Indonesia Butuh Ahli Coder dan Ahli Big Data Analysis

Telset.id, Jakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan Indonesia membutuhkan banyak sumber daya manusia (SDM) untuk nantinya menjadi ahli coder dan ahli big data analysis.

Oleh karena itu, dia mengajak semua pemangku kepentingan untuk memetakan kebutuhan tersebut dan saling berkolaborasi meningkatkan kompetensi bagi generasi muda.

“Selain coder, kami butuh juga ahli big data analysis. Kami perlu menghitung berapa ahli big data analysis yang dimiliki dan butuhkan,” kata Menkominfo di acara FGD Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), di Jakarta, Jumat (06/07/2018).

Menurutnya, dua keahlian di bidang teknologi digital itu dibutuhkan agar memastikan Indonesia tidak tertinggal dengan negara lain dalam hal pemanfaatan teknologi informasi.

Karenanya, Rudiantara pun berharap kepada sektor pendidikan agar turut memberikan kontribusi dengan memberikan materi terkait teknologi informasi sejak dini.

Dia pun mencontohkan Singapura, yang sudah mengajarkan coding untuk generasi mudanya, bahkan sejak dari sekolah tingkat terendah.

“Kami memerlukan SDM yang mengetahui coding, bahkan di Singapura, coding sudah diajarkan sejak dari TK,” ungkapnya.

Rudiantara juga memberikan contoh saat dirinya bersama sejumlah pihak membuat sekolah rumah khusus coding alias homeschooling coding.

“Kita tidak boleh hanya andalkan pendidikan formal. Saat ini kita mempunyai peta okupasi kompetensi, tapi so what? Saya tidak sabaran jadi saya membuat homeschooling coding,” tandasnya.

Lebih lanjut, Rudiantara menjelaskan jika homeschooling coding itu memiliki siswa yang sebagian besar berusia 15 tahun. Dengan demikian, saat anak berumur 18 tahun, mereka sudah siap untuk menjadi seorang coder.

Untuk materinya, sekolah tersebut juga telah menggunakan kurikulum yang diambil dari Google Ambassador Indonesia. Sedangkan untuk magang dan mengasah kemampuannya secara langsung, para siswa sekolah bisa bergabung di kantor Go-Jek.

“Ini perlu kerja keroyokan jangan bergantung pada hal formal. Kami keluar dari pakem, aturan diubah. Jangan ubah target tapi ubah cara berpikirnya, tidak perlu out of the box tapi no box,” pungkas pria yang kerap disapa Chief RA ini. (WS/FHP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here