Merangkul Generasi Digital dengan Broadband

Telset.id, Jakarta – Dalam pembukaan Konferensi Internasional Pelajar Indonesia 2016 oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia pada bulan April lalu, Duta Besar Indonesia untuk Australia, Nadjib Kesoema mengatakan, bahwa Indonesia hari ini dan pada masa mendatang merupakan masyarakat digital dengan transformasi di berbagai sektor.

“Masyarakat digital (digital society) adalah realitas hidup di abad 21, dan Indonesia adalah contoh bagaimana komunitas digital mengubah banyak sektor dalam kehidupan,” kata Nadjib Kesoema di kampus Universitas Flinders, Adelaide, seperti dikutip dari Antara.

Ia menceritakan pengalamannya saat mengunjungi salah satu daerah terpencil di kawasan timur Indonesia, dan mendapati sudah banyak siswa SMA yang telah menggunakan ponsel Android dan sudah terkoneksi dengan jaringan Internet.

“Komunitas digital saat ini jauh lebih besar daripada transformasi di sektor perbankan, pendidikan, dan layanan pemerintah. Kita akan melihat Indonesia di masa yang akan datang sebagai masyarakat yang melek digital, dan penggerak utama dari proses ini adalah kelompok usia milenial,” ujarnya.

Indonesia sering disebut sebagai pasar potensial digital. Bagaimana tidak, dengan populasi yang mencapai 250 juta orang, tercatat ada 88 juta orang di antaranya aktif menggunakan Internet. Melambungnya jumlah pengguna Internet berbanding lurus dengan pengguna media sosial di Indonesia yang mencapai 79 juta orang. Jumlah itu dapat dipastikan akan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

Semakin bagusnya akses Internet, membuat pengguna semakin betah berselancar di dunia maya. Mengutip laporan dari We Are Social, setidaknya pengguna Internet di Indonesia menghabiskan rata-rata sekitar 4 jam 42 menit untuk mengakses Internet dalam sehari.

Teknologi digital sudah semakin lekat dengan aktivitas masyarakat, baik yang tinggal di perkotaan maupun di pedesaan. Dengan Internet, kini kita dapat melihat masyarakat di daerah terpencil sudah bisa mengakses layanan kesehatan online.

Manfaat juga dirasakan oleh para pelaku Usaha Kecil Menengah di daerah yang kini dapat memanfatkan Internet untuk mempromosikan dan menjual produk mereka ke pasar yang lebih luas, baik di kota-kota lain di Indonesia, maupun hingga ke luar negeri. Tentunya masih banyak lagi manfaat yang bisa dirasakan dengan kemajuan Internet.

Transformasi Digital

Telkomsel 4G Grapari 2
GraPARI Telkomsel dengan konsep digital (Foto: Dok. Telkomsel)

Transformasi digital sudah menjadi keniscayaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi broadband di Indonesia. Dan tak bisa dipungkiri, proses transformasi digital yang saat ini tengah berlangsung di Indonesia adalah merupakan “campur tangan” dari para operator telekomunikasi.

Dari sekian banyak operator di Indonesia, nama Telkomsel muncul sebagai “aktor utama” yang membawa Indonesia masuk ke era masyarakat digital. Sebagai pemimpin di industri seluler Tanah Air, Telkomsel pun bertransformasi dari Telecommunication Company menjadi Digital Company, dengan mencanangkan misi sebagai penyedia layanan mobile digital lifestyle kelas dunia.

Setelah mencanangkan diri sebagai Digital Company, Telkomsel langsung bergegas mengimplementasikan  teknologi seluler generasi terkini, memperkuat broadband dan akses Internet, serta akselerasi layanan digital dengan fokus mengembangkan ekosistem DNA alias Device, Network, Application.

Telkomsel menjadi operator yang paling ‘ngebut’ soal urusan menggelar jaringan selulernya. Sejak berdiri tahun 1995, anak usaha Telkom Grup ini secara konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi seluler, mulai dari 3G, HSDPA, HSPA+, serta menjadi yang pertama meluncurkan secara komersial layanan mobile 4G LTE di Indonesia.

