand di pasar akan tetap sama.
Bahkan, menurut laporan DCS, roadmap peluncuran Realme berjalan tanpa penundaan. Brand tersebut dikabarkan akan segera meluncurkan Realme Neo 8 di China bulan ini. Ini adalah sinyal kuat bahwa restrukturisasi ini lebih tentang efisiensi back-end dan strategi jangka panjang, bukan gangguan operasional jangka pendek. Realme diharapkan tetap agresif dengan produk-produk “flagship killer”-nya, sementara OnePlus konsentrasi pada segmen premium, dan Oppo sebagai induk mengokohkan posisi di berbagai segmen. Persaingan ketat seperti duel Vivo X300 Pro vs Oppo Find X9 Pro menunjukkan bahwa pasar flagship tetap panas, dan setiap brand perlu strategi yang jitu.
Restrukturisasi internal seperti ini adalah cermin dari dinamika industri teknologi yang bergerak cepat. Tekanan untuk berinovasi, mengontrol biaya, dan memenuhi harapan konsumen memaksa perusahaan untuk terus mengevaluasi struktur terbaik mereka. Seperti upaya Indosat yang menjawab kebutuhan talenta AI melalui program pelatihan, langkah strategis jangka panjang seringkali dimulai dari penataan internal. Bagi Oppo, menyatukan OnePlus dan Realme di bawah payung yang lebih terintegrasi bukan sekadar perubahan organisasi. Ini adalah persiapan untuk pertempuran yang lebih besar di pasar smartphone global, di mana efisiensi, kejelasan brand, dan kekuatan kolektif akan menjadi senjata utama. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah langkah ini akan membuat mereka “auto upgrade” dan menguasai pasar, atau justru menghadapi tantangan baru dalam mengelola tiga brand berbeda dalam satu rumah.