Pembangunan infrastruktur jaringan semakin diperkuat penyebarannya hingga ke seluruh wilayah Indonesia. Secara nasional, Telkomsel saat ini telah membangun 118.000 base transceiver station (BTS), yang terdiri dari 50 ribu BTS 2G, 63 ribu BTS 3G, dan 5 ribu eNode B (4G) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sebagai operator yang pertama meluncurkan layanan mobile 4G LTE secara komersial di Indonesia, Telkomsel juga selangkah di depan dalam hal membangun jaringan broadband. Dari total 118.000 BTS yang dimiliki Telkomsel, sekitar 57% diantaranya merupakan BTS broadband (3G & 4G) yang menjangkau hingga 95% wilayah populasi penduduk Indonesia.

Pembangunan infrastruktur masih terus dikerjakan, dimana Telkomsel masih akan membangun 13 ribu BTS baru untuk memperluas cakupan jaringan 4G di tahun 2016. Saat ini, layanan 4G Telkomsel telah menjangkau lebih dari 100 kota kabupaten di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, kawasan Bali dan Nusa Tenggara, hingga Papua.

Tak hanya di kota-kota besar saja akses broadband Telkomsel bisa dinikmati, karena layanan 4G Telkomsel juga telah menjangkau berbagai kota di ujung timur Indonesia, seperti di Ternate, Palu, Raja Ampat, Sorong, hingga Merauke. Telkomsel memastikan bahwa setidaknya 80 persen dari kota tersebut bisa diselimuti jaringan 4G.

Semakin luasnya cakupan akses jaringan 4G Telkomsel berbanding lurus dengan jumlah penggunanya. Hingga saat ini, Telkomsel telah mengantongi total jumlah pengguna 4G sebanyak 6 juta pelanggan. Dan ditargetkan akan bertambah menjadi 12 juta pelanggan pada akhir tahun 2016.

Revolusi Digital

Telkomsel Grapari Digital Lifestyle
Pelanggan Telkomsel sedang menggunakan layanan digital di GraPARI Digital Lifestyle (Foto: Dok. Telkomsel)

Telkomsel memastikan ingin mempercepat proses “revolusi digital”, dan mengatakan akan membangun ekosistem digital yang lebih baik, serta ingin membuat industri seluler lebih bermanfaat.

Ketika bertransformasi menjadi Digital Company, Telkomsel terus mengedepankan kegunaan teknologi, khususnya mobile broadband dan layanan digital untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Intinya, Telkomsel ingin menawarkan berbagai solusi yang dapat meningkatkan produktivitas dan mendorong berbagai perubahan ekonomi, sosial, dan budaya di masyarakat.

Telkomsel menyiapkan berbagai layanan digital yang inovatif. Seperti misalnya layanan ‘Telkomsel Digital Lifestyle’ yang memiliki empat lini bisnis utama, yaitu Mobile News and Directory, Portal and Social Media, Digital Music, serta Mobile Games and Entertainment.

Operator nomor satu di Indonesia ini juga punya aplikasi mobile MyTelkomsel, yang disiapkan sebagai customer touch point digital. MyTelkomsel disebutkan menjadi salah satu wujud dari visi Telkomsel sebagai Digital Company, yaitu menjadikan breathe digital sebagai bagian dari gaya hidup pelanggan dan terdepan dalam menghadirkan digital engagement.

Dengan memanfaatkan aplikasi MyTelkomsel, pelanggan dapat dengan mudah mendapatkan apapun yang dibutuhkan, seperti isi ulang pulsa dan bayar tagihan kartuHalo, membeli paket Internet, dan masih banyak lagi.

Internet of Things

Telkomsel Jakarta Fair 2016
Pengunjung mencoba teknologi IoT di stand Telkomsel di Jakarta Fair 2016 (Foto: Dok. Telkomsel)

Dengan didukung infrastruktur broadband yang semakin maju, era Internet of Things kini sudah di depan mata. Secara singkat, Internet of Things atau yang biasa disebut IoT adalah terhubungnya berbagai perangkat – baik hardware maupun software – dalam satu jaringan Internet.

Bicara soal IoT, kini bukan hanya melulu soal smartphone atau komputer yang terhubung ke Internet. Perangkat yang terhubung di sini lebih luas lagi hingga ke home appliances, transportasi, dan bahkan korporasi. Bidang-bidang inilah yang mulai banyak menerapkan teknologi IoT.

Menurut laporan International Data Corporation (IDC), bahwa potensi pasar IoT di Asia Pasifik sangat besar. Pada 2015, jumlah perangkat yang terhubung dengan IoT di Asia Pasifik mencapai 3,1 miliar perangkat. IDC memprediksi jumlah tersebut akan bertambah menjadi 8,6 miliar perangkat pada 2020.

Pasar IoT yang semakin menggiurkan itu juga tak lepas dari pengamatan Telkomsel. Operator ‘pelat merah’ ini pun mulai merancang strategi untuk merengkuh potensi besar di pasar yang bakal menjadi tren di masa depan itu. Memiliki infrastruktur jaringan Internet super cepat di seluruh Indonesia, tentu menjadi amunisi ampuh untuk bersaing di ranah IoT.

Dengan kemampuan tersebut, Telkomsel akan lebih dapat memonetisasi beragam layanan di luar basic service mereka. Salah satu bisnis IoT yang kini gencar dikembangkan Telkomsel adalah layanan M2M (machine to machine), yang digadang-gadang akan menjadi “ladang baru” para operator.

T-Bike, Asisten Pengendara Cerdas

T-Bike, asisten pintar pengendara
Seorang mekanik motor sedang memasang T-Bike, asisten pintar pengendara dari Telkomsel (Foto: Dok. Telkomsel)

Telkomsel memiliki layanan M2M yang mereka namakan T-Bike, yakni sebuah asisten pengendara cerdas. Dengan aplikasi yang telah ditanamkan pada kartu SIM khusus, pemilik kendaraan bermotor bisa memandu lokasi, memonitor, dan mengendalikan akses mesin sepeda motor dari aplikasi di ponsel Android dan iOS.

Dengan didukung sistem GPS yang canggih, T-Bike juga mampu mendukung operasional dan pengelolaan armada secara real time (tracking & fleet management), efisien, pelaporan detail perjalanan, pembatasan wilayah operasional (geofencing) dan pembatasan kecepatan (speed limit).

Tak hanya membidik pasar ritel, T-Bike juga merambah pelanggan korporasi (fleet). Beberapa perusahaan ternama yang digandeng Telkomsel untuk penggunaan layanan ini antara lain armada layanan pesan antar KFC, Berrybenka, Wingstop, Carl’s Jr, Bakmi GM, Domino Pizza, Hoka-Hoka Bento, dan McDonald’s.

TCash untuk Gerakan Nasional Non Tunai

Telkomsel TCash BTPN Wow 5
Pelanggan Telkomsel sedang mencoba layanan TCash (Foto: Dok. Telkomsel)

Telkomsel telah menegaskan bahwa akan terus mengembangkan berbagai solusi yang dapat meningkatkan produktivitas dan mendorong berbagai perubahan ekonomi, sosial, dan budaya di masyarakat. Salah satu layanan yang diklaim berdampak positif bagi masyarakat adalah layanan uang elektronik TCash.

Layanan ‘dompet elektronik’ ini memberikan kemudahan bertransaksi secara non-tunai bagi masyarakat yang belum terjamah layanan perbankan. Mengadopsi teknologi Near Field Communication (NFC), TCash bisa digunakan oleh semua pelanggan Telkomsel dengan berbagai jenis perangkat smartphone untuk melakukan pembayaran non-tunai.

Telkomsel memiliki modal awal yang bagus untuk mengembangkan mobile financial service di Indonesia. Karena melihat tingginya penetrasi seluler yang mencapai 130% dari total populasi di Indonesia, dan masih banyaknya masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan (unbanked).

Yang patut diacungi jempol dari Telkomsel adalah, karena mereka tidak hanya menyasar pengguna di kota-kota besar, tapi juga coba membawa layanan mobile payment-nya ini ke daerah pelosok yang belum terjamah layanan perbankan. TCash bahkan ikut aktif mendukung pemerintah dalam percepatan keuangan inklusif (financial inclusion) dan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) melalui teknologi informasi.

Bersama Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), TCash telah diuji coba sebagai alternatif solusi mekanisme penyaluran non-tunai bantuan pangan dan sosial di Jakarta, Solo, Medan dan Bogor, dengan total penerima bantuan sebanyak 1.500. Uji coba tersebut sebagai persiapan implementasi penyaluran non-tunai bantuan pangan dan sosial tahun 2017 kepada 15 juta penerima manfaat.

Selain itu, untuk mengembangkan cash-less ecosystem, Telkomsel juga menggandeng sejumlah komunitas, seperti dengan komunitas Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU), Perempuan Nusantara (Penara), dan Daarut Tauhid. Ke depannya, TCash akan dikembangkan di 3.000 pesantren, dan berbagai komunitas petani dan ekonomi menengah ke bawah lain yang belum terjangkau layanan keuangan formal.

Lanjut ke #BikinKerenIndonesia

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -